Purbaya: Pertamax Berpotensi Turun Ikuti Harga Minyak Dunia

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berpendapat harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax berpotensi menurun seiring dengan pergerakan harga minyak dunia.

Jun 22, 2026 - 20:59
Purbaya: Pertamax Berpotensi Turun Ikuti Harga Minyak Dunia
Petugas bersiap melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Jalan Veteran, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (10/6/2026). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz/pri.

JAKARTA, METROSULAWESI.NET- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berpendapat harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax berpotensi menurun seiring dengan pergerakan harga minyak dunia.

“Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun, sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan makin kuat,” kata Purbaya dalam rapat bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta, Senin.

Purbaya menjelaskan perekonomian global mendapat harapan dari terbukanya peluang perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Bila perdamaian itu terwujud, kata Purbaya, stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan dapat membaik, biaya dana atau cost of fund makin kompetitif, dan investasi terus menguat.

“Artinya momentum pertumbuhan harusnya membaik ke depan. Karena kita tahu, salah satu tekanan yang kita alami adalah ketika harga minyak dunia naik, kita terpaksa menaikkan sebagian harga BBM yang tidak bersubsidi, walaupun yang bersubsidi kita pertahankan,” ujarnya menambahkan.

Dia mengamini perubahan harga BBM non-subsidi itu memberikan tekanan terhadap masyarakat. Namun, menurut dia, data-data ekonomi yang terlihat saat ini menunjukkan arah perbaikan.

“Kalau dari data yang kita lihat sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan, tinggal memperbaiki fondasi yang sudah ada. Supaya dengan perbaikan yang ada, kita bisa tumbuh lebih optimal,” jelasnya.

Menkeu pun berharap peluang perdamaian antara AS dan Iran dapat menurunkan harga minyak dunia sehingga Indonesia bisa mencetak kinerja ekonomi yang lebih positif pada semester II-2026.

Adapun pada paruh pertama 2026, Purbaya menilai perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah perekonomian global masih dibayangi berbagai ketidakpastian.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 tercatat mencapai 5,61 persen, inflasi tetap terjaga pada level rendah, neraca perdagangan mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026, cadangan devisa berada pada level yang memadai, penyaluran kredit tumbuh dua digit, dan sektor manufaktur kembali berada dalam zona ekspansif.

Situasi itu, kata dia, mengindikasikan kepercayaan pasar mulai meningkat. (ant)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow