Petani Milenial di Parigi Moutong Belajar Pisahkan Uang Pribadi dan Modal
Hasil panen yang melimpah tidak serta-merta menjamin keuntungan optimal bagi petani jika tidak diimbangi dengan manajemen keuangan yang matang. Menyadari hal tersebut, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Tengah bersama Hannah Asa Indonesia memperkuat literasi keuangan bagi generasi muda melalui monitoring dan evaluasi Program Berani Menjadi Petani Milenial di Desa Dolago, Kabupaten Parigi Moutong, Rabu (4/11/2026).
PARIGI MOUTONG, METROSULAWESI.NET — Hasil panen yang melimpah tidak serta-merta menjamin keuntungan optimal bagi petani jika tidak diimbangi dengan manajemen keuangan yang matang. Menyadari hal tersebut, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Tengah bersama Hannah Asa Indonesia memperkuat literasi keuangan bagi generasi muda melalui monitoring dan evaluasi Program Berani Menjadi Petani Milenial di Desa Dolago, Kabupaten Parigi Moutong, Rabu (4/11/2026).
Langkah ini diambil untuk memastikan program tidak sekadar mendorong keterlibatan fisik generasi muda di sektor agraris, melainkan mencetak pelaku usaha pertanian yang mandiri, terukur, dan berkelanjutan.
Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah, Moh. Saleh N.L., menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam membangun ekosistem pertanian modern.
“Program Petani Milenial harus dipandang sebagai upaya membangun ekosistem pertanian yang berkelanjutan, bukan sekadar mendorong generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian," ujar Moh. Saleh.
"Kita perlu memastikan petani milenial memiliki kapasitas, akses terhadap sarana produksi, permodalan, teknologi, serta jaringan pemasaran agar usaha yang dijalankan dapat tumbuh dan memberikan nilai ekonomi,” tambahnya.
Mengubah Pola Pikir Menjadi Pelaku Usaha
Dalam evaluasi tersebut, aspek pengelolaan modal menjadi sorotan utama. Pendiri Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menjelaskan bahwa keberhasilan pertanian tidak boleh hanya diukur dari besarnya volume penjualan atau hasil panen. Petani dituntut memiliki perspektif baru sebagai seorang pelaku usaha.
“Petani perlu memahami bahwa hasil penjualan tidak seluruhnya merupakan keuntungan. Ada biaya produksi, tenaga kerja, transportasi, dan kebutuhan modal untuk kegiatan berikutnya yang harus diperhitungkan. Ketika petani mampu memisahkan keuangan pribadi dan usaha, mencatat setiap transaksi, serta memahami arus kas, mereka akan memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan dan mengembangkan usahanya,” kata Mardiyah.
Hannah Asa Indonesia turut memetakan sejumlah kesalahan fatal yang kerap dialami petani tradisional, seperti mencampur uang pribadi dengan uang operasional, mengabaikan biaya tenaga kerja keluarga, hingga menghabiskan seluruh pendapatan sebelum menyisihkan modal untuk siklus tanam berikutnya.
Guna memberikan dampak konkret, para petani milenial dibekali kemampuan teknis oleh Junior Trainer Hannah Asa Indonesia, Abrarul Faiz Lubis. Mereka diajarkan mengklasifikasikan transaksi, memisahkan pos anggaran, serta menghitung Harga Pokok Produksi (HPP), margin laba, hingga modal kerja menggunakan data riil dari lahan mereka sendiri.
Abrarul menekankan bahwa era pertanian modern menuntut petani mengambil keputusan berdasarkan data, bukan lagi sekadar perkiraan kasar.
“Dengan mencatat arus kas, menghitung kebutuhan modal, mengenali risiko, serta menetapkan target pengembangan usaha, petani dapat mengambil keputusan yang lebih terukur. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan usaha yang lebih kuat,” pungkas Abrarul.
Melalui penguatan literasi ini, para petani milenial di Parigi Moutong diharapkan mampu memetakan biaya produksi per satu siklus secara objektif, menjaga stabilitas modal, serta memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi dinamika pasar pasar pertanian. (*)
Apa Reaksimu?

