Nelayan Poso Tak Dapat BBM Subsidi
Sudah cukup lama nelayan di Kabupaten Poso tidak mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Menyusul tidak beroperasinya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).
POSO, METROSULAWESI.NET - Sudah cukup lama nelayan di Kabupaten Poso tidak mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Menyusul tidak beroperasinya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).
"SPBN setempat sudah lama tidak berfungsi, sehingga nelayan terpaksa membeli BBM eceran yang lebih mahal, akses BBM subsidi sangat sulit dan persoalan ini sudah lama terjadi, sementara Pemda tidak ada solusi dan hanya pembiaran terjadi," tutur Hasdiman, salah satu nelayan, warga Kelurahan Kayamanya, kepada Metrosulawesi, Senin 23 Maret 2026.
Akibat dari sulitnya mendapat solar subsidi, para nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut.
Ketiadaan atau tidak berfungsinya SPBN kata dia. memaksa nelayan membeli solar ilegal dengan jeriken atau kapal lain, yang berisiko dan lebih mahal.
Hasdiman mengatakan, perlunya perbaikan distribusi BBM subsidi, pengaktifan kembali SPBN yang mangkrak, serta penyederhanaan prosedur administratif bagi nelayan kecil.
Kondisi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Kompleks Tempat Pelelangan Ikan (TPI), terbengkalai hampir 25 tahun lebih.
Dampak yang dirasakn nelayan, kesulitan memperoleh BBM jenis solar (disel) untuk kebutuhan melaut. Tak ayal nelayan di Poso terpaksa harus mengantri untuk peroleh solar di Stasiun Pengisi Bahan Bakar Umum (SPBU), sehingga tidak sinkron dengan jadwal melaut.
Padahal kata dia, di kompleks TPI Gebangrejo memiliki SPBN sendiri sebagai sarana untuk pengisian bahan bakar bagi nelayan. Namun SPBN tersebut tidak berfungsi sama sekali, padahal sudah hampir dua tahun diperbaiki atau direnovasi dan sudah enam kali pergantian Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Poso, Dedriawan Talingkau, soal belum berfungsinya SPBN saat ditanyakan belum memberikan keterangan penyebab belum beroperasinya SPBN tersebut.
Reporter: Saiful Sulayapi
Editor: Udin Salim
Apa Reaksimu?
