Sulteng Kembangkan Produk UMKM Siap Ekspor

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Dinas Koperasi dan UKM menancapkan tonggak baru dalam penguatan ekonomi daerah pada Selasa, 1 September 2026.

Sep 3, 2026 - 05:30
Sulteng Kembangkan Produk UMKM Siap Ekspor
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulteng, Sunarno. (Foto: METROSULAWESI/ Michael Simanjuntak)

PALU, METROSULAWESI.NET - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Dinas Koperasi dan UKM menancapkan tonggak baru dalam penguatan ekonomi daerah pada Selasa, 1 September 2026. 

Lewat program Inkubasi UMKM yang baru pertama kali diselenggarakan, sebanyak 26 pelaku UMKM terpilih digembleng untuk menembus pasar luar negeri.

Langkah strategis ini menjadi jawaban atas tantangan pengembangan ekonomi berbasis komoditas lokal. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulteng, Sumarno, menegaskan bahwa orientasi utama pendampingan ini adalah mentransformasi kapasitas pelaku usaha dari skala mikro menjadi menengah yang siap bersaing di tingkat global.

"Inkubasi UMKM ini dalam rangka memberikan pendampingan lanjutan kepada para pelaku usaha kecil menengah untuk meningkatkan kelas, yang tadinya mungkin usaha mikro menjadi usaha menengah. Kemudian tujuan selanjutnya adalah dalam rangka supaya mereka bisa tumbuh dengan baik dan berorientasi menembus pasar ekspor," terang Sumarno.

Dalam memilih peserta pelatihan, seleksi berlangsung sangat ketat. Dari sekitar 200 pelaku usaha yang mendaftar dari seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah, dinas menjaring 26 wirausaha potensial. 

Mereka mengusung lima komoditas unggulan daerah, yakni perikanan, cokelat, kopi, durian, serta rumput laut. Berbeda dari pola lama yang berfokus pada bahan mentah, program ini mewajibkan peserta memproduksi barang olahan bernilai tambah tinggi. 

"Yang mau diekspor bahan yang sudah jadi, bukan bahan baku. Misalnya durian, bukan durian buah utuh, bukan. Sudah menjadi selai durian, dodol durian, mungkin juga permen durian yang rasa durian. Demikian juga cokelat, rumput laut, kalau kelapa ya mungkin jadi VCO (Virgin Coconut Oil)," jelas Sumarno.

Program pendampingan akan berjalan selama empat bulan diawali dengan pelatihan intensif empat hari yang mengupas tuntas teknik branding serta daya pikat kemasan (packaging). Sumarno meyakini visual kemasan merupakan pintu masuk utama untuk menarik hati konsumen internasional.

"Orang mau membeli produk biasanya yang dilihat pertama adalah kemasannya dulu. Kemasannya bagus, menarik, biasanya itu yang dilirik duluan. Kalau untuk produk-produk yang sifatnya masih tradisional, kemasannya juga menyesuaikan. Misalnya di sini kan banyak bahan baku bambu, nanti pembungkusnya pakai tabung bambu yang kecil-kecil isi kopi, tapi di dalamnya pakai yang higienis seperti aluminium foil. Tradisional tapi menarik dan dimodernisasi," paparnya.

Target awal ekspor menyasar Guangzhou, Tiongkok, dengan memanfaatkan rute penerbangan langsung via jalur udara agar kualitas produk tetap segar dan tiba lebih cepat.

Sumarno menyuarakan optimismenya bahwa pengiriman perdana dapat terwujud sebelum akhir tahun 2026. 

Lebih dari sekadar meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), keberhasilan ekspor ini diyakini membawa dampak berganda (multiplier effect) yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah.

"Begitu tenaga kerja terserap banyak, otomatis mereka mendapatkan gaji dan pendapatannya naik. Mereka akan belanja ke pasar atau ke mana saja untuk beli sesuatu, sehingga perputaran ekonomi berjalan. Pengangguran juga otomatis menjadi berkurang," tandas Sumarno.

Reporter: Michael Simanjuntak 
Editor: Udin Salim

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow