Menyambut Haul ke-58 Guru Tua: Kepribadian Unik Sekaligus Teladan, Tokoh Toleransi dan Pendidikan Islam di Indonesia Timur
Oleh: Mohsen Hasan AlHinduan, Mantan Dosen Fak Usuludin UNISA 1990 -2000
DALAM khazanah sejarah Islam Nusantara, terdapat sosok-sosok langka yang kehadirannya bukan sekadar memberi warna, tetapi membentuk arah peradaban. Di antara tokoh tersebut, nama Al-Habib Idrus bin Salim Aljufri, yang masyhur dengan sebutan Guru Tua, menjelma sebagai figur ulama, pendidik, sekaligus pejuang kemanusiaan yang memiliki kepribadian istimewa.
Dalam perspektif psikologi modern, sebagaimana diungkapkan oleh Gordon Allport, setiap manusia memiliki struktur kepribadian yang unik. Namun, pada diri Guru Tua, keunikan tersebut tidak hanya bersifat individual, melainkan bertransformasi menjadi energi sosial yang membangun umat.
Beliau dikenal sebagai sosok berkepribadian kuat, berprinsip teguh, dan tidak mudah terombang-ambing oleh arus zaman. Kepribadiannya mencerminkan perpaduan antara ketegasan (al-quwwah) dan kelembutan (ar-rahmah), antara keberanian moral dan ketulusan spiritual. Dalam dirinya, ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi jalan pengabdian kepada Allah SWT dan kemaslahatan umat.
Guru Tua tampil sebagai ulama kharismatik, orator ulung, serta pendidik visioner yang menjadikan akhlak sebagai fondasi utama. Ia mengedepankan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi, serta meyakini bahwa kebangkitan peradaban hanya dapat dicapai melalui tiga pilar utama: ilmu, iman, dan takwa.
GURU TUA DAN REVOLUSI PENDIDIKAN ISLAM
Jejak monumental beliau terukir melalui pendirian Perguruan Islam Alkhairaat di Palu, Sulawesi Tengah. Dari sebuah lembaga sederhana, Alkhairaat berkembang menjadi jaringan pendidikan yang luas, dengan ratusan cabang yang tersebar di kawasan Indonesia Timur.
Keistimewaan metodologi pendidikan Guru Tua terletak pada kesederhanaannya yang sarat makna. Ia tidak menekankan formalitas berlebihan, melainkan membangun karakter, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap ilmu. Dari tangan beliau lahir generasi ulama, dai, dan intelektual Muslim yang berkiprah di berbagai bidang.
Hubungan intelektual beliau juga menjangkau dunia internasional, termasuk dengan Universitas Al-Azhar, menunjukkan bahwa visi pendidikan beliau melampaui batas geografis dan bersifat universal.
PENGHARGAAN DAN PENGAKUAN NASIONAL
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa beliau, nama Guru Tua diabadikan menjadi nama bandara utama di Palu, yaitu Bandara Mutiara SIS Al-Jufri.
Selain itu, beliau juga dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana, sebuah tanda kehormatan tinggi negara yang menunjukkan pengakuan atas dedikasinya dalam bidang pendidikan dan kemanusiaan.
ULAMA MUDA, MUFTI, DAN PEJUANG ANTI-KOLONIAL
Pada usia yang sangat muda, sekitar 25 tahun, Guru Tua telah dipercaya menjadi mufti dan qadhi di Hadramaut. Amanah tersebut menunjukkan keluasan ilmu dan kedalaman wibawanya. Namun, kedudukan tinggi tidak membuatnya terikat pada kenyamanan dunia. Ketika menyaksikan ketidakadilan kolonial, ia memilih jalan perjuangan. Bahkan, ia rela meninggalkan jabatan demi menentang imperialisme Inggris—sebuah keputusan yang mencerminkan integritas dan keberanian moral.
Perjalanan hijrahnya ke Indonesia bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi transformasi misi: dari perjuangan politik menuju perjuangan peradaban melalui pendidikan.
SEPANJANG HIDUP: DAKWAH DAN PENDIDIKAN
Di berbagai wilayah Nusantara—Pekalongan, Solo, Jombang hingga Sulawesi—Guru Tua terus menebarkan cahaya ilmu. Di Jombang, beliau menjalin hubungan intelektual dengan Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, menunjukkan kuatnya jejaring ulama Nusantara dalam membangun pendidikan Islam. Akhirnya, beliau menetap di Palu dan menjadikan wilayah tersebut sebagai pusat pengembangan dakwah dan pendidikan. Dari sinilah Alkhairaat tumbuh menjadi kekuatan besar yang menyatukan umat melalui ilmu.
Salah satu aspek paling menonjol dari kepribadian Guru Tua adalah konsep tasamuh (toleransi) yang beliau implementasikan secara nyata.
Di lingkungan Alkhairaat, interaksi lintas agama telah berlangsung secara harmonis sejak masa beliau. Guru non-Muslim diberi ruang untuk mengajar, sementara siswa non-Muslim tetap mendapatkan hak pendidikan sesuai keyakinannya.
Konsep yang beliau bangun bukan sekadar slogan, melainkan praktik hidup: Islam yang adaptif, kontekstual, dan fungsional, tanpa kehilangan esensi tauhid.
PEJUANG TANPA LELAH
Perjalanan dakwah beliau penuh dengan pengorbanan. Menembus hutan, menyebrangi lautan, menggunakan sarana sederhana—semua dilalui dengan kesabaran dan keyakinan.
Beliau pernah mengungkapkan dalam syairnya: “Ketahuilah, apa yang aku lakukan hari ini, akan engkau pahami nilainya ketika aku telah tiada.” Bahkan dalam kondisi sakit, beliau tetap mengajar. Dedikasi total ini menunjukkan bahwa hidup beliau sepenuhnya diabdikan untuk ilmu dan umat.
Pada Senin, 12 Syawwal 1389 H (22 Desember 1969 M), Guru Tua kembali ke hadirat Allah SWT. Wafatnya bukan akhir, melainkan awal dari kehidupan abadi melalui warisan ilmu dan amal.
Sebagaimana sabda Nabi: من أحب لقاء الله أحب الله لقاء
“Barangsiapa yang mencintai perjumpaan dengan Allah, maka Allah mencintai perjumpaan dengannya.”
SERUAN ILMU DAN TAKWA
Syair beliau menjadi refleksi misi hidupnya: إلى العِلمِ أدعُو وَالتَّقَى كُلُّ مُسلِمٍ
Aku mengajak setiap Muslim kepada ilmu dan takwa فَدَاوُوا بِعِلمِ الدِّيْن جَهْلَ قُلُوبِكُم Obatilah kebodohan hati dengan ilmu agama
TELADAN UNTUK MASA DEPAN
Al-Habib Idrus bin Salim Aljufri bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi model peradaban: ulama yang berpikir global, bertindak lokal, dan berjiwa universal.
Warisan beliau adalah pengingat bahwa: ilmu tanpa akhlak akan kering, dan dakwah tanpa hikmah akan kehilangan makna.
Semoga kita termasuk golongan yang mampu meneladani perjuangan beliau dalam membangun umat dengan ilmu, hikmah, dan kasih sayang.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bersambung ....
Apa Reaksimu?
