Kisah Haji Dulla Memetik Rupiah dari Isi Perut Pekerja IMIP: Modal Nekat 1,5 Bulan, dari Pikap Kecil ke Truk
Said Abdullah adalah salah seorang pengepul hasil sayur hasil panen petani di lembah Napu. Dia kemudian membawa hasil panen itu Kawasan PT IMIP di Kabupaten Morowali. Hasilnya luar biasa. Berikut ini kisah selengkapnya.
FAJAR belum lama menyingsing di Lembah Napu, Kabupaten Poso. Udara dataran tinggi yang dingin menusuk kulit, namun Said Abdullah alias Haji Dulla tampak santai duduk di teras rumah panggungnya. Ditemani segelas kopi hangat yang mengepul, tatapannya lekat memandangi hamparan hijau tanaman sawi dan kol yang tumbuh subur di sekitar rumahnya.
"Ini pekerjaan saya. Setiap pagi duduk sambil menunggu pekerja datang," ujar Haji Dulla membuka obrolan dengan media ini, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Di balik ketenangannya pagi itu, pria yang juga berprofesi sebagai pengacara ini sebenarnya tengah menggerakkan roda bisnis yang masif. Haji Dulla adalah satu dari sekian banyak pengepul dan vendor yang menjadi penyambung hidup bagi urat nadi pangan di Kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), raksasa komoditas nikel yang berjarak ratusan kilometer dari rumahnya.
Lembah Napu kini bukan sekadar tempat tinggal baginya, melainkan lumbung pangan strategis yang ikut mencukupi kebutuhan ribuan isi perut pekerja tambang di Kawasan IMIP Morowali.
Usaha yang dirintis Haji Dulla sebenarnya terbilang seumur jagung—-baru berjalan satu setengah bulan. Namun, pertumbuhan bisnisnya melesat bak roket. Dia memulai peruntungan ini hanya dengan satu unit mobil pikap kecil.
"Namanya juga mobil kecil, kapasitas mengangkutnya pun tidak banyak. Maksimal satu hingga dua ton sekali angkut," kenang Haji Dulla.
\
Pekerja mengatur muatan kol ke atas mobil. Muatan disusun rapi biar bisa menampung banyak. FOTO: IST
Saat itu, dalam sebulan dia hanya bisa memasok tiga komoditas utama—kol, sawi putih, dan cabai merah keriting—-sebanyak empat kali pengiriman ke gudang penampungan di IMIP. Namun kini, dari keuntungan yang diputar cepat itu, sebuah truk besar berhasil dibelinya untuk menambah armada angkut.
Perubahan armada ini otomatis melipatgandakan pundi-pundi rupiahnya. Jika dulu kapasitasnya terbatas, kini dengan truk, keuntungan yang diraupnya jauh lebih menggiurkan.
"Sekarang sekali angkut bisa dapat Rp33 juta. Bersihnya sekitar Rp28 jutaan setelah dipotong biaya operasional dan lain-lain. Jadi kalau sebulan empat kali kirim, bisa dapat Rp100 juta lebih," ungkapnya tersenyum.
Sortasi Ketat dan Kerugian Rp3 Juta
Menjadi pemasok untuk perusahaan multinasional seperti IMIP tentu bukan perkara mudah. Standar tinggi menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. Sebelum sayur-mayur dimuat ke atas truk, proses seleksi ketat wajib dilakukan di Lembah Napu.
Kol dan sawi yang dibawa harus benar-benar segar, bebas dari ulat, dan memiliki bobot minimal 1 kilo per biji yang sesuai standar baku. Jika meleset sedikit saja, taruhannya adalah penolakan total di gudang penampungan di IMIP. Haji Dulla sudah kenyang memakan asam garam itu di awal usahanya itu.
"Saya pernah kecolonghan pada awal-awal usaha. Ada sekitar 300-an biji sawi yang saya bawa ditolak karena berulat. Hari itu saya rugi sekitar tiga jutaan rupiah," ceritanya.
Pengalaman pahit itu menjadi pelajaran berharga bagi Haji Dulla. Kini, untuk memperkuat sistem rantai pasoknya, Haji Dulla tengah bersiap membangun gudang sortir khusus di Napu. Di gudang inilah nantinya seluruh hasil panen petani akan dikumpulkan dan diseleksi ketat sebelum menempuh perjalanan jauh ke Morowali.
Efek Domino yang Mengubah Pola Tanam Petani
Kehadiran IMIP terbukti menciptakan efek domino ekonomi yang luar biasa. Denyutnya tidak hanya dirasakan di Bahodopi, Morowali, tetapi bergetar kuat hingga ke pelosok Sulawesi Tengah, bahkan menembus batas ke Sulawesi Selatan.
Di Lembah Napu, efek ini mengubah lanskap pertanian warga. Banyak petani yang semula setia menanam padi, kini berbondong-bondong beralih menjadi petani sayur demi mengejar pasar IMIP yang menjanjikan.
"Tanaman padi itu lambat panennya, hasilnya pun tidak seberapa. Sementara kol dan sawi itu cepat dipanen, hasilnya pun menjanjikan," aku Cunding, salah satu petani di Napu yang selama sudah menjadi mitra Haji Dulla.
Bagi Cunding dan petani lainnya, Haji Dulla bukan sekadar pembeli, melainkan juru selamat bermodal. Haji Dulla menerapkan sistem kemitraan dengan menyokong modal awal berupa bibit, obat-obatan, hingga alat pertanian. Berkat bantuan ini, para petani bisa fokus mengolah lahan tanpa perlu pusing memikirkan biaya produksi. Begitu panen tiba, hasilnya pun sudah pasti ditampung oleh Haji Dulla.
Pasar Raksasa yang Belum Mampu Dipenuhi
Potensi pasar di IMIP memang sangat mengerikan. Pada tahun 2017, saat jumlah karyawan masih berada di angka 11 ribuan, kebutuhan sayur di kawasan industri tersebut hanya berkisar 1 ton per hari.
Namun, per Juli 2026, data Departemen HR PT IMIP seperti dikutip dari laman imip.co.id, mencatat jumlah tenaga kerja aktif telah melonjak tajam mencapai 97.427 orang. Angka ini bahkan belum termasuk sekitar 20.000 tenaga kerja alih daya (outsourcing) di berbagai perusahaan kontraktor pendukung.
Pertumbuhan masif ini membuat kebutuhan konsumsi sayur harian di IMIP meroket ke angka 15 hingga 24 ton per hari. Ironisnya, potensi pasar sebesar ini belum mampu dioptimalkan secara penuh oleh daerah lokal.
"Sampai saat ini kebutuhan itu belum bisa dipasok sepenuhnya oleh petani lokal Sulawesi Tengah. Petani lokal kita kewalahan. Maka, pasokan besar yang masuk untuk memenuhi kebutuhan itu justru banyak datang dari Enrekang, Sulawesi Selatan," keluh Haji Dulla.
Jeritan Modal dan Janji Manis KUR
Melihat kenyataan bahwa daerahnya masih kalah bersaing dengan pasokan luar provinsi, Haji Dulla menyayangkan satu hal: kendala modal yang mencekik para petani lokal. Lahan di Lembah Napu sangat luas dan subur, namun minat besar masyarakat sering kali membentur tembok tebal perbankan.
Haji Dulla mengkritik keras program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pemerintah yang dinilainya masih menjadi macan kertas bagi masyarakat bawah.
"Mereka punya lahan, tetapi tidak punya modal. Program KUR yang digembor-gemborkan pemerintah belum berjalan seperti yang dijanjikan," cetus Haji Dulla.
Menurutnya, pihak perbankan seharusnya bergerak progresif beriringan dengan hadirnya raksasa industri seperti IMIP untuk menangkap peluang ekonomi ini. Prosedur yang rumit dan penuh "embel-embel" membuat petani lokal kesulitan mengakses bantuan modal resmi.
"Seperti di Napu ini banyak petani yang ingin berusaha, tapi terkendala modal. Akhirnya, kami-kami yang mandiri ini yang terpaksa memodali mereka," pungkasnya.
Di tengah keterbatasan itu, Haji Dulla memilih tidak mau menyerah pada keadaan. Mengusung prinsip "pelan-pelan tapi pasti", ia kini bersiap membidik komoditas pangan lain di luar sayur untuk memperluas ekspansinya. Dari teras rumah panggungnya di Lembah Napu, ia membuktikan bahwa rezeki nikel Morowali bisa dipetik lewat hijaunya hamparan sawi. (udin salim/metrosulawesi)
Apa Reaksimu?

