Sigap Hadapi Bencana Letusan Volcano: Pembelajaran Dari Gunung Colo (2)
Oleh Sofyan Farid Lembah*
LETUSAN gunung Colo 40 tahun telah berlalu.Hanya saja Letusan itu sulit dilupakan begitu saja karena dahsyat dan cukup mengerikan melihat dua per tiga wilayah Pulau Una-una yang terbakar oleh erupsi ini. Pulau Una Una telah menjadi tempat berdiamnya gunung berapi ini sebelum akhirnya pulau terbentuk akibat letusan sebelumnya di tahun 1898.
Erupsi kali ini menjadi yang terakhir bagi Gunung Colo sepanjang catatan sejarah. Pada saat erupsi, suasana menjadi mencekam dengan pergolakan massa gas menyala dan suhu tinggi, serta adanya bagian-bagian padat yang memijar. Puncak dahsyatnya letusan terjadi ketika pulau ini pecah dan dihancurkan oleh apa yang disebut “nuee ardente” atau awan panas. Abu dan semburan awan setinggi 15.000 meter bahkan mencapai Pulau Laut, yang terletak sekitar 900 km jauhnya di sebelah tenggara Kalimantan.
Dampak dari letusan ini sangat mengerikan, dengan 90 persen sisa pulau Una-una tertutupi abu setebal 2-6 meter. Seluruh rumah, tanaman, hewan, ikan karang, dan ikan-ikan dekat pantai musnah akibatnya, kecuali di sepanjang jalur sempit di bagian timur pulau. Beruntung, semua penduduk yang berjumlah sekitar 7.000 jiwa berhasil dievakuasi dari pulau tepat pada waktunya berkat perintah dari ahli geologi, rofesor John Ario Katili, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Jenderal Pertambangan UmumP, Departemen Pertambangan.
“Suatu prestasi yang mengagumkan,” demikian diungkapkan oleh Anthony J. Whitten, Muslimini Mustapa, dan Gregory S. Henderson dalam buku mereka berjudul “Ekologi Sulawesi,” yang diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press pada tahun 1987. Dalam buku tersebut, letusan Gunung Colo di Pulau Una-una menjadi bab pembuka yang menjelaskan latar belakang fisik, biologi, dan manusia di wilayah tersebut. Gunungapi Colo, selain meletus pada tahun 1983, juga tercatat pernah meletus sekali sebelumnya pada tahun 1898. Letusan ini diketahui memuntahkan abu sebanyak 2,2 km3 yang menutupi areal seluas 303.000 km2, bahkan jaraknya mencapai hingga 800 km ke batas antara Serawak dan Kalimantan Timur.
Sebelum terjadi letusan dahsyat pada 23 Juli 1983, beberapa hari sebelumnya, sejumlah besar gempa bumi sampai 100 kali sehari mengguncang Pulau Una-una. Pada 18 Juli 1983, juga terjadi semburan air tanah yang besar akibat air yang terperangkap di bawah gunung api yang panas dan kemudian meledak menjadi uap bertekanan tinggi, menyebabkan reruntuhan batuan setinggi 500 meter. Letusan magma pertama kemudian terjadi pada pagi hari tanggal 23 Juli 1983, menyemburkan jambul abu dan bahan lain setinggi 1000 meter ke udara.
Pembelajarannya disini adalah ada ahli geologi mengenali tanda-tanda bahaya, kemudian pemerintah mengambil keputusan evakuasi, dan tindakan itu menyelamatkan ribuan hingga puluhan ribu jiwa.Beberapa peristiwa letusan gunung api di dunia menunjukkan pola yang sangat mirip dengan Gunung Colo: Ada contoh menaik untuk dibandingkan antara lain meletusnya Gunung Pinatubo 1991 di Filipina dan Gunung Merapi 2010 di Indonesia.
1. Gunung Pinatubo, Filipina — salah satu contoh terbaik di dunia
Letusan Pinatubo pada 15 Juni 1991 sangat dahsyat. Sebelum letusan, kawasan di sekitarnya dihuni sekitar 1 juta orang. Para ilmuwan dari Philippine Institute of Volcanology and Seismology (PHIVOLCS) dan United States Geological Survey (USGS) atau Badan Survei Geologi Amerika Serikat kemudian memberikan peringatan yang memungkinkan pemerintah melakukan evakuasi besar-besaran.
Hasilnya luar biasa:
- Lebih dari 75.000 orang berhasil dievakuasi sebelum letusan klimaks.
- USGS memperkirakan setidaknya 5.000 jiwa terselamatkan, bahkan beberapa kajian memperkirakan 5.000–20.000 jiwa.
- Sekitar 20.000 masyarakat Aeta yang tinggal di lereng gunung hampir seluruhnya berhasil dievakuasi; Sumber USGS menyebut hanya sekitar 20 orang yang tidak selamat dari kelompok tersebut. Padahal letusannya menghasilkan awan panas, abu dalam jumlah sangat besar, dan lahar yang kemudian menghancurkan wilayah luas.
USGS bahkan menggambarkan Pinatubo sebagai contoh bagaimana ilmukebumian, peringatan dini, dan tindakan pemerintah dapat mengubah potensi bencana besar menjadi korban yang jauh lebih rendah. Jadi, Pinatubo sangat layak dibandingkan dengan kisah Prof. John Katili dan Gunung Colo.
2. Gunung Merapi 2010, Indonesia — bahkan lebih dekat dengan konteks Colo
Ini juga sangat menarik karena terjadi di Indonesia. Pada 2010, Merapi mengalami letusan terbesar dalam lebih dari 100 tahun. Para ahli dari Badan Geologi/CVGHM mengenali peningkatan gempa, emisi gas, dan perubahan tubuh gunung.
Awalnya zona evakuasi ditetapkan 10 km, kemudian diperluas menjadi 20 km ketika data menunjukkan potensi letusan yang lebih besar. Beberapa jam setelah perluasan tersebut, Merapi menghasilkan awan panas yang mencapai sekitar 15 km dari puncak. Volcano Hazards Program USGS memperkirakan keputusan memperluas zona evakuasi tersebut menyelamatkan sekitar 10.000–20.000 jiwa. Secara keseluruhan, hampir 350.000 orang dievakuasi. Meskipun tetap terdapat 341 korban jiwa, USGS menilai jumlah korban akan jauh lebih besar tanpa peringatan ilmiah dan evakuasi besar-besaran. .
3. Jadi, bagaimana posisi Gunung Colo dalam sejarah dunia?
Colo memang memiliki pola yang sama dengan dua contoh tersebut, terutama dalam hal: Peristiwa, tindakan ahli, evakuasi dan dampak penyelamatan maka hal yang membuat Pinatubo sangat penting adalah bahwa USGS secara eksplisit menyebut keberhasilan prediksi dan evakuasi itu sebagai salah satu contoh keberhasilan mitigasi bencana gunung api. Tetapi ada satu hal yang menarik tentang Prof. John Katili. Kalau angka lebih dari 7.000 penduduk Una-Una dan kronologi sebagaimana dikutip dari buku Ekologi Sulawesi, maka kisah Katili cukup menarik untuk ditempatkan dalam sejarah internasional mitigasi gunung api. Bukan karena jumlah yang diselamatkan paling besar—Pinatubo dan Merapi jelas lebih besar—melainkan karena seorang ahli geologi mengambil keputusan evakuasi sebelum letusan dan keputusan tersebut terbukti benar. Dengan kata lain, ada pola yang sangat kuat: antara Katili–Colo → Pinatubo → Merapi
Ketiganya menunjukkan prinsip yang sama: keberhasilan terbesar dalam penanganan bencana gunung api bukanlah kemampuan menghadapi letusan setelah terjadi, tetapi kemampuan ilmuwan membaca tanda-tanda sebelum letusan dan membuat masyarakat meninggalkan zona bahaya tepat waktu.
Bagaimana ilmuwan di universitas Tadulako? Hari ini kita telah berada dalam masa uji coba dari kehidupan di “Ring of Fire”. Bangunlah dan tuliskan pengetahuan saudara untuk memberi pencerahan kepada masyarakat Sulawesi Tengah khususnya membangun kesadaran “sense of crisis” bagi para penguasa di Sulawesi Tengah,
Secangkir kopi pahit, di Silae-Palu, 9 September 2026
*) Haji Sofyan Farid Lembah, Pekerja Sosial
Apa Reaksimu?

