Dampak El Nino Produksi Listrik Menurun
Musim kemarau yang melanda saat ini menyebabkan penurunan debit air di Danau Poso. Akibatnya, produksi energi listrik yang dihasilkan oleh PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) Poso Energy pun menurun.
PALU, METROSULAWESI.NET - Musim kemarau yang melanda saat ini menyebabkan penurunan debit air di Danau Poso. Akibatnya, produksi energi listrik yang dihasilkan oleh PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) Poso Energy pun menurun.
Kepala Humas PT Poso Energy M Syafri mengatakan, kondisi tersebut tidak hanya dialami PLTA Poso Energy, tetapi semua pembangkit yang bahan bakunya dari air mengalami hal serupa.
“Semua pembangkit Tenaga Air yang masuk di system PLN Sulawesi seperti PLTA Bakaru, PLTA Malea, PLTA Bili2 dan PLTA Poso yang bahan bakunya air semua berkurang produksinya,” kata Syafri saat dihubungi Metrosulawesi, Selasa 1 September 2026.
Syafri mengatakan, fenomena El Nino di musim kemarau semester II tahun 2026 menyebabkan berkurangnya curah hujan di wilayah catchment area Danau Poso, yang mengakibatkan penurunan elevasi Danau Poso yang lebih rendah dibandingkan musim kemarau tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut, dapat memengaruhi pola operasi waduk, namun produksi energi masih bisa terpenuhi dengan intensitas di atas normal. Jika intensitas di Bawah normal, maka pasokan listrik berpotensi akan berkurang.
Ditanya soal suplai listrik? Syafri mengatakan, pihaknya sebatas memproduksi dan menyalurkannya ke PLN. Selanjutnya, PLN lah yang berwenang menyuplai kebutuhan listrik ke pelanggan.
Seperti diberitakan sebelumnya, PT Poso Energy saat ini mengatur porsi energi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, untuk di suplai kepada PLN guna menjaga stabilitas pasokan selama menghadapi El Nino.
"Kami memasok energi listrik dari PLTA Poso untuk empat provinsi di Sulawesi, sehingga perlu dilakukan pengaturan porsi sebagai strategi menjaga keandalan pasokan listrik," kata Manager PT Poso Enery Asmaruddin, Jumat.
Ia menjelaskan fenomena El Nino pada musim kemarau semester II 2026 menyebabkan berkurangnya curah hujan di wilayah Danau Poso sebagai sumber pembangkit, sehingga elevasi danau berada pada posisi lebih rendah dibandingkan musim kemarau tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi itu, menurut Asmaruddin, memengaruhi pola operasi waduk. Akan tetapi perusahaannya berkomitmen penuh dalam mengupayakan produksi energi listrik tetap terpenuhi sesuai rencana, dengan proyeksi jika musim penghujan berlangsung pada akhir Oktober hingga Desember 2026 dengan intensitas volume hujan di atas normal.
"Jika akhir Oktober sampai Desember sudah masuk musim penghujan dengan intensitas di atas normal, produksi energi masih bisa terpenuhi sesuai rencana. Namun jika intensitas hujan di bawah normal, pasokan listrik berpotensi berkurang," ujar dia.
Langkah mitigasi itu yakni mengatur porsi produksi energi pada semester II dengan porsi lebih besar pada periode musim penghujan. Porsi produksi pada musim penghujan ditetapkan sebesar 55 persen, sedangkan produksi pada musim kemarau sebesar 45 persen.
Berdasarkan data Poso Energy kapasitas listrik terpasang sebesar 515 megawatt (MW) dihasilkan PLTA Poso, kemudian disalurkan dan didistribusikan oleh PLN untuk melayani kebutuhan masyarakat maupun sektor industri di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara. (din/ant)
Apa Reaksimu?

