Refleksi 71 Tahun Perjalanan PPr GKST: Menenun Kasih, Merawat Kehidupan

DI bawah langit anugerah Tuhan, kita berdiri di sebuah altar waktu yang sakral. Kita sedang membaca kembali lembaran-lembaran kitab kehidupan yang ditulis oleh tetesan keringat, air mata, doa, dan kesetiaan kaum perempuan di bawah naungan Gereja Kristen Sulawesi Tengah.

Oktober 22, 2026 - 10:30
Refleksi 71 Tahun Perjalanan PPr GKST:  Menenun Kasih, Merawat Kehidupan

DI bawah langit anugerah Tuhan, kita berdiri di sebuah altar waktu yang sakral. Kita sedang membaca kembali lembaran-lembaran kitab kehidupan yang ditulis oleh tetesan keringat, air mata, doa, dan kesetiaan kaum perempuan di bawah naungan Gereja Kristen Sulawesi Tengah. 

Tujuh puluh satu tahun bukanlah waktu yang pendek. Itu adalah rentang waktu yang panjang di mana Tuhan menenun karya-Nya melalui rahim spiritual bernama Persekutuan Perempuan GKST.

Mari kita kembali ke masa lalu, ke tanggal 19 Oktober 1955.

Ketika wadah ini pertama kali dilahirkan dengan nama Persekutuan Ibu Kristen (PIK), ia tidak lahir dari kemewahan atau kondisi yang serba mudah.

Kaum perempuan pada masa itu bergerak di tengah keterbatasan zaman, di dalam kungkungan budaya yang sering kali menempatkan perempuan hanya di halaman belakang kehidupan.

Namun, sejarah mencatat dengan tinta emas: roh Allah bekerja melampaui sekat-sekat budaya. Perempuan-perempuan pendahulu kita bangkit, berlutut dalam doa, dan mengulurkan tangan untuk menopang pelayanan gereja yang saat itu baru berusia 8 tahun.

Dari dapur-dapur sederhana, dari persekutuan doa kecil di rumah-rumah panggung, embrio kasih itu bergerak. Mereka adalah tiang doa yang tak terlihat, namun kekuatannya menopang runtuhnya keputusasaan.

Seiring waktu berjalan, PIK bertransformasi menjadi Persekutuan Perempuan (PPr) GKST. Transformasi ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan sebuah dekonstruksi peran yang ilahi.

Perempuan tidak lagi dipandang hanya sebatas urusan domestik atau seksi konsumsi di dalam jemaat.

Selama 71 tahun ini, perempuan GKST telah membuktikan diri sebagai mitra sejajar laki-laki. Mereka melangkah ke mimbar-mimbar pelayan, masuk ke dalam struktur pengambilan keputusan, dan menjadi agen-agen perubahan di ranah publik serta sosial di Tanah Poso dan seluruh wilayah pelayanan GKST.

Kita tidak boleh lupa, dalam rentang sejarah 71 tahun ini, ada masa-masa kelam di mana bumi Sintuwu Maroso dan sekitarnya diguncang oleh air mata konflik.

Di sinilah letak kemuliaan terdalam dari keberadaan Perempuan GKST.

Ketika badai menerpa, ketika tatanan sosial terluka, perempuan GKST hadir bukan dengan pedang atau amarah, melainkan dengan rahim keibuan yang merawat luka.

Perempuan GKST menjadi peacebuilder—penenun perdamaian yang merajut kembali tali persaudaraan yang sempat koyak, membisikkan doa di tengah ketakutan, dan memastikan kehidupan terus berjalan.

Kini, di usia yang ke-71 tahun, tantangan zaman telah berubah. Kita hidup di era digital, di mana disrupsi nilai dan moral mengancam ketahanan keluarga kita.

Pemaknaan terdalam dari usia 71 tahun ini adalah sebuah panggilan pulang: kembali ke benteng keluarga.

Perempuan GKST hari ini dituntut untuk tetap menjadi "sekolah pertama" bagi anak-anak generasi Z dan Alpha, menjadi jangkar iman agar keluarga-keluarga Kristen tidak terombang-ambing oleh arus zaman.

Tujuh puluh satu tahun Persekutuan Perempuan GKST adalah sebuah monumen kesetiaan Tuhan.

Bagi kita yang berdiri hari ini menikmati buah dari pohon pelayanan yang ditanam oleh para pendahulu pada tahun 1955: Jangan biarkan api itu padam.

Mari kita terus melangkah dengan kelembutan yang menguatkan, dengan kasih yang memulihkan, dan dengan iman yang teguh.

"Selamat Ulang Tahun ke-71, Persekutuan Perempuan GKST". Teruslah bersinar, teruslah merawat kehidupan, demi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja. (*)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow