Potensi Lobster Sulawesi Tengah Sangat Besar, Saatnya Beralih dari Ketergantungan Tangkapan Alam ke Budidaya
Oleh: Handri, Kepala Bidang Perikanan DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulawesi Tengah
SULAWESI Tengah memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas lobster yang bernilai ekonomi tinggi. Dengan wilayah perairan yang luas serta ekosistem laut yang relatif masih terjaga, daerah ini sangat berpeluang menjadi salah satu sentra produksi lobster di Indonesia.
Perairan Sulawesi Tengah yang mencakup kawasan Teluk Tomini, pesisir Selat Makassar, hingga berbagai wilayah pesisir lainnya dikenal sebagai habitat alami berbagai jenis lobster tropis. Beberapa jenis lobster yang banyak ditemukan antara lain lobster mutiara, lobster pasir, dan lobster bambu yang memiliki nilai jual tinggi di pasar domestik maupun internasional.
Sejumlah daerah seperti Parigi Moutong, Donggala, Tolitoli, Banggai, hingga Morowali dinilai memiliki potensi besar sebagai wilayah pengembangan lobster. Selama ini aktivitas perikanan lobster di daerah-daerah tersebut masih didominasi oleh penangkapan dari alam.
Namun, menurut Kepala Bidang Perikanan Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulawesi Tengah, Handri, potensi lobster yang besar tersebut perlu dikelola dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi.
“Sulawesi Tengah memiliki garis pantai yang panjang serta perairan yang sangat potensial untuk pengembangan lobster. Jika dikelola dengan baik, komoditas ini bisa menjadi salah satu sumber ekonomi baru bagi masyarakat nelayan dan daerah,” ujar Handri.
Ia menilai, selama ini sektor perikanan di Sulawesi Tengah terutama komoditi unggulan yang terus di lalulintaskan dari sulawesi tengah seperti lobster,kerang darah,sidat,kepiting dan beberapa jenis ikan lainnya masih terlalu bergantung pada hasil tangkapan alam. Kondisi tersebut membuat produksi sering tidak stabil dan sangat bergantung pada musim serta kondisi lingkungan.
“Selama ini kita masih terlena dengan hasil tangkapan alam. Padahal jika kita mulai serius mengembangkan budidaya perikanan, termasuk lobster, nilai ekonominya justru bisa lebih tinggi dan yang paling penting dapat menjamin kontinuitas pasokan ke pasar,” jelasnya.
Menurutnya, peluang pengembangan budidaya lobster di Sulawesi Tengah sangat terbuka lebar. Banyak wilayah pesisir yang memiliki kondisi perairan relatif tenang dan cocok untuk pengembangan sistem budidaya seperti keramba jaring apung (KJA) maupun keramba jaring dasar (KJD).
Pengembangan budidaya lobster juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya lobster di alam. Dengan adanya budidaya, tekanan penangkapan di alam dapat dikurangi sehingga populasi lobster tetap terjaga.
Selain itu, permintaan pasar terhadap lobster terus meningkat, baik dari pasar domestik maupun dari pasar internasional seperti negara-negara di kawasan Asia.
“Jika dikelola secara profesional dan didukung oleh kebijakan yang tepat, lobster bisa menjadi salah satu komoditas unggulan perikanan Sulawesi Tengah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus memberikan kontribusi besar bagi perekonomian daerah,” pungkas Handri.
Dengan potensi sumber daya laut yang melimpah serta peluang pasar yang besar, pengembangan lobster melalui pendekatan budidaya yang terencana diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam mendorong transformasi sektor perikanan Sulawesi Tengah ke arah yang lebih produktif, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi tinggi. (*)
Apa Reaksimu?
