Data Terbaru, 7.96 Rumah dan 744 Fasilitas Umum Rusak Akibat Gempa di NTT
Kerusakan akibat gempa dengan magnitude 7,7 yang terjadi di Nusa Tenggara Timur merusak ribuan rumah. Data terbaru yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ada sebanyak 7.968 rumah warga mengalami kerusakan.
KUPANG, METROSULAWESI.NET- Kerusakan akibat gempa dengan magnitude 7,7 yang terjadi di Nusa Tenggara Timur merusak ribuan rumah. Data terbaru yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ada sebanyak 7.968 rumah warga mengalami kerusakan.
“Sampai dengan Senin kemarin jumlah rumah yang tercatat mengalami kerusakan ringan hingga berat mencapai 7.968 unit rumah,” kata Kepala BPBD NTT Mahadin Sibarani seperti dilansir dari Antara, Selasa 18 Agustus 2026.
Selain rumah warga, lanjutnya, tercatat 744 fasilitas umum (fasum) dan infrastruktur juga mengalami kerusakan akibat gempa.
Mahadin Sibarani mengatakan angka tersebut masih merupakan hasil pendataan sementara dan dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.
"Pendataan kerusakan masih terus dilakukan di kabupaten terdampak. Angka ini merupakan data yang sudah masuk dan diverifikasi sampai batas waktu pelaporan," ujarnya.
Berdasarkan laporan yang diterima kerusakan bangunan mengalami peningkatan signifikan dibandingkan laporan situasi sebelumnya pada 15 Agustus 2026.
Saat itu BPBD mencatat sebanyak 1.639 rumah rusak. Dalam dua hari jumlah tersebut meningkat menjadi 7.968 unit atau bertambah lebih dari empat kali lipat.
Selain rumah warga, kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas umum dan infrastruktur. Jumlah fasilitas umum dan infrastruktur yang terdampak meningkat dari 163 unit pada laporan sebelumnya menjadi 744 unit.
Mahadin mengatakan peningkatan jumlah kerusakan tidak terlepas dari proses pendataan yang semakin luas di wilayah terdampak, termasuk Kabupaten Manggarai, Ngada, Nagekeo, dan Sikka.
"Tim di lapangan terus melakukan pendataan dan verifikasi terhadap bangunan yang terdampak. Kami ingin memastikan data yang diperoleh benar-benar menggambarkan kondisi masyarakat di lapangan," ujarnya. (ant)
Apa Reaksimu?

