Founder Hannah Asa Indonesia: Masyarakat Menghadapi Tiga Tantangan Ekonomi

Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah mengatakan, tantangan ekonomi saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya pendapatan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan keuangan yang tepat.

Agustus 2, 2026 - 06:30
Founder Hannah Asa Indonesia: Masyarakat Menghadapi Tiga Tantangan Ekonomi
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah. (Foto: Ist)

PALU, METROSULAWESI.NET - Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah mengatakan, tantangan ekonomi saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya pendapatan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan keuangan yang tepat. 

"Ketahanan finansial tidak ditentukan oleh seberapa besar penghasilan yang kita miliki, tetapi oleh seberapa bijak kita mengelola setiap keputusan keuangan sehari-hari," kata Mardiyah saat memberikan materi literasi keuangan pada acara diskusi yang dilaksanakan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua) bersama Hannah Asa Indonesia di Kota Palu, Senin 27 Juli 2026. 

Mardiyah memaparkan, ada tiga tantangan utama yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini. Pertama, meningkatnya biaya hidup yang menuntut masyarakat semakin cermat dalam mengatur pengeluaran dan menentukan prioritas keuangan. 

Kedua, masih adanya kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan. “Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan oleh OJK dan BPS, tingkat literasi keuangan Indonesia mencapai 66,46%, sedangkan tingkat inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen,” katanya. 

Data tersebut kata Mardiyah, menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat menggunakan produk dan layanan keuangan, namun belum seluruhnya memahami cara mengelolanya secara bijak. 

Ketiga, masih rendahnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat akibat belum optimalnya kepemilikan dana darurat dan perencanaan keuangan jangka panjang. 

Menurut Mardiyah, ketiga tantangan tersebut menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak lagi dapat dipandang sebagai pengetahuan tambahan, melainkan telah menjadi kebutuhan dasar bagi setiap keluarga Indonesia. 

Dalam kesempatan tersebut, Mardiyah juga mengajak peserta merefleksikan pengalaman triple disaster Sulawesi Tengah pada 28 September tahun 2018 sebagai pelajaran penting mengenai arti ketahanan finansial. 

Menurutnya, bencana tidak hanya menguji kesiapan fisik dan infrastruktur, tetapi juga kesiapan ekonomi setiap keluarga. 

"Kita hidup di wilayah Sesar Palu-Koro yang memiliki risiko bencana. Pengalaman tahun 2018 mengajarkan bahwa dana darurat, perencanaan keuangan, dan perlindungan finansial bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Ketahanan keluarga dibangun jauh sebelum bencana terjadi, melalui keputusan-keputusan finansial yang kita ambil setiap hari," jelasnya. 

Sebagai bagian dari materi seminar, Hannah Asa Indonesia memperkenalkan HANNAH Financial Resilience Framework, sebuah kerangka sederhana yang dikembangkan untuk membantu masyarakat membangun ketahanan finansial secara berkelanjutan melalui enam langkah utama

Keenam langkah yang dimaksud yakni: Have Financial Awareness – mengenali kondisi keuangan; Allocate Wisely – mengalokasikan keuangan sesuai prioritas; Nurture Healthy Financial Habits – membangun kebiasaan keuangan yang sehat; Navigate Financial Risks – mengelola berbagai risiko keuangan; Accelerate Financial Growth – meningkatkan kapasitas, pendapatan, dan asset; Help Others Grow – membagikan literasi keuangan kepada keluarga, komunitas, dan masyarakat. 

Menurut Mardiyah, literasi keuangan tidak berhenti pada kemampuan mengelola uang, tetapi harus mampu mengubah perilaku, memperkuat ketahanan keluarga, dan menciptakan dampak sosial yang lebih luas.

Di akhir pemaparannya, Mardiyah mengajak sejumlah pihak untuk berkolaborasi. Menurutnya, membangun masyarakat yang tangguh tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan memerlukan kolaborasi antara regulator, media, dunia pendidikan, lembaga keuangan, organisasi masyarakat, dan komunitas. 

"Indonesia yang tangguh dimulai dari keluarga yang tangguh. Keluarga yang tangguh dimulai dari individu yang mengambil keputusan finansial dengan bijak setiap hari. Dan perubahan besar selalu lahir dari kolaborasi," pungkarnya. 

Reporter: Udin Salim 

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow