Lebaran: Dari Tradisi Maaf hingga Harmoni Bangsa
Oleh: Dr Mohsen Hasan Alhinduan,Lc.MA, Dosen UNISA kota Palu, Sulteng
HARI Sabtu 1 Syawal 1447 /21 Maret 2026 adalah hari Idul Fitri.Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh melaksanakan "Open Hause" "Rumah Terbuka " lebih awal sekaligus "Halal bil Halal. Apakah hal itu sebenàrnya?
Setiap kali gema takbir berkumandang menandai datangnya Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha, masyarakat Indonesia memasuki satu fase yang bukan hanya religius, tetapi juga sangat kultural dan sosial. Ucapan “mohon maaf lahir dan batin”, “minal ‘aidin wal faizin”, hingga “taqabbalallahu minna wa minkum” menjadi bahasa universal yang melintasi batas usia, status sosial, bahkan agama.
Fenomena ini begitu khas—bahkan sering kali diikuti oleh saudara-saudara non-Muslim yang turut hadir dalam suasana hangat “open house” atau halal bihalal. Pertanyaannya, sejak kapan tradisi ini muncul? Apakah ia bagian dari ajaran Islam murni, ataukah hasil akulturasi budaya Nusantara?
Jejak Sejarah: Antara Syariat dan Budaya Nusantara
Secara normatif, Islam memang mengajarkan pentingnya saling memaafkan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT
berfirman tentang keutamaan memberi maaf dan menahan amarah. Rasulullah ﷺ juga mencontohkan akhlak pemaaf sebagai inti dari kesempurnaan iman.
Namun, istilah dan bentuk praktik seperti “halal bihalal” bukan berasal dari tradisi Arab, melainkan tumbuh subur di Indonesia. Banyak sejarawan mengaitkan munculnya istilah ini pada masa awal kemerdekaan Indonesia, khususnya pada era Soekarno.
Dikisahkan, pada tahun 1948, di tengah situasi politik yang penuh konflik, Presiden Soekarno meminta saran kepada ulama besar KH Wahab Chasbullah untuk meredakan ketegangan antar elit politik. KH Wahab kemudian mengusulkan konsep “halal bihalal”, yakni forum silaturahmi untuk saling memaafkan dalam suasana Idul Fitri.
Sejak saat itu, tradisi ini berkembang luas, tidak hanya di lingkungan pemerintahan, tetapi juga di masyarakat umum—bahkan menjadi identitas khas Islam Indonesia.
Kalimat seperti “minal ‘aidin wal faizin” sering dipahami sebagai “semoga kembali suci dan menjadi orang yang menang”. Walaupun secara bahasa bukan hadits Nabi, ungkapan ini telah menjadi simbol doa dan harapan.
Adapun “taqabbalallahu minna wa minkum” memiliki akar yang lebih kuat dalam tradisi Islam, yang berarti “semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian”.
Sedangkan “mohon maaf lahir dan batin” mencerminkan kedalaman budaya Nusantara—menggabungkan dimensi spiritual (batin) dan sosial (lahir) dalam satu ungkapan yang sederhana namun menyentuh.
Halal Bihalal dan Open House: Ritual Sosial yang Menguatkan Bangsa
Tradisi “open house” atau saling mengunjungi rumah untuk bersilaturahmi menjadi bagian penting dari Lebaran. Ini bukan sekadar makan bersama, tetapi simbol keterbukaan, penerimaan, dan persaudaraan.
Dalam perspektif sosiologi, halal bihalal berfungsi sebagai:
- Katup pelepas konflik sosial
- Media rekonsiliasi antar individu dan kelompok
- Penguat jaringan sosial dan kekeluargaan
Menariknya, di Indonesia, tradisi ini juga melibatkan non-Muslim. Mereka datang, bersalaman, bahkan mengucapkan selamat. Ini menunjukkan bahwa Lebaran telah menjadi ruang kebersamaan nasional, bukan sekadar ritual keagamaan.
Di balik tradisi ini, terdapat hikmah yang sangat dalam:
- Pembersihan Jiwa (Tazkiyatun Nafs). Memaafkan bukan hanya membebaskan orang lain, tetapi juga membebaskan diri dari beban emosi negatif.
- Rekonstruksi Hubungan Sosial. Banyak hubungan yang renggang kembali terjalin karena momentum Lebaran.
- Latihan Kerendahan Hati Meminta maaf, bahkan kepada yang lebih muda, adalah bentuk ketundukan ego yang luar biasa.
- Penguatan Ukhuwah dan Persatuan. Dalam konteks bangsa, ini menjadi energi sosial yang menjaga stabilitas dan harmoni.
Lebaran sebagai Wajah Islam Nusantara
Tradisi halal bihalal dan saling memaafkan menunjukkan bahwa Islam di Indonesia tidak hanya berpegang pada teks, tetapi juga mampu berdialog dengan budaya. Ia menjadi Islam yang ramah, inklusif, dan membangun.
Lebaran bukan hanya tentang kembali ke fitrah secara individu, tetapi juga tentang mengembalikan harmoni sosial secara kolektif.
Pada akhirnya, tradisi ini mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya setelah menahan lapar dan dahaga, tetapi setelah mampu menaklukkan ego, membuka hati, dan memaafkan dengan tulus.
Lebaran di Indonesia adalah bukti bahwa agama dan budaya dapat bersinergi melahirkan peradaban yang hangat—di mana satu kalimat sederhana, “mohon maaf lahir dan batin”, mampu menyatukan hati yang sempat terpisah. (*)
Apa Reaksimu?
