Kursi Wakil Ketua II DPRD Donggala Masih Kosong, 4 Nama Ini Berebut Restu DPP Gerindra

Posisi Wakil Ketua II DPRD Donggala yang ditinggalkan almarhum Asis Rauf hingga kini masih kosong. Meskipun pelantikan Taslim sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW) telah dilaksanakan pada akhir Oktober kemarin, teka-teki mengenai siapa figur definitif yang akan menduduki kursi pimpinan tersebut masih bergulir.

Nov 7, 2026 - 06:23
Kursi Wakil Ketua II DPRD Donggala Masih Kosong, 4 Nama Ini Berebut Restu DPP Gerindra

DONGGALA, METROSULAWESI.NET – Posisi Wakil Ketua II DPRD Donggala yang ditinggalkan almarhum Asis Rauf hingga kini masih kosong. Meskipun pelantikan Taslim sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW) telah dilaksanakan pada akhir Oktober kemarin, teka-teki mengenai siapa figur definitif yang akan menduduki kursi pimpinan tersebut masih bergulir.

Sebagai pemilik sah kursi Wakil Ketua II berdasarkan raihan kursi pada pemilu legislatif, Fraksi Gerindra kini memiliki empat kader potensial yang duduk di parlemen. Mereka adalah Fany Sirey Mowar (istri mantan Ketua DPRD sekaligus Ketua DPC Gerindra Donggala, Moh. Yasin), Moh. Nur (ipar dari Fany Sirey Mowar yang juga adik kandung Moh. Yasin), Taslim, dan Andi Lamangkana.

Keempat legislator Gerindra ini dinilai memiliki peluang yang sama. Melalui kacamata spekulasi politik, masing-masing kandidat membawa modal peruntungan yang berbeda.

Secara singkat, konfigurasinya bisa digambarkan seperti ini: Fany Sirey Mowar bisa jadi menjabat, Taslim sangat mungkin, Moh. Nur pilihan takdir, dan Andi Lamangkana bisa saja memberikan kejutan jika ditunjuk oleh partainya. Namun pada akhirnya, keputusan mutlak berada di tangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerindra.

Di ruang publik Donggala, analisis dan argumen berbasis "cocokologi" pun mulai bermunculan. Mulai dari faktor kedekatan dengan pucuk pimpinan partai, garis struktural di tingkat daerah, hingga desas-desus di akar rumput.

Berikut adalah tiga faktor penentu yang dirangkum dalam spekulasi peta politik internal Gerindra:

Peruntungan ini sangat memengaruhi dan sering kali melampaui analisis struktural biasa. Akses ke tingkat pusat merupakan ruang khusus yang hanya dimiliki oleh segelintir figur. Dari keempat kader Gerindra ini, siapa yang paling dekat dengan pimpinan tertinggi partai? Tentu hanya internal partai yang mengetahui rekam jejak pastinya.

Namun berdasarkan informasi terbatas yang beredar, setidaknya ada dua nama yang memiliki modal kedekatan kuat. Pertama adalah Fany Sirey Mowar, mengingat status suaminya sebagai Ketua DPC Gerindra Donggala. Kedua adalah Taslim.

Meski begitu, Andi Lamangkana tidak boleh dicoret dari peta persaingan. Ia bisa saja menjadi kuda hitam karena dikabarkan memiliki kedekatan tersendiri dengan ketua wilayah di tingkat provinsi.

Faktor kedua yang tidak kalah penting adalah posisi di struktural partai tingkat daerah serta jam terbang sebagai pejabat publik (anggota legislatif). Pengalaman ini berkaitan erat dengan pemahaman seorang legislator terhadap kerja-kerja kedewanan dan kemampuannya membangun kemitraan dengan pimpinan daerah.

Jika merujuk pada indikator ini, nama Moh. Nur menjadi kandidat yang diunggulkan. Selain posisinya di struktural DPC, Moh. Nur sudah memasuki periode keduanya sebagai anggota DPRD Donggala—sebuah modal pengalaman kedewanan yang matang dibandingkan kader lainnya.

Di luar dua faktor di atas, ada satu peristiwa terkini yang menarik untuk ditafsirkan yang mungkin luput dari amatan publik. Hal itu adalah penempatan Taslim dalam Alat Kelengkapan Dewan (AKD) pasca-dilantik akhir Oktober lalu.

Taslim saat ini ditempatkan di Komisi 1. Menariknya, penempatan ini membuat kuota kursi Fraksi Gerindra di komisi tersebut melebihi batas normal yang diatur dalam Tata Tertib (Tatib) DPRD. Meskipun sifatnya sementara—menunggu posisi Wakil Ketua II definitif terisi agar komposisi AKD kembali normal—hal ini memicu pertanyaan kritis.

Mengapa Taslim harus diparkir di Komisi 1 dan bukan komisi lainnya? Apakah ini sinyal bahwa ia sengaja ditempatkan di sana sebelum nantinya naik ke kursi Wakil Ketua II? Atau justru sebaliknya, Andi Lamangkana yang akan naik menjadi Wakil Ketua II sehingga komposisi Fraksi Gerindra di Komisi 1 otomatis kembali normal?

Peta penempatan AKD ini setidaknya melahirkan banyak spekulasi menarik menuju pengisian kursi pimpinan yang ditinggalkan Gerindra.

Saat dimintai tanggapan, Fany Sirey Mowar mengungkapkan bahwa DPC Gerindra Donggala dan DPD Gerindra Provinsi Sulawesi Tengah sebenarnya telah mengusulkan nama-nama dari fraksi ke pihak pusat. Ada tiga nama dari Fraksi Gerindra Donggala yang diajukan ke DPP Gerindra untuk digodok, yakni Fany Sirey Mowar, Moh. Nur, dan Andi Lamangkana.

"Sekarang kami menunggu keputusan dari DPP Gerindra. Sebagai kader Partai Gerindra, jika dipercayakan... sami'na wa atha'na (kami mendengar dan kami taat) apa yang diperintahkan partai, siap dilaksanakan dengan menjaga amanah dari partai," jawabnya melalui pesan singkat WhatsApp, Jumat kemarin. (anc)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow