Hasil Riset LKPES Sulawesi Tengah: KDM Pimpin Indeks Sinyal Potensi Menuju 2029
Lembaga Kajian Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial (LKPES) Sulawesi Tengah melakukan riset tentang Indeks Sinyal Potensi 2029 atau ISP-2029 terhadap sejumlah tokoh nasional Indonesia.
PALU, METROSULAWESI.NET - Lembaga Kajian Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial (LKPES) Sulawesi Tengah melakukan riset tentang Indeks Sinyal Potensi 2029 atau ISP-2029 terhadap sejumlah tokoh nasional Indonesia.
Hasil riset yang dipublis Jumat (31/7/2026) menempatkan Dedi Mulyadi atau dikenal dengan Kang Dedi Mulyadi (KDM) pada peringkat pertama Indeks Sinyal Potensi 2029 atau ISP-2029.
"Hasil riset menunjukkan Dedi Mulyadi sedang memiliki momentum paling kuat di antara tujuh figur yang dianalisis," kata Direktur LKPES Sulawesi Tengah Salihudin SE. M.HI.
Dalam indeks yang disusun LKPES Sulawesi Tengah tersebut, KDM memperoleh 83,5 poin, disusul Prabowo Subianto 44,9 poin, dan Anies Baswedan 37,4 poin.
Pada posisi berikutnya terdapat Gibran Rakabuming Raka dengan 30,3 poin, Ganjar Pranowo 29,0 poin, Agus Harimurti Yudhoyono 23,8 poin, dan Mahfud MD 17,2 poin.
Salihudin menjelaskan, ISP-2029 merupakan angka hasil pengolahan LKPES yang menggabungkan 60 persen skor survei paling mutakhir dan 40 persen indikator kekuatan digital.
Indikator digital mencakup jangkauan akun, tingkat keterlibatan, dan pertumbuhan pengikut Instagram pada Juli 2026.
Temuan LKPES menunjukkan bahwa Dedi Mulyadi mempunyai kombinasi paling kuat antara momentum survei terbaru, pertumbuhan pengikut, dan pola komunikasi yang menampilkan tindakan langsung.
"Namun, nilai 83,5 itu bukan berarti elektabilitas Dedi sebesar 83,5 persen. Angka tersebut merupakan poin indeks internal LKPES,” kata Salihudin.
Riset LKPES menemukan bahwa Dedi Mulyadi, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan memiliki sumber kekuatan yang berbeda.
Dedi Mulyadi menonjol karena momentum elektoral terbaru dan pertumbuhan digitalnya. Komunikasi publik Dedi banyak memperlihatkan tindakan langsung, transparansi anggaran, pendidikan, infrastruktur, lingkungan, dan penyelesaian masalah di lapangan. Gaya tersebut membuat masyarakat lebih mudah menghubungkan sosok Dedi dengan bukti kerja yang konkret.
Prabowo Subianto mempunyai kekuatan pada jangkauan digital dan rekam dukungan lintas waktu. Dengan sekitar 14,72 juta pengikut Instagram, Prabowo memiliki jangkauan terbesar di antara tujuh figur yang diteliti. Kedudukannya sebagai Presiden juga memberinya ruang komunikasi yang sangat luas melalui agenda kenegaraan, diplomasi, ekonomi, dan hubungan internasional.
Namun, posisi sebagai kepala pemerintahan sekaligus membuat Prabowo berhadapan langsung dengan penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, penegakan hukum, program prioritas, dan stabilitas nasional. Karena itu, perubahan tingkat kepuasan terhadap pemerintah dapat berpengaruh langsung terhadap potensinya menuju 2029.
Sementara itu, Anies Baswedan menunjukkan basis dukungan yang relatif stabil dan tingkat keterlibatan digital yang tinggi. Narasi Anies banyak berkaitan dengan pendidikan, gagasan publik, diaspora, ruang diskusi, dan jaringan relawan. Tantangannya adalah mengubah aktivitas basis digital tersebut menjadi dukungan yang lebih luas di luar kelompok perkotaan dan pengguna aktif media sosial.
“Dedi saat ini kuat pada momentum, Prabowo kuat pada jangkauan dan rekam historis, sedangkan Anies kuat pada stabilitas basis dan keterlibatan pendukung. Ketiganya memiliki modal yang berbeda, tetapi juga menghadapi tantangan yang berbeda,” jelas Salihudin.
Reporter: Syahril Hantono
Apa Reaksimu?

