Pesantren, Cinta, dan Imaji Tentang Santri

Oleh Masuki M. Astro

Jun 18, 2026 - 13:40
Pesantren, Cinta, dan Imaji Tentang Santri
"Novel Bersampul Batik" karya Mohammad Hairul. ANTARA/Masuki M. Astro.

Surabaya, 18/6 (ANTARA) - Kisah cinta antara Mahiru (ustaz di pesantren) dengan Aida (salah satu santriwati brilian dan cerdas), yang berakhir pada "menangnya" relasi kuasa di budaya pesantren dalam satu cerita fiksi, tidak menjadikan martabat lembaga pendidikan berbasis agama Islam tersebut runtuh.

Mohammad Hairul, seorang guru yang juga penggerak literasi nasional, mampu mengemas kisah romantis yang menghadapkan seorang ustaz "bertarung" dengan seorang gus --sebutan hormat untuk anak atau keluarga kiai-- dalam novel berjudul "Novel Bersampul Batik" ini, tidak terjebak dalam narasi menyudutkan, apalagi menghina dunia pesantren.

Novel ini memperkuat keyakinan bahwa pesantren adalah sumur tanpa dasar, menyimpan mozaik kekayaan yang siap digali menjadi rangkaian cerita dalam karya-karya kreatif.

Kisah dalam novel romantis ini merupakan gambaran manusiawi tentang keluarga kiai dan santri, termasuk ustaz, dalam menapaki alur karunia cinta yang dimiliki oleh semua orang, termasuk mereka yang hidup di dalam pesantren.

Kisah yang mengaduk-aduk emosi pembaca ini dimulai dengan alur mundur, ketika tokoh utama Aida yang menjalin kasih dengan sang ustad Mahiru Khair yang berlatar belakang pendidikan sastra, bertugas menggantikan seorang ustazah karena cuti. Kisah dimulai ketika Aida sudah menikah dengan Gus Haikal, keluarga pesantren.

Aida yang menikah dengan Gus Haikal karena menuruti tekanan kakaknya, Halimah, menyimpan rasa cintanya kepada Mahiru dengan cara mengoleksi buku-buku, berupa novel atau kumpulan cerpen karya sang ustaz dalam balutan batik.

Sang gus yang digambarkan sebagai lelaki yang hanya memiliki sampul, sementara hakikat cinta Aida tetap dimiliki Mahiru, suatu hari memergoki istrinya di ruang perpustakaan pribadi sedang membungkus buku dengan kain batik.

Pada perjalanan hidup bersama keluarga pesantren tempat ia menimba ilmu itu, Aida menjadi sadar bahwa batik-batik itu bukan sampul bagi buku. Batik-batik itu menjelma menjadi perban atas luka-luka batinnya harus terpisah dengan pujaan hatinya. Sampul pada luka-luka yang menolak untuk sembuh.

Cerita tentang cinta yang tak sampai itu dikuak oleh Hairul pada momen ketika Gus Haikal mengalah, dan bersedia mengantarkan istrinya, Aida, menghadiri peluncuran buku terbaru karya Mahiru. Bukan mengalah, tapi Gus Haikal yang memaksa Aida untuk menghadiri undangan VIP untuk pasangan tersebut.

Pada acara peluncuran di gedung teater itu, kisah ini sejatinya berakhir. Adegan tegang ketika Mahiru turun dari panggung, kemudian menjumpai Gus Haikal dan Aida.

Pertemuan kekasih yang fisiknya tidak saling memiliki, membuat Gus Haikal tidak mampu mengelak pada pemahaman mengenai kepemilikan sebatas raga atas istrinya, sementara isinya tetap bergelayut di hati sang ustaz yang pernah mengabdi di pesantren milik keluarga si gus.

Pada pertemuan itu, Mahiru, dosen muda dengan karya-karya sastranya yang brilian, menunjukkan kepada sang gus mengenai kepingan penutup paragraf, "... ia membungkus kenangan kami dengan sisa kain batik motif Sido Mukti, berharap kemuliaan palsu itu bisa meredam aroma penyesalan yang menguat dari sela-sela kertas. Namun, ia lupa bahwa angin tak bisa dipenjara oleh selembar wastra."

Mahiru yang oleh penulis novel ditasbihkan sebagai "lelaki penenun angin" tersebut , malam itu tampil gagah dihadapan pemilik resmi sampul buku nikah. Mahiru "menang", memiliki isi dari buku nikah milik Aida.

Penulis novel mengurung pembaca untuk tidak beranjak dari ruangan gedung teater. Namun, ia mengajak pembaca untuk mengikuti kisah manis perjumpaan Mahiru dengan Aida. Gaya penulisan ini menunjukkan kelihaian Hairul memainkan plot cerita yang melompat-lompat.

Keduanya dipertemukan, ketika Mahiru mendapat tugas menggantikan sementara Ustazah Anisa yang cuti hamil besar untuk mengajar di kelas putri Yayasan Darul Marwah. Darul Marwah, tentu bukan nama sebenarnya dari lembaga pendidikan di dunia fakta.

Pada hari pertama pelimpahan tugas, Ustazah Anisa menggoda Mahiru untuk memandang wajah Aida. "Dia (Aida) itu bukan sekadar santri berprestasi. Dia adalah perhiasan Darul Marwah. Siapapun lelaki yang melihatnya , pasti akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Termasuk kamu, kalau kamu berani menatapnya."

Sebagai cerita fiksi, tentu tidak sulit bagi Hairul untuk menempatkan seorang ustaz muda, bujang, dan berkharisma itu mengajar di sarang santri perempuan. Biasanya santri perempuan diajar oleh ustazah.

Dengan aturan yang serba ketat, kisah cinta itu baru terjalin ketika Aida sudah lulus dari pesantren dan pulang kota asalnya di Demak.

Aida yang selama di pesantren menjadi bintang karena prestasi dan wajah cantiknya, tidak memiliki nilai apa-apa di lingkungan keluarganya. Ia hanya menjadi semacam objek untuk dicetak menjadi sesuatu oleh Halimah, kakak, sekaligus pengganti orang tuanya yang sudah meninggal.

Perang keluarga Demak vs goresan cinta dalam balutan batik Mahiru dengan Aida dimulai ketika Kak Halimah mendapati adiknya yang dikenal cerdas dan bintang pesantren itu tidak lulus seleksi kedokteran jalur SNMPTN. Telepon seluler dan riwayat komunikasi Aida dengan Mahiru menjadi dasar Kak Halimah untuk menekan Aida agar menuruti hasrat pencetakan masa depan itu. Hidup Aida dibatasi, tanpa alat komunikasi.

Kisah berikutnya, Aida sempat nekad kabur dari rumah dan menemui Mahiru di rumah dinas dosen di Kota B. Untuk menghindari tuduhan membawa lari anak gadis, di hari pertama bulan puasa, Mahiru mengantar Aida ke rumah sahabatnya ke arah timur dari Kota B. Dalam perjalanan, mereka ditemukan oleh Gus Haikal bersama Kak Halimah.

Mahiru mendapatkan pukulan helm dari Kak Halimah, hingga bibirnya pecah. Kemudian dibawa ke kantor polisi yang memposisikan lelaki penenunan angin tidak memiliki harga sebagai dosen. Urusan tidak menjadi panjang, setelah Aida bersedia untuk kembali pulang ke Demak bersama Kak Halimah.

Cerita berlanjut dengan segala kerumitan dan romantikanya, termasuk ketika Mahiru disidang oleh keluarganya di Madura karena belum menikah, kemudian Aida menikah dengan Gus Haikal.

Cerita diakhiri dengan suasana masih pada peluncuran buku di dalam gedung teater. Kemudian Aida pulang. Di kamar ia membuka lemari pribadinya. Dia menatap tumpukan naskah dan buku karya Mahiru yang masih terbungkus kain batik. Kali ini, Aida membuka buku ustaznya itu tidak dengan rasa bersalah atau sembunyi-sembunyi dari Gus Haikal.

Jika dulu, buku-buku itu adalah wujud "perselingkuhan spiritual" yang menyakitkan, kini kumpulan kata dan kalimat itu adalah saksi sejarah yang terhormat. Ia telah "menikah" dengan takdirnya bersama Gus Haikal, namun jiwanya tetap menjadi penenun angin bersama Mahiru. (ANTARA)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow