Lagu Daerah Kaili dan Krisis Identitas Musikal
Oleh: Akhsan Intje Makkah
DI tengah kekayaan musik tradisional Nusantara, lagu daerah umumnya memiliki identitas yang kuat dan mudah dikenali. Lagu Sunda, Jawa, Bali, Minangkabau, Batak, Bugis–Makassar, Manado, hingga Ambon, masing-masing memiliki ciri musikal yang khas. Bahkan tanpa syair, hanya melalui musik atau instrumentalnya, pendengar dapat menebak dari mana asal sebuah lagu.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya dimiliki oleh lagu daerah Kaili. Secara musikal, lagu Kaili kerap sulit dibedakan dari lagu daerah lain. Tidak jarang, ketika dimainkan secara instrumental, nuansanya terdengar seperti lagu Bugis atau daerah lain di Sulawesi. Akibatnya, lagu Kaili belum memiliki penanda bunyi (sonic identity) yang kuat dan langsung dikenali.
Pandangan ini juga diakui oleh salah seorang penyanyi legendaris Kaili, Laela Bahasyuan. Ia menuturkan bahwa sering kali ia sendiri keliru mengenali lagu Kaili.
“Begitu memang. Biasa saya dengar lagu Kaili dangdut Bugis, saya kira lagu Bugis. Eh, ternyata lagu Kaili. Banyak yang begitu saya dengar,” ujarnya.
Namun Laela juga menegaskan bahwa ada lagu-lagu Kaili yang mampu bertahan lintas generasi. Ia mencontohkan karya almarhum Hasan Mohammad Bahasyuan, yang banyak ia nyanyikan. Lagu-lagu karya Hasan Bahasyuan tersebut, menurutnya tetap abadi hingga kini. “Lagu-lagu almarhum Hasan Mohammad Bahasyuan itu abadi. Sampai kapan pun tetap disukai, tua dan muda. Karena syairnya begitu indah didengar, tidak akan pernah bosan,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan lagu Kaili sejatinya bukan semata pada melodi, tetapi juga pada kualitas syair dan daya sentuh emosionalnya. Ketika syair lahir dari pengalaman, rasa, dan nilai lokal yang kuat, lagu Kaili justru mampu bertahan melampaui zaman.
Kegelisahan tentang identitas musikal ini juga lama dirasakan oleh para pencipta lagu Kaili sendiri. Salah satunya disampaikan oleh H. Rudi Lanena, pencipta lagu Kaili, yang mengisahkan proses awal penciptaannya. Sebelum berkarya, ia mengaku banyak bertanya kepada mereka yang lebih dahulu memahami lagu Kaili, meskipun kebanyakan belajar secara otodidak.
“Katanya lagu Kaili ini ada tintonik Cina sebagai dasar,” ujarnya. Pemahaman itulah yang kemudian ia gunakan dalam proses berkarya.
Berangkat dari pengalaman budaya masyarakat Kaili, ia memilih suasana nompaova, ketika orang tua mengayun anaknya sambil melantunkan irama lembut, sebagai pijakan estetika. Dari proses tersebut lahirlah lagu “Kutove” pada tahun 1982. Lagu ini bukan hanya sekadar komposisi musik, melainkan upaya membangun kedekatan emosional antara lagu Kaili dan kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Namun, menurutnya, tantangan lagu Kaili kini justru semakin kompleks. “Apalagi sekarang ini, nanti dengar bahasanya di lagu baru, baru tahu itu lagu Kaili,” tuturnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa identitas lagu Kaili saat ini lebih mudah dikenali dari bahasa atau syair, bukan dari karakter musikalnya.
Di sisi lain, lagu Kaili yang disajikan secara murni mengikuti pola lagu rakyat tradisional juga menghadapi keterbatasan peminat, terutama di kalangan generasi muda. Bentuknya sering dianggap terlalu sederhana, kurang dinamis, dan kalah bersaing dengan musik daerah lain maupun musik populer modern. Ironisnya, lagu daerah Kaili pun kerap terasa “asing di rumahnya sendiri”, sementara masyarakatnya justru lebih akrab menyanyikan lagu dari daerah lain.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan lagu Kaili bukan semata persoalan musikal, melainkan juga persoalan kultural dan psikologis: sejauh mana masyarakat Kaili merasa memiliki dan terhubung dengan lagunya sendiri. Tanpa ikatan emosional itu, lagu daerah berisiko hanya menjadi simbol budaya, bukan praktik budaya yang hidup.
Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi seniman Kaili hari ini. Menjaga akar tradisi tetap penting, tetapi mempertahankannya secara beku justru dapat menjauhkan lagu Kaili dari masyarakatnya. Pembaruan kreatif menjadi keniscayaan, bukan dengan menanggalkan jati diri, melainkan dengan menemukan kembali ciri khas musikal Kaili melalui perpaduan melodi, ritme, syair, dan pengalaman hidup masyarakatnya.
Membangun identitas lagu daerah Kaili berarti menggali kembali sumber-sumber lokal seperti "Maliuntinuvu", bahasa Kaili, nilai keluarga, alam, dan sejarah, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa musik yang hidup dan komunikatif. Tanpa upaya sadar dan berkelanjutan, lagu Kaili berisiko hanya tersimpan dalam arsip, bukan dalam ingatan kolektif masyarakatnya.
Pada akhirnya, keberlangsungan lagu daerah Kaili bukan hanya tanggung jawab seniman, tetapi juga tanggung jawab bersama: pendidik, media, lembaga kebudayaan, dan masyarakat Kaili sendiri. Lagu daerah hanya akan memiliki identitas jika ia dinyanyikan, dicintai, dan dirasakan sebagai milik oleh masyarakatnya.
*) Penulis adalah Pengarang Lagu-Lagu Kaili
Apa Reaksimu?
