Hanya Yang Bermain Berani Yang Pantas ke Final

Tim nasional Argentina menunjukkan kepada tim nasional Inggris bahwa kemenangan bukan sekadar soal hasil akhir, melainkan soal cara meraihnya.

Juli 18, 2026 - 06:56
Hanya Yang Bermain Berani Yang Pantas ke Final

JAKARTA, METROSULAWESI.NET- Tim nasional Argentina menunjukkan kepada tim nasional Inggris bahwa kemenangan bukan sekadar soal hasil akhir, melainkan soal cara meraihnya.

Di Stadion Atalanta, Amerika Serikat (AS), Kamis, cara meraih kemenangan Argentina begitu heroik. Mereka bak ksatria yang tak kenal kata menyerah.

Tertinggal satu gol sampai menit ke-84, Argentina yang datang dengan status juara dunia, membalikkan keadaan dalam waktu tujuh menit saja untuk memastikan langkah ke final Piala Dunia 2026, final beruntun mereka setelah juara pada 2022 di Qatar.

Bagi Lionel Messi, yang disebut sebagai GOAT (Greatest of All Time) di dunia sepak bola, ini menjadi final Piala Dunia ketiganya setelah kekalahan dari Jerman pada 2014 di Brasil, sekaligus final keempatnya bersama sang pelatih Lionel Scaloni yang semuanya berakhir dengan kemenangan.

Berani dan penakut. Itulah kata yang menggambarkan mentalitas Argentina dan Inggris. Argentina bermain dengan keberanian setelah ketinggalan satu gol lewat gol Anthony Gordon pada menit ke-55.

Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengambil risiko dalam pergantian pemain. Ia melakukan lima pergantian pemain, dua di antaranya mengurangi kekuatan bertahan demi menambah daya gedor di depan.

Nico Gonzalez dimasukkan pada menit ke-64 menggantikan Leandro Paredes, gladiator La Albiceleste yang tugasnya menjaga keseimbangan permainan dan tak segan melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor untuk menghentikan lawan.

Lalu, pergantian pamungkas Scaloni datang pada menit ke-81 saat memasukkan Lautaro Martinez dan menarik keluar seorang bek kiri Nicolas Tagliafico.

Dua pergantian ini sangat berisiko, karena Argentina akan kekurangan pemain untuk menahan gempuran Inggris apabila mereka melancarkan serangan balik. Alih-alih mendapatkan gol, mereka malah bisa kebobolan gol kedua dan kalah.

Namun, itulah harga yang harus dibayar. Argentina memilih "all-out attack", tak peduli apapun kecuali mendapatkan gol.

Saat di kepala Scaloni hanya menantikan kapan gol itu terjadi, otak Thomas Tuchel cuma memikirkan berapa bek lagi yang akan ia masukkan untuk mempertahankan keunggulan.

Itu tidak sepenuhnya salah. Namun apa yang dilakukan pelatih asal Jerman itu bertolak belakang dengan jati diri Inggris sebagai tim besar, yang tak pantas untuk bertahan total, apalagi dari menit ke-72.

Tuchel mengganti penyerang sayapnya Gordon dengan seorang bek tengah Ezri Konsa pada menit ke-72. Ia kemudian menambah pemain bertahan untuk The Three Lions pada menit ke-82 dengan memasukkan dua bek bertinggi lebih dari 1.9 meter, yaitu Nico O'Reilly dan Dan Burn. Burn sendiri bahkan mempunyai tinggi lebih dari dua meter (2.1 meter).

Inggris pun bermain dengan formasi 5-4-1, meninggalkan pola 4-2-3-1 yang sebenarnya berhasil menahan Argentina pada babak pertama, sekaligus membatasi pergerakan megabintang mereka Lionel Messi.

Ironisnya, yang dilakukan Tuchel malah menjadi bumerang untuk timnya sendiri karena taktik bertahannya dicap sebagai kambing hitam keberhasilan Messi dan kawan-kawan membalikkan keadaan menjadi 2-1 pada menit ke-90+2.

Inggris bertahan terlalu dalam dan mengundang tekanan demi tekanan dari Argentina. Ketiadaan pemain di lini tengah, terutama ketika Declan Rice ditarik keluar, membuat lawan leluasa memainkan bola.

Cara bertahan Inggris yang hanya berfokus menghiasi kotak penalti mereka dengan pemain-pemain tinggi juga membuat Messi bergerak lebih bebas daripada sebelumnya.

La Pulga, julukan Messi, mendapatkan banyak ruang ketika bergerak dari sisi kanan penyerang. Dari sisi inilah dia berhasil memberikan dua assist untuk kemenangan negaranya yang dicetak Enzo Fernandez pada menit ke-85 dan Lautaro Martinez pada menit ke-90+2.

Gol Lautaro seolah memberikan tamparan keras kepada Tuchel, yang memilih bertahan total dengan memainkan bek-bek tinggi untuk mengantisipasi umpan-umpan crossing Argentina dan memenangkan second ball.

Lautaro hanya memiliki tinggi 1.74 meter. Namun, kepiwaiannya mencari ruang membuatnya terbebas dari gangguan saat menyundul bola umpan Messi, di saat di antara dia ada dua pemain yang lebih tinggi, John Stones (1.88 meter) dan Konsa (1.83 meter).

Gol itu juga memperlihatkan kualitas Tuchel yang seperti pelatih medioker. Bukannya mempertahankan cara bermain timnya untuk terus menekan Argentina guna membatasi ruang kreativitas mereka, pelatih 52 tahun itu malah lebih memilih berlindung di balik strategi parkir bus.

Apalagi, pilihannya di bangku cadangan sangat melimpah. Masih ada Bukayo Saka, Noni Madueke, Eberechi Eze, hingga Kobbie Mainoo, yang dapat menjaga ancaman serangan Inggris sekaligus memaksa Argentina bermain kurang nyaman di belakang saat mereka sedang melancarkan strategi all-out attack.

"Misalnya Anda sedang unggul 1-0—katakanlah Anda bermain dengan formasi 4-4-2 atau 4-3-3—lalu Anda mengganti gelandang atau penyerang dengan memasukkan bek di 10 atau 15 menit terakhir, sehingga tiba-tiba Anda bermain dengan lima bek," kata pelatih Como Cesc Fabregas dalam sebuah wawancara dengan Sky Sports pada 2023.

"Jadi, secara otomatis pola pikirmu menjadi, 'oh, pelatih ingin kita bertahan, kita harus bermain lebih ke belakang'. Akibatnya, kamu justru mengundang tekanan; kamu membiarkan lawan lebih banyak menguasai bola, lebih leluasa menyerang, dan menjadi lebih berbahaya," lanjut dia.

"Semakin lama mereka berada di wilayah permainanmu, ya, mungkin saja suatu saat kamu bisa menghukum mereka lewat serangan balik dan mencetak gol kedua, tetapi dalam 80 hingga 90 persen kasus, strategi itu justru menjadi bumerang," tambah dia.

Yang dikatakan Fabregas itulah yang terjadi pada Inggris. Keputusan Tuchel mundur terlalu dalam membuat The Three Lions kehilangan kendali permainan dan akhirnya dihukum oleh dua gol Argentina pada menit-menit akhir.

Malam itu, Tuchel benar-benar membuat pendukung Inggris patah hati untuk kesekian kalinya. Tidak ada lagu Wonderwall di Stadion Atlanta, juga tak ada mimpi kembali menembus final Piala Dunia yang menjadi nyata.

Kini, mereka pun harus puas kembali bersaing di perebutan tempat ketiga menghadapi Prancis di Stadion Miami, AS, Minggu (19/7) pukul 04.00 WIB. Meski belum sepenuhnya menghapus rasa kekecewaan dari kegagalan menembus final, kemenangan pada laga perebutan tempat ketiga akan membuat Inggris sedikit tersenyum.

Sebab, hal itu akan menjadi pencapaian terbaik mereka di Piala Dunia setelah 1966, usai dua kali menjadi tim peringkat keempat pada edisi 1990 dan 2018.

Pengecut

Kiper legendaris timnas Spanyol Iker Casillas melontarkan kritikan tajam untuk Inggris karena pelatih mereka memilih pendekatan seperti pengecut setelah mencetak gol lebih dulu.

Ia menyebut kekalahan Inggris dengan cara menyakitkan, yaitu di-comeback di menit-menit akhir, adalah konsekuensi yang pantas didapatkan.

"Cetak gol lalu bertahan. Pendekatan pengecut. Mereka tidak keluar dari kotak penalti mereka sendiri dan membiarkan Argentina lebih leluasa menyerang. Hasil logisnya pun terjadi," kata Casillas di akun X resminya, dikutip Jumat.

Perkataan Casillas, seorang kiper pemenang Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2008 dan 2012 bersama Spanyol, juga mengisyaratkan bahwa Inggris tak pantas melaju ke final, karena laga puncak menjadi milik mereka yang bermain dengan penuh keberanian.

Prinsip itulah yang ditunjukkan Spanyol saat menyingkirkan Prancis di semifinal Piala Dunia 2026. Satu hari sebelumnya, tim asuhan Luis de la Fuente itu tak difavoritkan menjadi pemenang, apalagi Les Bleus datang dengan lini serang paling mematikan di pesta sepak bola empat tahunan tahun ini, dengan adanya Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, Bradley Barcola, Desire Doure, dan Rayan Cherki.

Namun, La Furia Roja tak inferior sedikit pun. Mereka tetap setia dengan identitasnya, yaitu penguasaan bola yang kuat, umpan-umpan pendek, dan tak takut membangun serangan dari belakang, meski ada pressing dari bintang-bintang Prancis di lini depan.

De la Fuente juga tak memilih bermain bertahan di 30 menit terakhir setelah unggul dua gol melalui Mikel Oyarzabal dan Pedro Porro. Dari lima pergantian, fokus pelatih 65 tahun itu hanya menyegarkan tenaga timnya, bukan merubah taktiknya dari menyerang ke bertahan. Satu-satunya pemain belakang yang masuk adalah Marcos Llorente pada menit ke-84, yang menggantikan sesama bek kanan, Porro.

Keberanian mempertahankan identitas itulah yang membawa Spanyol menjadi tim dengan pertahanan terbaik di Piala Dunia 2026. Bukan karena mereka menumpuk pemain di depan gawang, melainkan karena mereka mengendalikan laga melalui penguasaan bola.

Ini perlu dipelajari oleh Tuchel, bahwa menghindari kemasukan gol tak melulu menumpuk pemain di kotak penalti, karena selama tim memegang bola, lawan tak memiliki kesempatan untuk mencetak gol.

Identitas ini juga membawa Spanyol menembus final Piala Dunia untuk pertama kalinya, sejak menjadi juara pada 2010. Final ini merupakan final ketiga beruntun Spanyol di tiga turnamen yang mereka ikuti di era De la Fuente, yaitu Piala Eropa 2024 dan Nations League 2025.

Final Piala Dunia 2026 akan menyajikan duel antara tim pemberani. Argentina dan Spanyol, dua negara juara bertahan di benuanya masing-masing itu, akan bertemu pada laga puncak di Stadion New York New Jersey, AS, pada Senin (20/7) pukul 02.00 WIB.

Dua finalis itu menyampaikan pesan yang sama. bahwa mereka tidak semata-mata menang karena memiliki pemain-pemain hebat, tetapi karena pelatih mereka yang berani mengambil risiko.

Yang perlu digarisbawahi lagi adalah perjalanan Argentina dan Spanyol di Piala Dunia tahun ini mengingatkan kita, bukan hanya di lapangan hijau, tetapi juga dalam kehidupan nyata, bahwa kemenangan terbesar sering kali berpihak kepada mereka yang berani melangkah ketika yang lain memilih bertahan di zona nyaman. (ant)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow