Jasuke, Menu MBG dari SPPG Boya Diprotes Warganet
Menu makanan bergizi gratis (MBG) yang disajikan Dapur SPPG di Kelurahan Boya, Donggala, viral di media sosial. Warganet memprotes menu ‘ala Japan’ Jasuke (jagung susu keju) yang disajikan.
DONGGALA, METROSULAWESI.NET- Menu makanan bergizi gratis (MBG) yang disajikan Dapur SPPG di Kelurahan Boya, Donggala, viral di media sosial. Warganet memprotes menu ‘ala Japan’ Jasuke (jagung susu keju) yang disajikan.
Penyajian menu ala kekeinian itu tak mendapat respons positif, justru sebaiknya “Jasuke” menjadi cemohan warganet yang mayoritas adalah orang tua siswa penerima MBG.
“Menu MBG hari ini by SPPG Boya ala-ala menu diet buat anak yang di fase pertumbuhan,” tulis akun Fauzhiee Adharr melalui unggahan di media sosialnya Facebook, Kamis 23 Juli 2026.
Sontak postingan Akun Fauzhiie Adharr mendadak ramai, dengan komentar akun lainnya. “Kasian tempenya ya sendiri,” cuit akun Citra Nasa.
Kemudian cuitan berlanjut dengan tulisan akun Zaitun Ummu yang mengatakan “mo berak-berak anak-anak makan jagung” tulisnya.
“Antara lancar pencernaan atau cepat lapar, apa lagi yang kelas besar pulang jam 2 siang,” tulis Akun Fauzhiee Adharr membalas cuitan Zaitun Ummu.
Sementara itu, Halik, Pengelola SPPG Kelurahan Boya yang dikonfirmasi merasa kaget dengan unggahan di sosmed terkait penyajian menu.
“Iya benar pak, itu menu kami namanya Jasuke (jagung susu keju). Cuma kami kaget diunggah di media sosial, dan hal itu tidak baik didengar. Jika ada sesuatu tidak berkenan dengan menu harusnya datangi kami,” kata Halik yang didampingi oleh Ahli Gizinya Tria.
“Kami sering meminta masukan, jika kami mengantarkan menu ke sekolah-sekolah, meminta masukan ke penerima asas manfaat, bukan dari medsos bahan lucu-lucuan. Kami baru satu bulan lebih beroperasi, kami butuh masukan. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi,” bebernya.
Tria, ahli Gizi di SPPG Kelurahan Boya menambahkan, menu tersebut merupakan menu pengganti nasi, yakni jagung dan telah sesuai standar kesehatan, karena setiap sajian menu menyesuaikan dengan takaran yang telah diatur.
“Mungkin menu yang kami sajikan kelihatan baru Jasuke. Untuk standar gizi sudah sesuai karena kami pake takaran,” bebernya.
Ditanya menu satu iris tempe dan penyajiannya terpisah, Tria menjwab sudah memenuhi standar.
“Iya pak sebiji tempe yang kami sajikan terpisah itu sudah sesuai juga dengan standar gizi, tetapi memang kalau digoreng tempe akan menyusut,” tutupnya.
Terpisah anggota DPRD Donggala Irfan yang dimintai tanggapan terkait menu yang disajikan SPPG Kelurahan Boya mengatakan setiap dapur punya ahli gizi yang paham tentang takaran makanan bergizi
Akan tetapi lanjut ketua komisi I DPRD ini harus diingat juga bahwa tidak semua kita langsung bisa mengkonsumsi pengganti beras jagung.
“Menu ke kinian boleh, tapi kita juga harus paham kondisi daerah kita yang tentu masih ada yang awam, yang biasanya mereka tahu nasi adalah karbohidrat, langsung diganti dengan jagung. Harus penyesuaian,” kata Irfan.
Dikektahui Dapur SPPG kelurahan Boya kecamatan Banawa saat ini melayani 12 sekolah yang ada di wilayah kecamatan Banawa. (anc)
Apa Reaksimu?

