Kementan Kenalkan Teknologi Pengubah CPO Jadi B100 Di PENAS XVII
Kementerian Pertanian (Kementan) memperkenalkan Warehouse Hilirisasi Perkebunan dengan inovasi teknologi bioreaktor yang mampu mengubah minyak sawit mentah (CPO) menjadi bahan bakar nabati 100 persen atau B100, dalam Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo.
Jakarta, 22/6 (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) memperkenalkan Warehouse Hilirisasi Perkebunan dengan inovasi teknologi bioreaktor yang mampu mengubah minyak sawit mentah (CPO) menjadi bahan bakar nabati 100 persen atau B100, dalam Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo.
Teknologi bioreaktor tersebut diperkenalkan Kementan melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), bersama Direktorat Jenderal Perkebunan dan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry dalam keterangannya di Jakarta, Senin menyatakan teknologi tersebut menawarkan solusi energi alternatif berbasis minyak sawit mentah atau CPO untuk menghasilkan biosolar B100.
"Inovasi ini merupakan langkah strategis dalam mendorong transisi energi nasional berbasis sumber daya domestik, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak," katanya.
Dia menegaskan pengembangan teknologi hilirisasi perkebunan sebagai upaya untuk memperkuat kemandirian sektor pertanian Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan energi dan pangan ke depan.
Modernisasi pertanian tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan produksi, tambahnya, tetapi juga pada hilirisasi dan pemanfaatan teknologi agar komoditas perkebunan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
"Inovasi seperti bioreaktor CPO menjadi B100 adalah contoh nyata bagaimana riset dan teknologi dapat menjawab kebutuhan energi nasional,” ujar Fadjry Djufry.
Ia menambahkan bahwa kehadiran Warehouse Hilirisasi Perkebunan di ajang PENAS XVII menjadi sarana penting untuk mempercepat transfer teknologi kepada petani, penyuluh, dan pelaku usaha di seluruh daerah.
"Melalui Gelar Teknologi ini, kami ingin memastikan bahwa inovasi tidak berhenti di laboratorium atau pameran, tetapi benar-benar sampai dan dapat diadopsi oleh petani di lapangan. Hilirisasi harus menjadi gerakan bersama agar perkebunan kita semakin berdaya saing dan berkelanjutan," katanya.
Pada hari pertama (Sabtu, 20/6) sebelum acara pembukaan oleh Wapres Gibran dimulai, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau sejumlah stan Gelar Teknologi yang ditampilkan dalam PENAS XVII, salah satu Gelar Teknologi Hilirisasi Perkebunan yang dikemas dalam sebuah Warehouse Hilirisasi Perkebunan.
Beberapa teknologi yang ditampilkan antara lain pengolahan B100 (biosolar) berbahan baku Crude Palm Oil (CPO) serta teknologi produksi Virgin Coconut Oil (VCO) menggunakan metode kering yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Selain teknologi hilirisasi, Warehouse Hilirisasi Perkebunan juga menampilkan berbagai produk inovatif berbasis komoditas perkebunan yang mendukung program pangan bergizi dan pencegahan stunting.
Produk yang dipamerkan antara lain Minyak Makan Merah, Oleofood Sawit, Jamur Sawit, Gula Merah Sawit, serta berbagai produk pangan berbasis sawit yang kaya akan Vitamin A dan Vitamin E.
Menurut sejumlah pengunjung, kehadiran teknologi bioreaktor CPO menjadi gambaran konkret bagaimana sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, dapat berperan lebih luas dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Selain B100, pengunjung juga diperkenalkan pada pengembangan biodiesel bertahap seperti B35 hingga B50 yang tengah didorong pemerintah sebagai bagian dari penguatan bauran energi nasional.
Selain itu, pemanfaatan limbah perkebunan untuk energi terbarukan seperti biogas dan biopelet juga turut menjadi materi edukasi yang menarik perhatian.
Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII yang digelar selama 20 – 25 Juni 2026 di kawasan GORR David-Tony, Desa Hepu Hulawa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo ini menjadi ajang temu karya, inovasi, kemitraan, serta penguatan kolaborasi antara petani, nelayan, penyuluh pertanian, pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha dari seluruh Indonesia. (antara)
Apa Reaksimu?

