Kanada vs Maroko: Singa Atlas Lebih Teruji

Mengimbangi Brasil dalam fase grup dan memaksa Belanda memainkan adu penalti pada babak 32 besar, menunjukkan Maroko lebih teruji dari pada Kanada.

Juli 4, 2026 - 09:06
Kanada vs Maroko: Singa Atlas Lebih Teruji
Grafik ilustrasi pertandingan Kanada melawan Maroko pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Stadion NRG, Houston, Texas, Amerika Serikat, Sabtu (4/7/2026) waktu setempat. ANTARA INFOGRAFIK/Vintan Rahmadanti

JAKARTA, METROSULAWESI.NET- Mengimbangi Brasil dalam fase grup dan memaksa Belanda memainkan adu penalti pada babak 32 besar, menunjukkan Maroko lebih teruji dari pada Kanada.

Oleh karena itu, laga 16 besar pertama Piala Dunia 2026 yang digelar pada Minggu (5/7) pukul 00.WIB di Houston Stadium, Amerika Serikat ini sangat mungkin menjadi milik Maroko.

Kanada belum teruji benar dalam turnamen yang turut mereka tuanrumahi ini walau tampil spektakuler sampai membuat sejarah lolos ke fase gugur Piala Dunia pertamanya setelah gagal pada 1986 dan 2022.

Sedangkan bagi Singa Atlas, fase gugur 2026 adalah yang ketiganya setelah 1986 dan 2022, bahkan empat tahun lalu menjadi semifinalis.

Piala Dunia 2026 merupakan Piala Dunia yang kedelapan bagi Maroko. Bagi Kanada, ini adalah yang ketiga.

Dalam perjalanan membuka jalan ke babak 16 besar ini, Maroko tak pernah kalah, sedangkan Kanada sekali kalah dari Swiss pada fase grup.

Maroko selalu menang dari tim-tim peringkat di bawahnya, sedangkan Kanada ditahan seri Bosnia Herzegovina yang berperingkat di bawah mereka.

Tapi sukses besar menahan seri Brasil dan mengajak Belanda adu penalti yang kemudian mereka menangkan pada babak 32 besar, menunjukkan Maroko lebih kuat ketimbang Kanada.

Singa Atlas juga mendikte tiga dari empat pertandingan pertamanya, termasuk saat menyingkirkan Oranje pada babak 32 besar itu.

Sedangkan saat melawan Brasil pada fase grup, Maroko mengungguli tim Samba dalam penciptaan peluang gol; 13 peluang melawan 8.

Singa Atlas juga memiliki rata-rata penguasaan bola 55 persen sehingga berada di urutan ke-9 dari 48 tim, sedangkan Kanada di urutan ke-20 dengan 49 persen.

Tapi Kanada lebih produktif dari aspek jumlah gol, total peluang, dan tingkat probabilitas gol atau xG.

Tim asuhan Jesse Marsch ini membuat total 9 gol, 71 peluang yang 29 di antaranya tepat sasaran, dan xG 8,33 atau kelima teratas di antara 48 tim.

Dalam aspek yang sama, Maroko membuat 7 gol, 50 peluang yang 21 di antaranya on target, dan xG 5,55 atau urutan ke-15.


Nyaris sempurna

Maroko mendapatkan semua angka itu setelah menghadapi Brasil yang berperingkat 5 dan Belanda yang berperingkat 8. Sedangkan tim berperingkat tertinggi yang dihadapi Kanada adalah Swiss yang berperingkat 15 dan ini pun mengalahkan mereka.

Yang istimewa dari Maroko sampai Belanda dan Brasil pun keteteran menghadapinya adalah dominasi nyaris sempurnanya di semua lini lapangan. Mereka juga menggigit di semua bagian tubuh permainan lawan.

Pemain-pemain Maroko adalah para petarung yang disiplin beroperasi di area-area aslinya, yang ketika harus overlapping selalu melakukannya dengan sinkronisasi yang tinggi.

Bayangkan, Belanda yang penganut berat sepak bola menyerang saja dibuat tersudut sampai hanya bisa menguasai 30 persen distribusi bola.

Pressing mereka tidak saja saat menyerang, tapi juga saat menghalau serangan lawan.

Maroko adalah tim terkuat setelah Paraguay dalam melakukan pressing saat keadaan defensif.

Jika Paraguay melakukannya 275 kali, maka Maroko melakukannya 218 kali. Pada aspek ini, Kanada melakukan 171 sentuhan atau peringkat ke-13 di antara 48 tim.

Akibat tekanan sekuat itu, pemain-pemain lawan kesulitan menciptakan peluang di depan gawang Maroko.

Belanda yang dikarunia para pemain haus gol saja hanya bisa membuat 7 peluang yang 3 di antaranya on target. Angka-angka ini hampir separuh dari yang dibuat Maroko yang mengkreasi 6 peluang on target.

Ini pekerjaan rumah yang sangat berat bagi Marsch dan timnya, yang sejauh ini menciptakan peluang gol terbanyak keenam setelah Belgia, Spanyol, Inggris, Jerman, dan Prancis.

The Canucks sudah membuat 71 peluang yang 29 di antaranya tepat sasaran, sedangkan Maroko membuat 50 peluang yang 21 di antaranya on target.

Jonathan David dan rekan-rekannya juga sangat agresif dalam memasuki sepertiga terakhirnya, yang lebih sering dilakukan dengan memanfaatkan lebar lapangan, sekitar 62 persen dari total sentuhan.

Proporsinya pun seimbang, yang menunjukkan kedua sayap permainan Kanada sama agresifnya. Artinya, tautan Alistair Johnston-Tajon Buchanan di sayap kanan, sama menusuknya dengan kemitraan Richie Laryae-Liam Millar di kolom kiri permainan Kanada.

Jika Alphonso Davies aktif bermain, mungkin sayap kiri Kanada menjadi semakin aktif dan berbahaya.


Lini tengah lagi

Sayang, kapten Kanada itu tak bisa bermain kecuali sebagai pemain pengganti kala menaklukkan Afrika Selatan pada babak 32 besar, karena terus-terusan cedera.

Padahal para penikmat sepak bola membayangkan prospek adanya tontonan sengit antara sayap kiri serangan Kanada yang berelemenkan Alphonso Davies, melawan sayap kanan serangan Maroko yang berintikan kapten mereka, bek kanan Achraf Hakimi.

Hakimi bisa dibilang sebagai arsitek permainan menyerang Maroko.

Melepaskan total 13 peluang sampai babak 32 besar, Hakimi mengambil porsi 62 persen dari total percobaan gol Maroko dari empat laga sejauh ini.

Hakimi juga pemain Maroko terefektif dalam menuntaskan manuver lini ke lini walau frekuensinya masih di bawah bek kanan Alistair Johnston di Kanada. Hakimi 56 kali, Johnston 70 kali.

Tapi Hakimi memang pemain yang wajib dijinakkan oleh Kanada.

Masalahnya, kalaupun Hakimi  bisa dibendung, sistem permainan Maroko tak akan banyak terganggu karena kekuatan mereka terletak pada permainan kolektifnya yang kuat dan solid.

Fokus kepada Hakimi malah bisa membebaskan pemain-pemain Maroko lain untuk ganti membahayakan Kanada, termasuk striker Ismael Saibari yang sudah mencetak tiga gol. Dia juga pemain Maroko yang terbanyak melakukan pressing, yang bahkan melampaui catatan Jonathan David di Kanada yang juga sudah mencetak tiga gol; dengan perbandingan 171 melawan 169.

Yang juga harus dipertimbangkan Kanada adalah tangguhnya poros ganda permainan Singa Atlas yang dominan pada hampir semua laga.

Duet Neil El Ayanoui dan Ayyoub Boudaddi adalah mata rantai yang harus dilumpuhkan kuartet gelandang pimpinan Stephen Eustaquio di Kanada.

Eustaquio dan gelandang muda Ayyoub Boudaddi di Maroko adalah para pengatur tempo permainan yang mumpuni dan sulit dijinakkan lawan.

Tapi sekali lagi, gelandang-gelandang Maroko lebih teruji karena sudah diuji oleh gelandang-gelandang elite dunia seperti Casemiro di Brasil dan Frenkie de Jong di Belanda. Dan mereka tak kalah dari mereka.

Sebaliknya, Stephen Eustaquio cs belum pernah menghadapi ujian sekeras yang sudah diterima Maroko.

Karena faktor itu pula, Maroko, yang berperingkat 6 dunia dan baru enam bulan lalu menjuarai Piala Afrika serta empat tahun silam finis peringkat keempat dunia di Qatar, lebih diunggulkan memenangkan laga ini daripada Kanada yang berperingkat 30. (ant)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow