Kedai Kopi Tumbuh Pesat di Sekitar Kawasan IMIP di Bahodopi

Pertumbuhan aktivitas industri di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, turut mendorong berkembangnya usaha kedai kopi dan kafe di sekitar kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Jun 16, 2026 - 05:38
Kedai Kopi Tumbuh Pesat di Sekitar Kawasan IMIP di Bahodopi
Suasana di Solusi Kopie, salah satu UMKM yang bertumbuh pesat di Desa Keurea, Kecamatan Bahodopi, Morowali. FOTO: DOK IMIP

MOROWALI, METROSULAWESI.NET- Pertumbuhan aktivitas industri di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, turut mendorong berkembangnya usaha kedai kopi dan kafe di sekitar kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Meningkatnya jumlah pekerja dan aktivitas ekonomi menciptakan pasar baru yang mendorong pelaku UMKM lokal meraih peningkatan pendapatan dan membuka lapangan kerja.

Data survei UMKM Tim Research and Support Departemen Secretariat and General Affair (SGA) PT IMIP mencatat, hingga Oktober 2025 terdapat 2.107 usaha kuliner atau sekitar 26 persen dari total 7.643 UMKM di Bahodopi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 111 unit merupakan kafe dan restoran yang berkembang seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak pertumbuhan tersebut adalah Moh. Ahdiat, pemilik Solusi Kopie di Desa Keurea. Usaha yang dirintis sejak 2021 itu kini mencatat omzet berkisar Rp120 juta hingga Rp150 juta per bulan. Sekitar 80 persen konsumennya berasal dari kalangan pekerja kawasan IMIP.

 “Sebelumnya saya pernah pengalaman kerja di kedai kopi, tapi skala kecil,” kata Ahdiat.

Perkembangan usaha tersebut juga mendorong peningkatan penyerapan tenaga kerja. Saat ini Solusi Kopie mempekerjakan 10 orang yang bekerja sebagai barista, pelayan, kasir, dan staf dapur.

 “Dalam bisnis, penting membentuk budaya kerja. Itu nantinya akan membentuk suatu sistem yang baik,” ujarnya.

Pertumbuhan serupa dialami Musti Coffee yang berdiri pada Agustus 2024. Kedai milik Selvina Astuti itu memanfaatkan peluang pasar dari meningkatnya jumlah pekerja di kawasan industri. Saat ini omzet hariannya mencapai sekitar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta atau setara Rp75 juta hingga Rp90 juta per bulan.

Selain mempekerjakan empat orang, usaha tersebut juga menggerakkan rantai pasok berbagai kebutuhan usaha seperti biji kopi, bahan makanan, hingga perlengkapan kemasan yang didatangkan dari luar daerah.

 “Semakin banyak kafe justru semakin beragam pilihan bagi konsumen. Ini membuat saya terus berinovasi. Karena setiap kafe punya karakter dan signature sendiri, konsep, dan target audiens sendiri,” kata Selvina.

Pertumbuhan usaha kedai kopi di Bahodopi menjadi salah satu gambaran efek berganda ekonomi dari aktivitas industri di kawasan IMIP yang tidak hanya menciptakan lapangan kerja langsung, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar. (*)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow