Kemendikdasmen Paparkan Penerapan ESD di Satuan Pendidikan
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memaparkan implementasi Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan atau Education for Sustainable Development (ESD) di sekolah guna menyiapkan generasi yang mampu menghadapi berbagai tantangan masa depan.
JAKARTA, METROSULAWESI.NET- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memaparkan implementasi Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan atau Education for Sustainable Development (ESD) di sekolah guna menyiapkan generasi yang mampu menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Kepala Badan Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan (BKPDM) Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan tantangan tersebut dapat berupa perubahan iklim, kerusakan lingkungan, hingga persoalan sosial yang semakin kompleks sehingga pendidikan tidak hanya berfokus pada peningkatan capaian akademik, namun juga membangun kesadaran, karakter, dan kemampuan murid untuk berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
“Di Indonesia, ESD tidak dipandang sebagai mata pelajaran baru, melainkan sebagai perspektif yang diintegrasikan ke dalam seluruh proses pembelajaran,” ujar Toni dalam pernyataan tertulis di Jakarta pada Kamis.
Ia melanjutkan perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan saja, tetapi juga isu pendidikan.
Karena itu, pendidikan harus membekali generasi muda dengan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan bertindak demi masa depan yang berkelanjutan.
Implementasi pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan telah dilakukan di berbagai daerah melalui pendekatan yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan murid.
Salah satu praktik baik datang dari Kabupaten Wakatobi yang memanfaatkan kekayaan alam daerah sebagai sumber belajar melalui keberadaan Cagar Biosfer UNESCO dan Taman Nasional Wakatobi.
Bupati Wakatobi Haliana menjelaskan peluncuran Paket Pembelajaran Wakatobiku menjadi langkah penting untuk menanamkan nilai-nilai konservasi kepada generasi muda sejak usia dini.
Paket pembelajaran tersebut dikembangkan melalui berbagai media interaktif, mulai dari buku cerita, permainan edukatif, hingga video animasi yang mengangkat kekayaan ekosistem terumbu karang, mangrove, serta kehidupan masyarakat pesisir.
Semangat pendidikan berkelanjutan juga tercermin dalam praktik yang dilakukan di berbagai sekolah.
Sementara Nining, guru SDN Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur menjelaskan sekolahnya telah menerapkan berbagai program kepedulian lingkungan, mulai dari pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, pengolahan sampah menjadi pupuk, ecoenzim, maggot, dan produk daur ulang, hingga pembentukan kader penggerak peduli lingkungan serta pendirian bank sampah sekolah.
Nining berpendapat program seperti Adiwiyata penting diterapkan bukan semata-mata untuk memperoleh penghargaan, melainkan untuk membangun budaya peduli lingkungan yang dimulai dari lingkungan terdekat para murid.
Murid jadi terbiasa memilah sampah sesuai jenisnya, lebih bijak dalam menggunakan air dan listrik, serta memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap lingkungan.
Di tingkat sekolah, volume sampah berkurang secara signifikan, penggunaan listrik dan air menjadi lebih efisien. (ant)
Apa Reaksimu?

