Surplus yang Menjanjikan, Tantangan yang Menanti Sulawesi Tengah

Oleh: Dr. Yohan, S.E, M.Si*

Oktober 27, 2026 - 19:08
Surplus yang Menjanjikan, Tantangan yang Menanti Sulawesi Tengah
Dr. Yohan, S.E, M.Si, Akademisi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Universitas Tadulako. FOTO: DOK PRIBADI

SULAWESI Tengah kembali menunjukkan kinerja perdagangan luar negeri yang mengesankan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa pada Agustus 2026 nilai ekspor mencapai US$2,42 miliar, sementara impor tercatat sebesar US$1,32 miliar, sehingga menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar US$1,10 miliar (BPS Provinsi Sulawesi Tengah, Berita Resmi Statistik, 1 Oktober 2026). Angka ini menempatkan Sulawesi Tengah sebagai satu di antara sejumlah daerah dengan performa perdagangan luar negeri yang sangat kuat di Indonesia.

Di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi berbagai negara, capaian tersebut tentu patut diapresiasi. Surplus perdagangan menunjukkan bahwa Sulawesi Tengah mampu menjual lebih banyak produk ke pasar internasional dibandingkan nilai barang dan jasa yang dibeli dari luar negeri. Secara ekonomi, kondisi ini mencerminkan meningkatnya daya saing produksi daerah sekaligus memperkuat kontribusi Sulawesi Tengah terhadap perekonomian nasional.

Lebih jauh, data BPS menunjukkan bahwa nilai ekspor Agustus 2026 mencapai US$2.417,50 juta, meningkat dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar US$1.938,36 juta (BPS Provinsi Sulawesi Tengah, 1 Oktober 2026). Kenaikan ini menggambarkan masih tingginya permintaan internasional terhadap komoditas unggulan yang dihasilkan Sulawesi Tengah. Namun, keberhasilan tersebut perlu dibaca secara lebih mendalam. Neraca perdagangan yang sehat memang merupakan indikator penting keberhasilan ekonomi, tetapi ukuran keberhasilan pembangunan tidak dapat berhenti pada besarnya surplus semata. Yang lebih penting adalah memahami struktur ekspor, risiko yang menyertainya, dan sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Fakta paling menonjol terlihat dari dominannya peran industri hilirisasi mineral, khususnya nikel. Data BPS menunjukkan bahwa komoditas ekspor terbesar Sulawesi Tengah pada Agustus 2026 adalah besi dan baja sebesar US$1.164,18 juta, disusul nikel sebesar US$564,68 juta, serta bahan bakar mineral sebesar US$398,07 juta (BPS Provinsi Sulawesi Tengah, 1 Oktober 2026). Struktur ini mengonfirmasi bahwa kebijakan hilirisasi telah mengubah posisi Sulawesi Tengah dari pemasok bahan mentah menjadi pusat pengolahan mineral strategis nasional.

Dari perspektif ekonomi pembangunan, hilirisasi merupakan langkah yang tepat. Nilai tambah yang tercipta dari pengolahan sumber daya alam mampu meningkatkan output ekonomi, menarik investasi, dan memperluas kesempatan kerja. Selama bertahun-tahun, daerah kaya sumber daya sering kali hanya menjadi pemasok bahan mentah. Kini, Sulawesi Tengah mulai memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar melalui aktivitas pengolahan di dalam daerah.

Meski demikian, keberhasilan hilirisasi tidak boleh membuat pemerintah daerah terlena, misalnya Kabupaten Morowali, Kabupaten Morowali Utara. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu kelompok komoditas membawa risiko serius terhadap stabilitas ekonomi kabupaten tersebut. Struktur ekspor yang masih didominasi produk logam menunjukkan bahwa perekonomian Sulawesi Tengah tetap rentan terhadap fluktuasi harga komoditas dunia maupun perubahan permintaan global.

Karena itu, agenda pembangunan ke depan harus diarahkan pada diversifikasi ekonomi. Pemerintah daerah perlu mendorong pengembangan industri turunan mineral yang lebih maju, sekaligus memperkuat sektor pertanian modern, perikanan bernilai tambah, dan usaha berbasis ekonomi kreatif. Pertumbuhan ekonomi yang sehat adalah pertumbuhan yang memiliki banyak sumber penggerak.

Tantangan berikutnya terlihat dari struktur pasar ekspor. Menurut data BPS, Tiongkok menjadi tujuan ekspor terbesar Sulawesi Tengah dengan nilai mencapai US$1.195,96 juta, jauh di atas India sebesar US$203,49 juta dan Vietnam sebesar US$182,98 juta (BPS Provinsi Sulawesi Tengah, 1 Oktober 2026). Fakta ini menunjukkan tingkat ketergantungan yang cukup tinggi terhadap satu pasar utama.

Keterhubungan yang kuat dengan Tiongkok memang memberikan keuntungan karena besarnya kapasitas pasar negara tersebut. Akan tetapi, ketergantungan yang berlebihan juga menciptakan kerentanan. Perlambatan ekonomi, perubahan kebijakan industri, maupun penyesuaian kebutuhan impor Tiongkok dapat berdampak langsung terhadap kinerja ekspor Sulawesi Tengah. Oleh sebab itu, diversifikasi pasar ekspor harus menjadi agenda strategis daerah. Pemerintah bersama pelaku usaha perlu memperluas akses pasar ke Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika. Upaya ini perlu didukung melalui promosi perdagangan, peningkatan standar produk, kemudahan logistik, dan diplomasi ekonomi yang lebih aktif.

Di sisi lain, struktur impor Sulawesi Tengah juga memberikan informasi yang menarik. Berdasarkan data BPS, impor terbesar berasal dari bahan bakar mineral sebesar US$354,24 juta, garam, belerang, dan kapur sebesar US$309,08 juta, serta mesin dan peralatan mekanik sebesar US$135,30 juta (BPS Provinsi Sulawesi Tengah, 1 Oktober 2026). Kehadiran impor mesin mengindikasikan bahwa aktivitas industri masih terus berkembang dan melakukan ekspansi kapasitas produksi. Namun demikian, keberhasilan perdagangan tidak boleh berhenti pada pencapaian angka-angka makroekonomi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah lonjakan ekspor tersebut telah menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas. Surplus perdagangan yang besar akan kehilangan maknanya apabila manfaat ekonomi hanya terkonsentrasi pada kawasan industri dan tidak mengalir ke masyarakat sekitar.

Karena itu, pemerintah daerah perlu memastikan bahwa pertumbuhan industri berjalan seiring dengan pembangunan manusia. Program peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal harus diperluas agar masyarakat Sulawesi Tengah menjadi pelaku utama dalam proses industrialisasi. Selain itu, UMKM perlu didorong agar mampu masuk ke dalam rantai pasok industri pengolahan. Pada saat yang sama, sebagian manfaat ekonomi yang diperoleh dari ekspansi industri perlu dikonversi menjadi investasi pada pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar.

Pada akhirnya, surplus perdagangan sebesar US$1,10 miliar sebagaimana dirilis BPS Provinsi Sulawesi Tengah pada 1 Oktober 2026 merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Namun keberhasilan tersebut harus dipandang sebagai awal, bukan akhir. Hilirisasi nikel telah menjadi mesin pertumbuhan, tetapi diversifikasi ekonomi dan pasar ekspor tetap mendesak. Lebih dari itu, setiap dolar yang dihasilkan dari perdagangan internasional harus mampu diterjemahkan menjadi kesejahteraan yang lebih merata. Sebab tujuan akhir pembangunan bukanlah sekadar mencatat surplus perdagangan, melainkan menghadirkan kemakmuran yang dapat dirasakan seluruh masyarakat Sulawesi Tengah.

*) Penulis adalah Akademisi pada Jurusan Ilmu  Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Universitas Tadulako)

 

 

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow