Pemkot Kendari Siapkan Unit Pengolah Darah Guna Cegah Kelangkaan
Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menyiapkan unit pengolah darah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kota untuk memperkuat ketersediaan stok darah dan mencegah terjadinya kelangkaan bagi masyarakat yang membutuhkan layanan medis.
KENDARI, METROSULAWESI.NET - Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menyiapkan unit pengolah darah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kota untuk memperkuat ketersediaan stok darah dan mencegah terjadinya kelangkaan bagi masyarakat yang membutuhkan layanan medis.
Wali Kota Kendari Siska Karina Imran saat ditemui di Kendari, Rabu, menyampaikan fasilitas Unit Pengolah Darah (UPD) RSUD Kendari menjadi tempat pengelolaan darah ketiga yang beroperasi di daerah ini setelah Palang Merah Indonesia (PMI) dan RSUD Bahteramas.
"Dengan hadirnya UPD ini tidak ada lagi masyarakat yang bermasalah dalam kebutuhan dan ketersediaan darah," ujar Siska.
Ia menjelaskan pembangunan gedung UPD ini telah diinisiasi dan dimulai sejak tahun 2025 sebagai bentuk investasi jangka panjang pemerintah daerah dalam membenahi kualitas layanan kesehatan masyarakat.
"Layanan UPD dilengkapi dengan sejumlah fasilitas kesehatan modern lainnya, seperti laboratorium kateterisasi jantung (cath lab), fasilitas hemodialisis (cuci darah), hingga revitalisasi gedung ruang rawat inap baru," ujarnya.
Selain itu Pemkot Kendari menghadirkan inovasi layanan berupa mobil UPD keliling berbasis digitalisasi sistem pengelolaan terpadu guna untuk menjangkau para pendonor di berbagai ruang publik.
"Masyarakat yang ingin mendonorkan darahnya, jika tidak sempat datang langsung ke RSUD, nanti bisa mendatangi unit keliling yang kami siapkan di lokasi publik, seperti seputaran kawasan Eks-MTQ, Taman Kota, dan titik keramaian lainnya, terutama pada akhir pekan," kata Siska.
Langkah tersebut diambil untuk menekan angka penolakan pasien yang disebabkan oleh keterbatasan kapasitas tempat tidur dan fasilitas medis dasar yang selama ini menjadi kendala.
Siska mengungkapkan berdasarkan data internal rumah sakit, pada tahun-tahun sebelumnya penolakan pasien akibat keterbatasan fasilitas sempat mencapai angka 8.000 hingga 9.000 pasien per tahun.
"Ini menunjukkan bahwa sebagai pemerintah kita harus berbenah. Pelayanan kesehatan adalah Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan kebutuhan utama masyarakat. Oleh karena itu kita ubah pola pikir tersebut. Gedung-gedung yang tadinya tidak terpakai kita bongkar, kita rehabilitasi menjadi ruang rawat inap agar tidak ada lagi pasien yang ditolak," ucapnya.
Ia menambahkan pengadaan alat kesehatan (alkes) dan pengembangan sarana di RSUD Kota Kendari dilakukan berbasis kebutuhan riil dokter spesialis serta pasien, bukan sekadar keinginan pejabat semata.
Sementara itu Pelaksana tugas (Plt) Dirut RSUD Kendari Fauziah menambahkan dengan adanya layanan UPD ini bisa menjaga pasokan darah yang kadangkala langkah.
Apalagi Kota Kendari menjadi pusat berbagai pelayanan fasilitas kesehatan, sehingga harus lengkap karena menjadi rujukan pasien dari daerah lain di Sultra.
"Alangkah berdosanya kalau kita sebagai nakes tidak bisa menyediakan darah karena stok darah langka," ucap Fauziah.
Selain melayani pendonor, Fauziah menyampaikan UPD ini juga terbuka bagi masyarakat yang membutuhkan darah untuk pasien di rumah sakit lain.
"Nanti pihak keluarga pasien datang ke UPD ini untuk disiapkan stok darah, masyarakat bukan hanya di Kendari dari daerah lain boleh," tambahnya. (ant)
Apa Reaksimu?

