Menggemakan Budaya Indonesia di Negeri Mariachi
Oleh Aditya Pradana Putra
Mexico City, 23/6 (ANTARA) - Selain dijuluki Negeri Sombrero, Meksiko juga dikenal sebagai Negeri Mariachi, tempat lahir dan berkembangnya mariachi, salah satu genre musik khas Amerika Latin.
Dengan beranggotakan lima orang atau lebih, para pemain musik mariachi biasa tampil menghibur dengan busana ala peternak lengkap dengan topi sombrero bertepi lebar di berbagai sudut kota-kota besar Meksiko.
Berinstrumen gitar akustik, terompet, biola, hingga alat musik tradisional vihuela, mereka meramaikan ruang-ruang publik, restoran, hingga berbagai hajatan. Irama mariachi yang cepat dan ceria pun kerap terdengar di banyak sudut kota, termasuk di Mexico City.
Namun, siang itu suasana di salah satu ruang terbuka hijau Mexico City, Bosque de Chapultepec, terasa berbeda. Bukan musik mariachi yang mengalun, tetapi musik dari Indonesia, negeri yang terpisah sangat jauh dari Meksiko oleh bentangan luas Samudra Pasifik.
Di tengah siang yang belum juga terasa terik, denting ritmis gamelan Bali yang rancak, dinamis, dan saling bersahutan segera menarik perhatian para pengunjung taman. Satu per satu mereka berdatangan dan berkerumun untuk menyaksikan permainan musik yang asing di telinga mereka, tapi begitu memikat.
Satu segmen pembuka pertunjukan gamelan Bali usai dimainkan. Tepuk tangan dan siulan nyaring pun langsung bersahutan dari para penonton sebagai bentuk apresiasi.
Tanpa berlama-lama, musik gamelan pun kembali dimainkan. Kali ini, pertunjukan semakin semarak dengan hadirnya para penari yang turut tampil di atas panggung.
Dua penari secara bergantian membawakan Tari Oleg Tamulilingan dan Tari Baris. Penampilan keduanya tak kalah memukau dan sukses menuai aplaus meriah dari ratusan, bahkan mungkin seribuan, penonton yang memadati area pertunjukan.
Kemeriahan belum berhenti. Suasana justru semakin memanas ketika suara "cak, cak, cak, cak, cak..." bergema dari mulut para pemain gamelan yang melantunkannya secara bersahutan. Seolah tengah tampil di teater terbuka Uluwatu, Bali, mereka berakapela sambil mengangkat tangan, menirukan gerakan khas para penari kecak dari Pulau Dewata.
Memasuki segmen penutup, euforia mencapai puncaknya. Para penonton diajak turun ke depan panggung untuk menari bersama diiringi ritme gamelan Bali yang berpadu dengan dentuman drum modern.
Dipandu oleh pembawa acara, para penonton mengikuti gerakan-gerakan tari Bali. Meski banyak yang tampak masih kaku, mereka tetap menari dengan penuh antusias tanpa henti. Raut kegembiraan terlihat jelas di wajah mereka.
Saat pertunjukan berakhir, para penonton spontan memberikan standing applause yang panjang dan meriah, menutup penampilan tersebut dengan kesan yang sulit dilupakan.
Begitulah suasana pertunjukan grup kesenian Bali bernama Gamelan Luz y Fuerza dalam ajang Aldea Global 2026 di Bosque de Chapultepec, Mexico City, Minggu (21/6/2026).
Salah seorang penonton asal Mexico City, Nayeli, mengaku sangat takjub menyaksikan pertunjukan gamelan dan tarian Bali yang sebelumnya belum pernah ia lihat secara langsung.
"Musik, tarian, dan kostum mereka seperti mantra yang memikat kami," kata wanita yang mengaku sebagai salah satu penyuka seni itu.
Nayeli pun berterima kasih atas penampilan para seniman yang dihadirkan KBRI Meksiko karena telah memperluas wawasannya mengenai salah satu kekayaan seni dan budaya Indonesia.
Kehadiran seni Bali di Meksiko
Kehadiran musik gamelan dan tari-tarian Bali di Bosque de Chapultepec menjadi sesuatu yang istimewa di tengah negara yang begitu lekat dengan tradisi musik mariachi. Namun, pertunjukan itu menjadi semakin istimewa ketika diketahui bahwa hampir seluruh anggota Gamelan Luz y Fuerza merupakan warga negara Meksiko.
“Alasan saya membawakan gamelan Bali di Meksiko adalah karena saya percaya aliran musik ini memiliki kekuatan dan keajaiban untuk menyatukan banyak orang serta berbagai komunitas,” kata pemimpin kelompok seni Bali Gamelan Luz y Fuerza, Ethan Zhihao Wang.
Alasan tersebut setidaknya terbukti saat kelompoknya tampil di Bosque de Chapultepec. Masyarakat dari berbagai kalangan tampak antusias berkerumun menyaksikan pertunjukan mereka. Bahkan, tidak sedikit yang ikut menari bersama. Bagi Ethan, sambutan tersebut menjadi sumber energi tersendiri bagi dirinya dan rekan-rekannya.
“Di Meksiko sangat mengejutkan ternyata banyak yang tertarik dengan kesenian ini,” kata pria keturunan Cina dan Amerika Serikat itu.
Dari ketertarikan itulah, lanjut Ethan, akhirnya yang menjadi alasan sejumlah seniman Meksiko berkumpul dan meleburkan diri ke dalam kelompok seni yang ia pimpin, Gamelan Luz Y Fuerza.
Ethan sadar perlu formulasi tersendiri untuk membuat masyarakat Meksiko untuk bisa lebih tertarik pada kesenian Bali yang mereka bawakan.
Oleh karena itu, ia bersama rekan-rekannya memasukkan unsur alat musik yang lebih modern, yaitu drum set, ke dalam pertunjukan-pertunjukan mereka.
"Dengan suara-suara yang lebih familiar dari drum diharapkan membuat mereka lebih tertarik menonton pertunjukan kami," kata musisi yang mengaku belajar langsung dari seniman Bali bernama I Nyoman Suadin.
Setelah mendapatkan respon positif dari publik Meksiko dalam Aldea Global 2026 di Bosque de Chapultepec, Ethan bersama kelompoknya dijadwalkan tampil di panggung yang lebih besar, yakni di El Palacio Nacional, kawasan Zócalo yang merupakan jantung Mexico City.
Ethan berharap di panggung yang lebih luas dan penonton yang diperkirakan jauh lebih banyak itu, penampilan kelompok seninya itu bisa tampil lebih maksimal dalam menghibur sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia.
"Saya sangat berterima kasih kepada KBRI di Meksiko yang telah mendukung kami di banyak hal, dari memberikan ruang latihan, menyediakan alat-alat gamelan, hingga mempersiapkan kami hingga bisa tampil di panggung seperti Aldea Global 2026 ini," kata Ethan.
Sementara itu, salah seorang seniman Meksiko yang tampil bersama Gamelan Luz y Fuerza, Olinka Torres, mengungkapkan bahwa ketertarikannya terhadap kesenian Bali telah tumbuh sejak lebih dari 20 tahun lalu, saat ia masih berusia 12 tahun.
"Saat pertama kali menyaksikannya, saya langsung jatuh cinta," kata seniman yang mahir memainkan tari Oleg Temulilingan.
Hingga pada akhirnya, ketertarikan terhadap seni tari Bali, mendorong Olinka beberapa tahun lalu datang ke Indonesia untuk belajar langsung dengan guru-guru di sana.
"Saya sempat tinggal lama di Bali dan kuliah di ISI Bali," kata Olinka.
Olinka bercerita bahwa dirinya pernah mendirikan sanggar seni Bali di Meksiko dan mengajarkan seni tersebut kepada anak-anak muda setempat.
“Namun, karena kesibukan para anggotanya, sanggar itu akhirnya bubar,” kata Olinka.
Setelah itu, ia lebih sering tampil menari seorang diri dengan iringan musik dari rekaman. Karena itu, Olinka merasa bersyukur kini dapat kembali menari dengan diiringi langsung oleh instrumen gamelan yang dimainkan rekan-rekannya di Gamelan Luz y Fuerza.
Baginya, pengalaman tersebut menghadirkan suasana pertunjukan yang jauh lebih hidup sekaligus memberikan energi yang berbeda dibandingkan tampil dengan musik rekaman.
Dukungan KBRI
Pada kesempatan di acara Aldea Global 2026, Duta Besar Republik Indonesia untuk Meksiko Toferry Primanda Soektikno mengatakan antusiasme masyarakat Meksiko sangat besar pada setiap pertunjukan kesenian budaya Indonesia, termasuk musik gamelan san tari Bali yang dibawakan Gamelan Luz Y Fuerza.
"Salah satunya adalah di Aldea Global 2026 yang kurasi penampilnya ketat," kata Toferry.
Namun, berkat keprofesionalan para seniman kelompok tersebur, kesenian budaya Bali ini bisa tampil unjuk gigi sebagai wakil dari Indonesia.
Meski mayoritas anggotanya merupakan warga negara Meksiko, Toferry menilai kualitas penampilan Gamelan Luz y Fuerza tidak kalah dibandingkan para seniman yang tampil di Indonesia.
"Selanjutnya musik gamelan dan tarian Bali ini akan menggema lebih luas lagi di Zòcalo pada pekan pertama Juli 2026 mendatang," kata Toferry.
Toferry menjelaskan, lokasi pertunjukan yang lebih luas dan berpotensi menarik jumlah penonton yang jauh lebih besar akan menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada publik Meksiko yang lebih luas.
"Acara tersebut harinya bersamaan dengan nonton bareng Piala Dunia 2026 yang biasanya ada sekitar 10.000 orang yang memadati lokasi itu," kata Toferry.
Dukungan terhadap Gamelan Luz y Fuerza, lanjut dia, merupakan bagian dari upaya KBRI Meksiko dalam mempromosikan budaya Indonesia sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
"Selain itu, masyarakat umum pun bisa melihat atau ikut belajar langsung tentang gamelan dan tari Bali melalui Pusat Budaya Indonesia di KBRI," kata Toferry.
Dengan begitu, Toferry berharap kebudayaan Indonesia, salah satunya kesenian Bali, bisa lebih dikenal luas di Negeri Mariachi, Meksiko ini. (antara)
Apa Reaksimu?

