Direktur Keuangan Pelindo Sosialisasikan Penataan Peta Peran Korporasi Pelindo Group di Regional 4 Pantoloan

Penataan Operating Model Diharapkan Perkuat Akuntabilitas, Sinergi, dan Kecepatan Eksekusi Pelindo Group

Sep 25, 2026 - 12:58
Direktur Keuangan Pelindo Sosialisasikan Penataan Peta Peran Korporasi Pelindo Group di Regional 4 Pantoloan
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo terus melanjutkan transformasi korporasi melalui Penataan Peta Peran Korporasi Pelindo Group. Program tersebut disosialisasikan oleh Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Bachtiar Soeria Atmadja, dalam kunjungan kerja ke Pelindo Regional 4 Pantoloan, Rabu (23/9/2026). FOTO: HUMAS PELINDO

PALU, METROSULAWESI.NET— PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo terus melanjutkan transformasi korporasi melalui Penataan Peta Peran Korporasi Pelindo Group. Program tersebut disosialisasikan oleh Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Bachtiar Soeria Atmadja, dalam kunjungan kerja ke Pelindo Regional 4 Pantoloan, Rabu (23/9/2026).

Sosialisasi kali ini menjadi bagian dari rangkaian transformasi Pelindo pascapenggabungan BUMN kepelabuhanan yang diarahkan pada penguatan struktur bisnis, organisasi, dan tata kelola. Materi sosialisasi menjelaskan bahwa penataan peta peran dilakukan dalam konteks penyelarasan mandat strategis, visi dan misi, RJPP, serta arahan pemegang saham.

Dalam paparannya, Bachtiar menjelaskan bahwa transformasi tersebut membawa perubahan pada operating model dan parenting style Pelindo Group, dengan penekanan pada kejelasan fungsi dan tanggung jawab setiap entitas.

Dalam model yang diarahkan ke depan, Kantor Pusat Pelindo berperan sebagai Active Management, Regional menjalankan fungsi sebagai Business Owner, sedangkan Anak Usaha menjalankan fungsi sebagai Business Operator.

“Penataan peta peran ini bukan sekadar penyesuaian struktur organisasi, tetapi merupakan upaya untuk memperjelas mandat, kewenangan dan akuntabilitas setiap entitas dalam Pelindo Group. Dengan peran yang semakin jelas, kita ingin memastikan bahwa pengambilan keputusan, pengelolaan bisnis, dan pelaksanaan operasional dapat berjalan lebih efektif serta saling terintegrasi.” Ujar Bachtiar Soeria Atmadja, Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia (Persero).

Regional Didorong Menjadi Business Owner

Dalam materi sosialisasi dijelaskan bahwa Regional ke depan akan menjalankan fungsi Business Owner, antara lain dengan mengelola bisnis regional, bertanggung jawab atas laba rugi regional, mengembangkan pelanggan lokal, menangkap dan menumbuhkan peluang bisnis, menjaga hubungan dengan stakeholder, mengorkestrasi aktivitas operasional lintas anak usaha di wilayah, serta mengoptimalkan aset regional dan utilisasi kapasitas.

Sementara itu, Anak Usaha diarahkan menjadi Business Operator, dengan fokus pada penyelenggaraan operasi sehari-hari, pemenuhan layanan berdasarkan SLA, pengembangan kompetensi inti dan keahlian teknis, standardisasi operasi, serta peningkatan produktivitas.

Perubahan tersebut diharapkan dapat membangun hubungan kerja yang lebih jelas antara fungsi korporasi, Regional dan Anak Usaha, sekaligus mendorong koordinasi yang lebih efektif di dalam ekosistem Pelindo Group.

“Regional memiliki kedekatan dengan pasar dan stakeholder di wilayahnya. Karena itu, Regional perlu memiliki peran yang kuat sebagai Business Owner untuk menangkap peluang, mengembangkan pelanggan, mengoptimalkan aset dan menciptakan pertumbuhan bisnis regional. Di sisi lain, anak usaha dapat semakin fokus pada operational excellence dan service excellence,” lanjut Direktur Keuangan Pelindo.

Implementasi Dilakukan Secara Bertahap

Materi sosialisasi menjelaskan bahwa perubahan akan dilakukan secara bertahap mulai 1 Oktober 2026, yang disebut sebagai fase interim, dan selanjutnya dilanjutkan menuju fase end-state. Pada fase interim, struktur korporasi eksisting tetap dipertahankan, namun fungsi organisasi dijalankan dengan mengacu pada struktur target, dengan Regional menjalankan peran sebagai Business Owner.

Dalam materi staging implementasi, TPK Pantoloan tercantum dalam lingkup tahap pertama bersama sejumlah cabang lainnya. Penyesuaian berikutnya dilakukan secara bertahap pada kelompok entitas berikutnya sesuai tahapan implementasi yang telah disiapkan.

Hal ini menunjukkan bahwa proses transformasi disiapkan secara bertahap untuk memberikan ruang bagi organisasi dalam melakukan penyesuaian proses bisnis, struktur pelaporan, dan pola koordinasi.

Tujuh Manfaat Strategis Penataan Peta Peran

Penataan peta peran yang disosialisasikan dalam kunjungan kerja tersebut diarahkan untuk menghasilkan sejumlah manfaat strategis.

Pada aspek organizational and governance, perusahaan menargetkan kejelasan aspek legal dan governance serta clear accountability & faster execution. Kejelasan ownership, mandat, dan kewenangan diharapkan dapat mengurangi area abu-abu dan mempercepat pengambilan keputusan serta eksekusi peluang bisnis dan investasi.

Pada aspek business effectiveness, penataan tersebut diarahkan untuk mendorong integrated business & customer management melalui kejelasan penanggung jawab pelanggan serta memperkuat sinergi dan kapabilitas antar-service line dan Regional.

Sementara pada aspek value & performance optimization, manfaat yang diharapkan mencakup optimalisasi aset dan modal secara network-wide, penyederhanaan transaksi dan efisiensi perpajakan, serta optimalisasi pendanaan dan likuiditas Grup.

Bagian dari Transformasi Pelindo Berkelanjutan

Penataan peta peran merupakan bagian dari transformasi Pelindo yang telah berlangsung sejak merger empat BUMN kepelabuhanan. Pelindo sendiri mencatat kinerja yang terus bertumbuh. Pada 2025, pendapatan usaha mencapai Rp35,48 triliun, meningkat 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Arus petikemas mencapai 19,8 juta TEUs, sementara kontribusi Pelindo kepada negara mencapai Rp7,81 triliun. Hingga Mei 2026, arus petikemas Pelindo mencapai 8,21 juta TEUs, tumbuh 7% secara year-on-year.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan skala organisasi dan operasi Pelindo yang semakin besar, sehingga penguatan tata kelola, kejelasan akuntabilitas, dan efektivitas pengambilan keputusan menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan transformasi.

“Kita ingin transformasi ini menghasilkan cara kerja yang lebih jelas, terintegrasi dan memberikan nilai tambah. Kejelasan peran bukan berarti bekerja sendiri-sendiri, tetapi justru memperkuat kolaborasi karena setiap entitas memahami tanggung jawabnya dan bagaimana kontribusinya terhadap tujuan Pelindo Group secara keseluruhan,” tutur Bachtiar Soeria Atmadja.

Pantoloan Siap Mendukung Implementasi

Bagi Pelindo Regional 4 Pantoloan, sosialisasi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman jajaran terhadap arah perubahan dan mempersiapkan pelaksanaan peran baru Regional dalam mendukung pertumbuhan bisnis di wilayah.

Implementasi peta peran yang lebih jelas diharapkan dapat memperkuat kemampuan Regional dalam mengembangkan bisnis captive, menangkap peluang regional, mengoptimalkan aset, membangun hubungan dengan stakeholder, serta mengorkestrasi aktivitas operasional anak usaha di wilayahnya.

“Kami melihat penataan peta peran ini sebagai momentum untuk memperjelas tanggung jawab Regional dalam mengelola bisnis dan mengembangkan peluang di wilayah. Dengan peran Regional sebagai Business Owner, kami perlu semakin proaktif membaca kebutuhan pasar, membangun hubungan dengan pelanggan dan stakeholder, mengoptimalkan aset, serta memastikan koordinasi dengan anak usaha berjalan efektif,” ujar Chaerur Rijal.

Menurutnya, kejelasan pembagian peran antara Kantor Pusat, Regional, dan Anak Usaha akan membantu organisasi bekerja lebih fokus sesuai fungsi masing-masing. Regional dapat lebih berkonsentrasi pada pengembangan bisnis captive, pemanfaatan aset, hubungan stakeholder dan pertumbuhan pelanggan lokal, sementara anak usaha menjalankan fungsi operasional dengan fokus pada operational excellence dan service excellence, sebagaimana arah transformasi yang disampaikan dalam sosialisasi.

Pada akhirnya, transformasi tersebut diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan organisasi yang lebih jelas secara struktur, tetapi juga mendukung integrasi ekosistem kepelabuhanan Indonesia. Materi sosialisasi menempatkan integrasi tersebut sebagai bagian dari upaya mendorong industri yang lebih kompetitif, penurunan biaya logistik, dan peningkatan perdagangan melalui konektivitas pelabuhan dan rantai logistik yang semakin terintegrasi.

“Bagi kami di Pantoloan, implementasi ini harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Kami akan memperkuat koordinasi internal, memastikan komunikasi dengan pengguna jasa dan stakeholder tetap terjaga, serta mengidentifikasi peluang bisnis yang dapat memberikan nilai tambah bagi wilayah dan Pelindo Group,” tambahnya.

Chaerur juga menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam mengikuti perubahan tersebut. Menurutnya, transformasi organisasi membutuhkan pemahaman yang sama mengenai mandat, kewenangan, akuntabilitas dan pola koordinasi agar perubahan dapat berjalan efektif.

“Yang paling penting adalah seluruh jajaran memahami perannya masing-masing. Struktur boleh berubah secara bertahap, tetapi yang harus segera dibangun adalah mindset dan cara kerja yang lebih kolaboratif, responsif dan berorientasi pada penciptaan nilai,” ujarnya.

Pelindo Regional 4 Pantoloan berkomitmen mendukung proses transformasi tersebut melalui kesiapan organisasi, koordinasi antarfungsi dan entitas, serta peningkatan kualitas layanan kepada pengguna jasa dan stakeholder di wilayah Sulawesi Tengah. (adv)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow