PGI Gelar Pelatihan Penulisan Sejarah Gereja, Enam Sinode Perkuat Komitmen Melestarikan Warisan Iman

GPID Tuan Rumah Pelatihan yang Berlangsung di Jemaat Bahtera Pantoloan, Dorong Dokumentasi Sejarah Gereja bagi Generasi Mendatang

Nov 7, 2026 - 20:43
PGI Gelar Pelatihan Penulisan Sejarah Gereja, Enam Sinode Perkuat Komitmen Melestarikan Warisan Iman

PALU, METROSULAWESI.NET- Sejarah gereja bukan sekadar catatan tentang masa lalu, melainkan bagian penting dari identitas, perjalanan iman, dan kesaksian pelayanan umat Tuhan. Kesadaran inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan Pelatihan Penulisan Sejarah Gereja oleh Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), yang diikuti enam sinode gereja di Sulawesi dan berlangsung pada 6–9 November 2026 di Gereja GPID Jemaat Bahtera Pantoloan.

Kegiatan yang menjadikan Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) sebagai tuan rumah ini diikuti oleh enam sinode, yakni Sinode GPIBT, Sinode GKLB, Sinode GKST, Sinode GPIG, Sinode GPIBK, dan Sinode GPID. Pertemuan lintas sinode tersebut menjadi ruang pembelajaran bersama untuk memperkuat kemampuan dokumentasi, penelitian, dan penulisan sejarah gereja di masing-masing lingkungan pelayanan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah pembukaan pada Jumat (6/11/2026) pukul 13.30 WITA. Ibadah dipimpin oleh Ketua Umum Majelis Sinode Harian GPID, Pdt. Alexander Zeth Rondonuwu, M.Teol., yang bertindak sebagai khadim. Sementara itu, pelatihan secara resmi dibuka oleh Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI, Pdt. Dr. Tertius Lantigimo, M.Teol.

Penyelenggaraan pelatihan ini menjadi momentum penting bagi gereja-gereja untuk menyadari bahwa banyak pengalaman pelayanan, perjuangan para perintis, perkembangan jemaat, serta dinamika kehidupan bergereja di tingkat lokal belum terdokumentasi secara memadai. Padahal, berbagai catatan tersebut merupakan bagian dari warisan sejarah yang memiliki nilai penting bagi kehidupan gereja.

Dalam pelatihan kali ini MPH PGI melalui biro litbang menghadirkan narasumber dari Pusat Dokumentasi Sejarah Gereja Indonesia (PDSGI) Jakarta, dibawa pengelolaan Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta (STFT Jakarta), dimana mengelola dan mendokumentasikan arsip dan Sejarah gereja di Indonesia. Juga menghadirkan narasumber khusus dari Family Search dari Malaysia dan Amerika Serikat.

Sejarah Gereja sebagai Identitas dan Warisan Iman

Dalam materi pelatihan, peserta diajak memahami pentingnya sejarah gereja sebagai bagian dari perjalanan iman dan pembentukan identitas gerejawi. Penulisan sejarah tidak hanya bertujuan merekam peristiwa masa lalu, tetapi juga menjadi sarana refleksi untuk memahami bagaimana gereja bertumbuh, menghadapi tantangan, dan menjalankan panggilan pelayanannya dari generasi ke generasi.

Pembahasan turut menelusuri perkembangan gereja sejak masa awal kekristenan, termasuk peran tokoh-tokoh gereja seperti Polikarpus dan Ignatius dari Antiokhia, hingga dinamika perkembangan gereja dalam konteks modern, termasuk perjalanan gereja Protestan dan Ortodoks Timur.

“Melalui pemahaman tersebut, peserta diharapkan dapat melihat bahwa sejarah gereja lokal memiliki keterkaitan dengan perjalanan kekristenan yang lebih luas. Kisah para pendiri, pelayan, tokoh jemaat, perkembangan organisasi, hingga berbagai peristiwa penting dalam kehidupan gereja merupakan sumber pengetahuan yang perlu dihimpun dan diwariskan,” ucap Pdt. Dr. Tertius Lantigimo, M.Teol.

Penulisan sejarah juga dipandang sebagai bentuk tanggung jawab gereja dalam menjaga ingatan kolektif, sehingga pengalaman iman dan pelayanan yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya tidak hilang seiring berjalannya waktu.

Memperkuat Dokumentasi dan Kolaborasi Lintas Sinode

Salah satu perhatian utama dalam pelatihan ini adalah tantangan penulisan sejarah gereja lokal yang selama ini belum sepenuhnya terdokumentasi. Tidak sedikit informasi mengenai perjalanan jemaat dan sinode yang masih tersimpan dalam ingatan para tokoh, arsip pribadi, dokumen lama, maupun catatan pelayanan yang belum tersusun secara sistematis.

Karena itu, peserta diperkenalkan pada pentingnya metode penulisan sejarah, pengumpulan informasi, pemanfaatan sumber dokumentasi, serta refleksi pribadi dalam menyusun narasi sejarah gereja.

Kegiatan ini juga membuka ruang kolaborasi antarsinode untuk saling berbagi pengalaman, bertukar informasi, dan memperkaya perspektif dalam memahami perjalanan gereja masing-masing.

Kehadiran enam sinode dalam satu forum pembelajaran menjadi gambaran nyata semangat kebersamaan gereja-gereja dalam memperkuat pelayanan dan menjaga warisan sejarah. Perbedaan latar belakang, pengalaman, dan tradisi gerejawi diharapkan menjadi kekayaan yang dapat saling melengkapi dalam proses pendokumentasian sejarah.

Sejalan dengan Semangat Oikoumene PGI

Pelatihan penulisan sejarah gereja ini sejalan dengan semangat oikoumene yang menjadi landasan kebersamaan gereja-gereja dalam Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia.

PGI dalam sejarah pembentukannya pada 25 Mei 1950 telah menempatkan kebersamaan gereja-gereja sebagai wadah untuk mewujudkan keesaan melalui persekutuan, kesaksian, pelayanan, serta saling menolong. Semangat tersebut terus menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antargereja di Indonesia.

Selain itu, penguatan dokumentasi sejarah juga memiliki relevansi dengan upaya PGI mengembangkan pengelolaan arsip dan informasi gerejawi. Melalui program dokumentasi digital dan pendampingan penulisan sejarah gereja, PGI mendorong gereja-gereja anggotanya untuk membangun dokumentasi yang lebih tertata, kredibel, dan dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan identitas dan warisan pelayanan gereja di tengah perubahan zaman.

Peserta Didorong Menyelesaikan Penulisan Sejarah Gereja

Dalam rangkaian pembelajaran, peserta juga mendapatkan penekanan mengenai pentingnya komitmen untuk menindaklanjuti pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan.

Setiap peserta diharapkan menyelesaikan tugas penulisan sejarah gereja masing-masing dalam waktu satu bulan setelah pelatihan. Proses tersebut akan difasilitasi melalui diskusi dan kolaborasi antarpeserta, sehingga hasil pembelajaran dapat diterapkan secara nyata.

Hasil penulisan nantinya diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi internal, tetapi juga dapat dibagikan kepada warga gereja dan komunitas yang lebih luas sebagai sumber pembelajaran serta refleksi perjalanan iman.
Melalui kegiatan ini, PGI bersama enam sinode berharap semakin banyak gereja lokal yang memiliki dokumentasi sejarah secara tertulis, sehingga perjalanan pelayanan, perjuangan para pendahulu, dan kesaksian iman jemaat dapat terus dikenang dan diwariskan.

Pelatihan yang berlangsung hingga 9 November 2026 ini diharapkan menjadi awal dari penguatan gerakan dokumentasi sejarah gereja yang berkelanjutan, sekaligus mempererat kebersamaan antarsinode dalam semangat persekutuan dan pelayanan.

“Sebab, memahami sejarah bukan hanya tentang mengenang apa yang telah terjadi, tetapi juga belajar dari perjalanan masa lalu untuk membangun kehidupan gereja yang lebih baik pada masa kini dan masa mendatang,” lanjut Pdt. Dr. Tertius Lantigimo, M.Teol. (adv)

 

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow