Antiklimaks ala Timnas Turki

Timnas Turki harus mengubur mimpi untuk berbicara banyak di Piala Dunia 2026 setelah menelan dua kekalahan beruntun pada pertandingan Grup D.

Jun 20, 2026 - 18:38
Antiklimaks ala Timnas Turki

JAKARTA, METROSULAWESI.NET- Timnas Turki harus mengubur mimpi untuk berbicara banyak di Piala Dunia 2026 setelah menelan dua kekalahan beruntun pada pertandingan Grup D.

Setelah melalui fase panjang pada babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa, Turki harus melihat mereka hanya bisa menjadi penggembira, bukan pesaing serius seperti yang diharapkan banyak pihak.

Perjalanan Turki menuju putaran final memang tidak mudah. Mereka lolos melalui jalur yang berliku setelah finis sebagai peringkat kedua Grup E Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa dengan 13 poin dari enam pertandingan, di bawah Spanyol yang melaju otomatis sebagai juara grup.

Turki kemudian harus menjalani dua laga play-off sebelum akhirnya memastikan tiket ke putaran final dengan menyingkirkan Rumania dan Kosovo.

Namun, perjuangan panjang tersebut tidak berlanjut manis di putaran final. Pada laga pertama Grup D, Turki kalah 0-2 dari Australia, sebelum kembali tumbang 0-1 dari Paraguay pada pertandingan kedua.

Dua kekalahan beruntun itu membuat Turki menjadi tim kedua yang dipastikan tersingkir di fase grup Piala Dunia 2026 setelah Haiti di Grup C.

Meski masih menyisakan satu pertandingan melawan tuan rumah Amerika Serikat, kemenangan tidak akan mengubah nasib mereka. Turki tetap akan finis di posisi juru kunci karena kalah head-to-head dari Australia maupun Paraguay jika nantinya memiliki jumlah poin yang sama.

Kegagalan Turki untuk sekadar lolos dari fase grup saat datang dengan status unggulan ternyata bukan hal baru. Seolah-olah, Turki memiliki kebiasaan mengalami antiklimaks ketika datang sebagai salah satu kuda hitam atau bahkan kandidat kuat dalam sebuah turnamen besar.

Bukan yang pertama

Jika menoleh ke Euro 2016, Turki berhasil mencapai putaran final dengan status salah satu peringkat ketiga terbaik pada babak kualifikasi.

Saat itu mereka finis di posisi ketiga Grup A Kualifikasi Euro 2016 di bawah Republik Ceko dan Islandia. Menariknya, Turki mampu berada di atas Belanda.

Belanda yang berstatus semifinalis Piala Dunia 2014 gagal mengalahkan Turki dalam dua pertemuan. Skuad asuhan Fatih Terim bermain imbang 1-1 di Amsterdam sebelum menang telak 3-0 di Konya.

Dengan modal menjanjikan dari kualifikasi, Turki kemudian tergabung di Grup D Euro 2016 bersama Spanyol, Kroasia, dan Republik Ceko.

Hasilnya jauh dari harapan. Turki kalah dari Kroasia dan Spanyol, lalu meraih kemenangan atas Republik Ceko.

Meski mampu memetik tiga poin pada laga terakhir, hasil itu tidak cukup. Turki gagal masuk ke dalam empat peringkat ketiga terbaik yang berhak lolos ke babak 16 besar.

Empat tahun kemudian, Turki kembali lolos ke putaran final Euro 2020 setelah finis sebagai runner-up Grup H kualifikasi.

Mereka mengumpulkan 23 poin dan hanya terpaut dua angka dari Prancis yang menjadi juara grup.

Pada fase kualifikasi, Turki tampil impresif dengan mengalahkan Prancis 2-0 di Konya dan menahan imbang Les Bleus 1-1 di Stade de France.

Turki kemudian tergabung di Grup A Euro 2020 bersama Italia, Wales, dan Swiss. Secara kasat mata, mereka setidaknya memiliki peluang untuk finis sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik.

Optimisme pun mengiringi langkah Turki ke turnamen tersebut. Selain tampil meyakinkan di kualifikasi, mereka juga diperkuat generasi pemain yang menjanjikan.

Nama-nama seperti Caglar Soyuncu, Cengiz Under, Hakan Calhanoglu, hingga striker veteran Burak Yilmaz menjadi andalan skuad saat itu.

Namun kenyataan kembali berbicara lain. Turki menelan tiga kekalahan beruntun dari Italia, Wales, dan Swiss sehingga tersingkir tanpa meraih satu poin pun.

Hasil antiklimaks yang sangat mengecewakan itu berujung pada mundurnya pelatih Senol Gunes. Ironisnya, Gunes adalah sosok yang pernah membawa Turki menciptakan kejutan besar dengan mencapai semifinal Piala Dunia 2002.

Langsung alihkan fokus ke 2028 dan 2030

Setelah menelan hasil mengecewakan pada Piala Dunia 2026, Turki harus segera mengalihkan fokus mereka ke Euro 2028 dan Piala Dunia 2030.

Dalam kualifikasi Euro 2028, Turki berada di pot pertama. Situasi ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena mengurangi peluang mereka bertemu tim-tim besar sejak awal.

Jika berhasil lolos ke putaran final, target mereka setidaknya adalah menyamai pencapaian di Euro 2024.

Pada Euro 2024, Turki tampil cukup impresif dengan melaju hingga perempat final sebelum disingkirkan Belanda dengan skor 1-2.

Sementara itu, peluang untuk kembali tampil di Piala Dunia 2030 juga masih terbuka lebar, tergantung hasil pengundian babak kualifikasi dan kesiapan tim dalam beberapa tahun ke depan.

Federasi serta pelatih Vincenzo Montella, jika masih dipertahankan, harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang agar Turki kembali menjadi peserta turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Lolos ke putaran final bukanlah target yang mustahil, terlebih setelah jumlah peserta Piala Dunia bertambah menjadi 48 tim sejak edisi 2026.

Penambahan kuota itu seharusnya menjadi motivasi bagi Turki untuk tidak hanya lolos, tetapi juga mampu berbicara banyak setiap kali tampil di putaran final.

Setelah mulai rutin tampil di Euro, langkah berikutnya adalah memastikan kehadiran secara konsisten di Piala Dunia dan tidak sekadar menjadi pelengkap.

Tantangan terbesar mereka adalah membuktikan mampu bersaing di level tertinggi serta menghindari antiklimaks yang berulang kali terjadi pada turnamen-turnamen sebelumnya.

Sebanyak 86 juta rakyat Turki tentu berharap tim nasional mereka kembali menciptakan kejutan seperti yang pernah dilakukan Hakan Sukur dan rekan-rekannya saat menembus semifinal Piala Dunia 2002. (ant)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow