Untad: Unggul, Tangguh, Adaptif

Oleh: Prof. Dr. Ir. Amar, ST, MT *)

Jun 10, 2026 - 10:03
Untad: Unggul, Tangguh, Adaptif
Rektor Universitas Tadulako, Prof. Dr. Ir. Amar, ST, MT.

BERADA di tengah pusaran perubahan global yang berlangsung begitu cepat dan mondial, tentu saja universitas tidak lagi cukup hanya sekedar sebagai menara gading yang menghasilkan lulusan semata. Ada perubahan dan orientasi tuntutan atas eksistensi Perguruan tinggi abad ke-21 sudah harus menjadi episentrum inovasi, penggerak transformasi sosial, dan pencipta solusi bagi berbagai tantangan perdaban. Dalam konteks inilah, Universitas Tadulako (Untad) perlu menegaskan keberadaan dan langkah pastinya untuk menuju universitas kelas dunia melalui sebuah paradigma baru.

Kita semua tahu, lahirnya Paradigma 5.0 dari gagasan Society 5.0 yang digagas oleh Jepang, yakni sebuah tatanan masyarakat yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan dengan memanfaatkan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan inovasi secara bijaksana untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Esensi dari Society 5.0 bukanlah teknologi an sich, namun bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, berkelanjutan, berdampak dan berkeadilan.

Bagi Untad, paradigma 5.0 ini tidak boleh sekadar slogan. Paradigma itu harus menjadi penunjuk arah baru dalam membangun dan menyiapkan universitas yang agar unggul, tangguh, dan adaptif.  Karena itu, konsep pengembangan Untad yang menekankan pada program one kliks untuk sistem digitalisasi yang dibangun melalui sistem informasi akademik SIGA-8. Sistem informasi ini diharapkan mampu menjembatan kendala teknologi informasi yang selama ini terjadi.

Untad Unggul

Keberadaan universitas kelas dunia tidak boleh diukur hanya dari gedung megah, laboratorium yang canggih,  atau sekedar jumlah mahasiswa yang sangat besar. Ukuran sesungguhnya, justru terletak pada posisi kualifikasi dan kualitas sumber daya manusia, produktivitas dalam forum ilmiah, reputasi akademik yang mempuni, jejaring internasional, dan dampak nyata bagi masyarakat. Posisi Untad menjadi sangat strategis dalam konteks ini.

Rektor Pertama Universitas California (UC) Berkeley, Clark Kerr, menyatakan universitas adalah institusi utama untuk menciptakan, menjaga, dan mentransmisikan pengetahuan. Karena itu, Untad menjadi unggul, harus dibangun melalui hidupnya budaya akademik  dan atmosfer akademik yang kokoh. Dosen tidak sekedar memiliki kemampuan mengajar di kelas-kelas kuliah, tetapi harus menjadi ilmuwan yang aktif dan produktif dalam menghasilkan publikasi bereputasi internasional, melahirkan inovasi teknologi, dan menyodorkan rekomendasi kebijakan strategis yang relevan bagi kemajuan bangsa dan negara. Di sisi lain, kehadiran mahasiswa tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi harus mampu menjadi pencipta lapangan kerja dan agen perubahan sosial.

Seperti yang sudah kita uraikan, pada era masyarakat 5.0, universitas harus  mengembangkan model dan sistem pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student-centered learning), kolaboratif-edukatif, multidisiplin-transdisiplin, dan berbasis teknologi digital. Pendidikan harus melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kreatif, inovatif, kritis, komunikatif, dan memiliki kemampuan memecahkan masalah kompleks.

Kita tahu bersama, Sulawesi Tengah sebagai laboratorium alam yang kaya dan melimpah. Keunggulan Untad juga harus bertumpu pada keunikan geografis dan keilmuan ini. Potensi kebencanaan, keanekaragaman hayati, ekonomi kelautan, pertanian tropis, energi terbarukan, serta hilirisasi sumber daya alam merupakan laboratorium alam yang tidak dimiliki banyak universitas lain di dunia. Dari sinilah, Untad dapat membangun niche excellence atau keunggulan khas yang menjadi identitas globalnya. Keunikan yang sangat langka.

Untad Tangguh

Penulis dan filosof, Nassim Nicholas Taleb, menyatakan ada institusi yang justru tumbuh lebih kuat, ketika menghadapi guncangan, ketidakpastian dan tekanan. Ketangguhan bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Karena itu peristiwa terjadi gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi September tahun 2018, telah memberikan dan mengajarkan satu pelajaran penting: ketangguhan bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Ketangguhan tidak sekedar jargon semata, tetap elemen penting yang hidup ditengah masyarakat setempat.

Fakta empiris menunjukkan, universitas kelas dunia adalah universitas yang mampu bertahan dan terus berkembang di tengah badai krisis. Ketangguhan (resilience) harus menjadi DNA Untad. Ketangguhan menjadi sesuatu yang bersifat inheren dalam tubuh Untad.

Ujian ketangguhan institusi juga berarti memiliki tata kelola yang kuat, sistem manajemen risiko yang baik dan tangguh, infrastruktur yang aman dan terkendali, serta kemampuan merespons berbagai ketidakpastian yang terjadi. Wujud dari ketangguhan akademik berarti mampu menjaga kualitas pendidikan dan penelitian dalam berbagai situasi dan kondisi yang dihadapi. Berbagai risiko tersebut ketika terjadi bencana alam, pandemi seperti Covid-19, atau bahkan terjadinya disrupsi teknologi yang berlangsung sangat cepat dan massif. Oleh karena itu, kita perlu merumuskan konsep pendidikan masa depan yang juga menekankan pentingnya membangun sistem pendidikan yang tangguh, berkelanjutan, berdampak dan mampu terus beradaptasi dengan perubahan dunia.

Sejarah mencatat, keberadaan universitas yang tepat berdiri pada kawasan cincin api Pasifik (ring of fire). Tepatnya berada pada sesar atau patahan Palu Koro.  Justru karena itu, Untad memiliki peluang sangat besar untuk menjadi pusat unggulan dunia pendidikan tinggi dalam kajian mitigasi bencana alam, ketahanan wilayah dan masyarakat, kuat menghadapi perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan yang menjadi keniscayaan.  Kondisi aktual dan pengalaman empiris yang dimiliki Provinsi Sulawesi Tengah dapat menjadi sumber pengetahuan dan informasi sangat berharga bagi komunitas akademik nasional bahkan internasional. Oleh karena itu, keniscayaan dimana Untad, menetapkan visinya pada universitas berwawasan lingkungan.  Visi ini tidak sekedar jargon yang kering makna, tapi dibaca sebagai konteks sesunggunya yang harus dicapai.

Untad juga sudah membangun fasilitas laboratorium likuifaksi standar internasional. Laboratorium ini diberi nama nalodo research and techno park. Fasilitas ini menjadi satu-satunya laboratorium penelitian untuk likuifaksi dan kegempaan pertama di tanah air. Pengembangan fasilitas ini dimaksudkan untuk mendorong kajian lingkungan kebumian strategis dengan memanfaatkan posisis Sulawesi Tengah ditengah Pulau Sulawesi yang dilintasi garis khatulistiwa, garis patahan Palu-Koro dan garis Wallacea.

Realitas hari ini menegaskan, dimana dunia akademik yang terus berubah dan berlangsung cepat saat ini, tentu saja membutuhkan universitas yang tidak hanya menghasilkan ilmu dan pengetahuan, tetapi juga membangun ketahanan masyarakat dari  berbagai bencana alam dan non alam yang terus terjadi. Untad memiliki modal dasar yang kuat, untuk memainkan peran penting tersebut. Kita sudah menyaksikan bersama, adanya ketahanan yang nyata, dimana kita berhasil bangkit dari bencana gempa, tsunami dan likuifaksi yang terjadi secara bersamaan.

Untad Adaptif

Ilmuwan sekaliber dan sehebat, Charles Darwin, pernah mengingatkan pada kita semua, bahwa yang bertahan hidup bukanlah yang paling kuat, ataupun yang paling cerdas, melainkan mereka yang paling mampu beradaptasi saat menghadapi perubahan.

Pengalaman menunjukkan, saat ini berada di era kecerdasan buatan, big data, Internet of Things, dan transformasi digital, kemampuan beradaptasi menjadi syarat utama keberlangsungan perguruan tinggi untuk tetap berdiri kokoh. Paradigma pendidikan 5.0 menuntut dan mengaruskan seluruh institusi pendidikan bergerak lebih fleksibel, lebih dinamis, lebih terintegrasi teknologi, dan lebih responsif terhadap kebutuhan seluruh pemangku kepentingan.

Oleh karena itu, konteks adaptif juga berarti mengharuskan perubahan kurikulum Untad yang harus dinamis, dan kurikulum yang terus mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan dunia industri, bahkan dunia usaha dan dunia kerja. Tidak berhenti disitu, makna adaptif juga berarti seluruh dosen dan tenaga kependidikan secara terus meningkatkan kompetensi digitalnya, dan kemampuan pedagogik. Adaptif selanjutnya, adalah berarti birokrasi kampus bergerak cepat, sederhana, dan berbasis data real-time. Pemanfaatan sistem IT yang mudah dan terjangkau. Namun, tanpa kolaborasi seluruh elemen ini, maka hanya akan berakhir sebagai tujuan yang kosong.

Lebih jauh lagi, adaptif juga berarti harus membuka diri terhadap seluruh ajakan untuk berkolaborasi secara global. Kita semua sadar, universitas kelas dunia tidak dibangun dalam kesendirian atau parsial. Universitas tak bisa bergerak tanpa saling menunjang dan berjejaring. Universitas harus tumbuh melalui jaringan internasional, kolaborasi penelitian lintas negara-lintas disiplin keilmuan, mobilitas akademik yang bergerak cepat, dan pertukaran ide-gagasan tanpa batas geografis, apalagi batas-batas suku atau etnis. Dalam dunia yang semakin terkoneksi dan berjejaring, reputasi dan kolaborasi internasional tidak sekedar dibangun dari lokasi geografis semata, tetapi dari kualitas kontribusi intelektual dan kinerja akademik yang mumpuni diberikan kepada dunia pendidikan.

Untad Dari Kota Palu untuk Dunia

Petika kalimat pendek ini, Untad untuk dunia. Kita diperhadapkan pada usaha untuk membangun universitas kelas dunia, bukanlah perjalanan singkat dan berdimensi jangka pendek. Visi menjadi universitas kelas dunia, tak sekedar seperti membalikan telapak tangan. Maka dari itu, Untad harus menyiapkan visi dan misi berdimensi jangka panjang, melahirkan gagasan kepemimpinan yang progresif, budaya mutu akademik yang kuat dan terencana, dan komitmen seluruh sivitas akademika untuk bergerak maju bersama.

Fakta empiris memperlihatkan, pilihan pada paradigma 5.0 tentu memberikan arah yang jelas bagi Untad. Untad bertranformasi dalam pemanfaat sistem akademik (SIGA-8) yang lebih baik. Universitas ini harus menjadi kampus yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tangguh menghadapi berbagai tantangan dan kendala, dan adaptif terhadap perubahan dan kemajuan Ipteks yang terus berdialektika dengan zama.

Di masa depan, ukuran keberhasilan Untad bukan hanya jumlah sarjana yang diluluskan atau bangunan yang didirikan. Keberhasilan sejati adalah ketika hasil risetnya menjadi rujukan dunia, inovasinya menyelesaikan persoalan masyarakat, dan alumninya menjadi pemimpin perubahan di berbagai penjuru bumi.

Untad memiliki semua modal dasar untuk mencapainya: sumber daya manusia yang terus berkembang, kekayaan alam sebagai laboratorium hidup, pengalaman menghadapi bencana, serta semangat kolektif untuk maju.

Kini saatnya melangkah lebih jauh. Dari jantung Sulawesi Tengah, Untad dapat membuktikan bahwa universitas kelas dunia tidak harus lahir di kota-kota besar dunia. Untad dapat tumbuh dari tanah yang pernah diguncang gempa, ditempa oleh tantangan, dan dibesarkan oleh tekad untuk terus belajar dari berbagai belahan dunia. Karena itu, universitas masa depan bukanlah yang sekadar mengikuti perubahan, melainkan yang mampu memimpin perubahan. Unggul dalam prestasi. Tangguh menghadapi tantangan. Adaptif menjemput masa depan. Itulah wajah Untad 5.0 menuju universitas kelas dunia.

*) Rektor Universitas Tadulako

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow