Edukasi 100 Anggota DWP Satpol PP Palu, Hannah Asa Indonesia Tekankan Pentingnya 'Financial Capability'
Memiliki penghasilan tinggi tidak menjadi jaminan seseorang memiliki kondisi keuangan yang sehat. Kesehatan finansial justru sangat ditentukan oleh kemampuan dalam mengelola arus kas, menentukan skala prioritas, menghadapi risiko, serta mempersiapkan kebutuhan di masa depan secara terencana dan bertanggung jawab.
PALU, METROSULAWESI.NET - Memiliki penghasilan tinggi tidak menjadi jaminan seseorang memiliki kondisi keuangan yang sehat. Kesehatan finansial justru sangat ditentukan oleh kemampuan dalam mengelola arus kas, menentukan skala prioritas, menghadapi risiko, serta mempersiapkan kebutuhan di masa depan secara terencana dan bertanggung jawab.
Perspektif penting tersebut menjadi inti dari edukasi keuangan yang digelar oleh Hannah Asa Indonesia bagi 100 anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unit Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Palu. Kegiatan edukatif ini dikemas dalam program Bootcamp 127 dengan mengusung tema “Atur Uang Sekarang, Siapkan Masa Depan”.
Ketua DWP Unit Satpol PP Kota Palu, Endang Mukhlis, menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif ini. Menurutnya, materi yang disampaikan menjadi bekal yang sangat berharga bagi para anggotanya dalam menjaga stabilitas domestik.
“Materi yang diberikan menjadi bekal bagi ibu-ibu Dharma Wanita untuk mengelola keuangan, terutama di tengah situasi ekonomi yang cukup sulit saat ini. Terima kasih kepada Hannah Asa Indonesia yang telah memberikan edukasi yang sangat bermanfaat bagi kami,” ujar Endang Mukhlis.
Mengubah Literasi Menjadi Kemampuan Nyata
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak membedakan secara sadar antara kebutuhan (hal esensial penunjang hidup) dan keinginan. Selain itu, mereka dilatih untuk mengenali kebocoran keuangan akibat pengeluaran-pengeluaran kecil yang dilakukan berulang tanpa kendali.
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menegaskan bahwa kesehatan finansial dimulai dari kejujuran dan kemampuan memahami kondisi keuangan diri sendiri.
“Kita perlu tahu berapa yang kita miliki, ke mana uang kita digunakan, apa yang menjadi prioritas, dan risiko apa yang perlu kita siapkan. Ketika pengetahuan tersebut mulai diterapkan dalam keputusan sehari-hari, di situlah literasi keuangan berkembang menjadi financial capability (kemampuan finansial nyata),” jelas Mardiyah.
Hal senada disampaikan oleh Deputi Kepala Wilayah Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sulawesi Tengah, Dewi Nur Qamariah, yang hadir sebagai narasumber bersama pakar keuangan Julianti Laemi, AWPS. Dewi menekankan bahwa mengelola uang bukan berarti membatasi seluruh pengeluaran secara ekstrem.
"Mengelola uang adalah tentang memahami prioritas dan memastikan setiap keputusan keuangan tetap berjalan selaras dengan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai," urai Dewi.
Pondasi Finansial: Dana Darurat, Utang Sehat, dan Proteksi Aset
Selain teori dasar arus kas, Bootcamp 127 ini juga membekali para anggota DWP dengan tiga pilar instrumen penyelamat keuangan, antara lain:
1. Urgensi Dana Darurat: Menyiapkan cadangan dana khusus yang siap digunakan kapan saja saat menghadapi situasi mendesak atau ketika terjadi perubahan kondisi pendapatan tak terduga.
2. Manajemen Utang yang Sehat: Mengukur kapasitas diri sebelum mengambil kewajiban baru. Utang harus disesuaikan dengan kemampuan membayar dan tujuan penggunaannya agar tidak memberikan tekanan pada arus kas bulanan.
3. Perlindungan Aset: Mengantisipasi berbagai risiko tidak terduga yang berpotensi merusak cadangan kekayaan dan mengganggu stabilitas ekonomi keluarga.
Melalui pelatihan intensif ini, Hannah Asa Indonesia berharap para anggota DWP Satpol PP Kota Palu dapat menjadi agen perubahan di keluarganya masing-masing, yang mampu mengambil keputusan keuangan secara lebih sadar, matang, dan berorientasi pada masa depan. (din/*)
Apa Reaksimu?

