Derita Iran, FIFA Yang Tak Berdaya, dan Presiden Yang Narsistik Akut

Pelatih timnas Iran Amir Ghalenoei dongkol setelah timnya dipaksa segera meninggalkan bumi Amerika Serikat begitu laga berkesudahan 2-2 melawan Selandia Baru usai.

Jun 17, 2026 - 20:30
Derita Iran, FIFA Yang Tak Berdaya, dan Presiden Yang Narsistik Akut
Timnas Iran foto bersama jelang laga melawan Selandia Baru. FOTO: INSTAGRAM

JAKARTA, METROSULAWESI.NET- Pelatih timnas Iran Amir Ghalenoei dongkol setelah timnya dipaksa segera meninggalkan bumi Amerika Serikat begitu laga berkesudahan 2-2 melawan Selandia Baru usai.

Ghalenoei ingin timnya diizinkan menginap dulu barang beberapa jam sebelum kembali ke Tijuana di Meksiko agar kondisi fisik para pemain kembali bugar.

Skuad Iran tiba di AS Minggu pukul 16.00, dan menjalani pertandingan keesokan harinya pada pukul 18.00. Tapi segera setelah laga itu usai pihak berwajib di AS meminta mereka segera hengkang malam itu juga.

Tak heran Ghalenoei sampai menilai timnya adalah tim yang paling dizolimi.

Kapten timnas Iran, Mehdi Taremi, mengamini suara hati pelatihnya.

"Ini tidak baik untuk sepak bola karena dalam Piala Dunia, kita harus menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi pertandingan berikutnya," kata Taremi seperti dikutip BBC.

Menurut Taremi, timnas Iran tak bisa didampingi staf pendukung skuad karena AS menolak memberikan visa kepada mereka.

Taremi menjelaskan ini semua dengan tenang dan malah diselipi senyum kecut yang melukiskan ketabahan orang Iran dalam menghadapi masalah.

Iran akan kembali ke Los Angeles untuk melawan Belgia pada 21 Juni jam 12 siang, dan kemudian ke Seattle di negara bagian Washington, untuk laga terakhir Grup G melawan Mesir pada 27 Juni, pukul 8 malam.

Seandainya Iran lolos ke fase gugur, maka mereka akan bertanding di Seattle lagi jika menjuarai Grup G, di Arlington jika menjadi runner up Grup, dan East Rutherford jika menjadi peringkat ketiga terbaik.

Jarak Tijuana-Seattle adalah 2.049 km, Tijuana-Arlington 2.174 km, dan Tijuana-East Rutheford 4.459 km.

Bayangkan jika Iran lolos ke babak knockout, betapa lelah pemain-pemain Iran karena harus 24 jam bolak balik mencapai dan meninggalkan kota-kota itu, apalagi Rutheford yang setara jarak Jakarta ke Biak di Papua Barat.

Iran juga mengeluhkan jatah tiket Piala Dunia untuknya yang dibatalkan satu malam sebelum kickoff Piala Dunia 2026.

Mereka mendesak FIFA agar menegakkan prinsip netralitas dan keadilan. Tapi FIFA tak bisa berbuat apa-apa, dengan alasan tak ingin mencampuri kewenangan pemerintah AS.

Rangkaian kejadian ini bertolak belakang dengan tekad FIFA yang ingin menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai Piala Dunia paling inklusif dan paling menyatukan umat manusia.

Makin defensif

Sebaliknya, Donald Trump malah ingin menjadikan turnamen ini sebagai ajang yang digelar oleh Amerika seorang, sehingga semua pihak harus tunduk kepada aturan mereka.

Tapi FIFA agaknya mulai kecewa kepada Trump. Salah satu bentuk kekecewaan itu adalah keputusan Presiden FIFA Gianni Infantino mengunjungi skuad Iran di ruang ganti pemain setelah pertandingan melawan Selandia Baru tersebut.

Infantino berusaha meredakan kemarahan tim Iran, dan memberi pesan bahwa apa yang terjadi pada Iran tak ada kaitan dengan FIFA.

Namun FIFA tetap dikritik, termasuk karena membiarkan harga tiket melambung tinggi, sehingga banyak penggemar loyal sepak bola tak mampu membelinya.

Menurut laporan Associated Press, harga tiket terendah pertandingan Piala Dunia 2026 adalah 140 dolar (Rp2,48 juta) untuk fase grup, sedangkan harga tiket pertandingan final yang awalnya 8.580 dolar AS (Rp154 juta), naik hingga 10.990 dolar AS (Rp195 juta) pada Mei.

Harga-harga itu bisa naik lagi jika orang-orang menjual lagi tiket yang sudah mereka beli.

Wartawan sepak bola The Athletic. Henry Bushnell, sampai menyatakan FIFA gagal menyediakan tiket yang terjangkau penggemar murni sepak bola.

FIFA sendiri makin defensif. Mereka semakin tak berdaya di hadapan pemimpin egoistis narsistik seperti Trump.

Kabar terbaru menyatakan FIFA membolehkan Trump menyerahkan trofi Piala Dunia dan berselebrasi dengan tim juara dunia kelak.

Trump ingin mengulangi kejadian pada Piala Dunia Antarklub 2025 ketika Chelsea menjuarai turnamen itu.

Saat itu Trump menyerahkan trofi juara kepada kapten Chelsea, Reece James, dan tetap di panggung juara untuk mengikuti selebrasi juara bersama pemain-pemain Chelsea.

Padahal protokol FIFA menetapkan trofi akan tetap berada di atas dan dibawa oleh tim juara ke podium seremoni juara. Pejabat yang menyerahkan trofi sebaiknya segera pergi meninggalkan seremoni itu.

Kabar terakhir dari Trump ini sungguh tidak enak didengar oleh sejumlah tim, termasuk Spanyol yang favorit kuat juara Piala Dunia 2026.

Itu karena pemerintah Spanyol berseberangan dengan Trump dalam banyak hal, mulai dari soal Greenland, Palestina, NATO, sampai Perang Iran.

Narsistik ganas

Apa jadinya jika Spanyol juara dan harus merayakan kesuksesan itu bersama Trump yang tak henti menyerang sikap Spanyol dan PM Pedro Sanchez. Yang lucu adalah jika dalam seremoni itu Lamine Yamal yang pro Palestina, membawa atau mengenakan simbol-simbol Palestina, berada di samping Trump yang sangat pro Israel.

Skenario lebih menggelikan lagi adalah seandainya Iran yang menjuarai Piala Dunia 2026, walau skenario ini nyaris mustahil terjadi.

Keinginan Trump untuk mengikuti seremoni juara sepertinya tak bisa ditahan oleh FIFA, karena memang sulit menolak keinginan pemimpin narsistik seperti Trump.

Trump dianggap oleh banyak pakar kesehatan mental sebagai sosok yang menunjukkan ciri-ciri narsistik​​​​ akut, seperti menganggap diri paling penting dan selalu butuh dikagumi oleh yang lain.

John Gartner, psikolog Universitas Johns Hopkins di AS, bahkan menilai Trump mengalami gangguan mental. Dia menyebut Trump "narsistik ganas."

Ciri-ciri orang seperti ini, kata Gartner, adalah sering berbohong, menipu, menyakiti orang lain, melanggar aturan, dan tidak pernah menyesal, tapi sebaliknya merasa diserang orang lain, megaloman, dan merasa berada di atas semua orang.

Rasanya ciri itu cenderung melekat pada diri Trump, yang memang kerap melihat dunia dari sudut pandangnya seorang, sampai perang yang bisa berdampak luas seperti Perang Iran pun dia putuskan tanpa konsultasi dengan sekutu-sekutu AS, padahal dampaknya mencapai mereka.

Akhirnya para pemimpin Barat enggan berkoalisi dengannya dalam perang itu, bahkan menentangnya, termasuk PM Spanyol Pedro Sanchez yang timnasnya menjadi favorit juara Piala Dunia 2026.

Kanselir Jerman, Friedrich Merz, bahkan menyebut keputusan perang Trump di Iran sebagai sangat sembrono karena tak memikirkan dampaknya terhadap dunia, khususnya pada sistem harga dan perekonomian global. Itu termasuk fluktuasi valuta asing, khususnya terhadap dolar AS, terutama bagi negara-negara yang membayar impor minyaknya dengan dolar AS.

Negara-negara tersebut pasti dibuat kaget oleh harga minyak yang tiba-tiba meroket akibat perang yang dikobarkan Trump terhadap Iran, sehingga dolar AS yang harus dikeluarkan negara-negara itu membayar impornya menjadi jauh lebih banyak dari biasanya, sampai kemudian menekan sistem harga secara keseluruhan akibat kurs dolar AS yang terus naik.

"Dia seharusnya melihat kekacauan yang telah dia buat," kata Wakil Kanselir Jerman yang juga Menteri Keuangan, Lars Klingbeil, seperti dikutip DW pada 1 Mei.

Trump tentu saja enggan mendengarkan kritik semacam ini.

Sebagaimana biasa, dia tak mengindahkan keluhan yang lain, termasuk mereka yang menginginkan Piala Dunia 2026 dilaksanakan seinklusif dan sesportif mungkin, di dalam maupun di luar lapangan.

Sebaliknya dia ingin terus dimuliakan, salah satunya dengan meminta FIFA membolehkannya turut dalam seremoni tim juara Piala Dunia kelak, yang justru tabu bagi FIFA. (ant)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow