Aksara Bahasa Kaili Ledo: Telaah Sistem Bunyi, Kekeliruan Penulisan, dan Pemulihan Nomenklatur.
Oleh: Akhsan Intje Makkah
BAHASA Kaili merupakan salah satu bahasa daerah di Sulawesi Tengah yang kaya akan nilai budaya dan memiliki sistem fonetik khas. Sebagai bahasa ibu bagi masyarakat Kaili, pelestarian aksara dan bunyi yang otentik sangat penting dalam upaya menjaga kemurnian bahasa. Namun, dalam praktik sehari-hari, terdapat sejumlah kekeliruan penulisan akibat pengaruh bahasa asing, terutama bahasa Belanda. Tulisan ini membahas daftar aksara bahasa Kaili, aksara yang tidak digunakan, kekeliruan umum dalam penulisan, penyebab terjadinya kekeliruan, serta urgensi pemulihan nomenklatur di Tanah Kaili agar kembali pada sistem bunyi aslinya.
Daftar Aksara Bahasa Kaili
Mengacu pada bunyi dalam bahasa Kaili, aksara yang digunakan terdiri atas: A, B, mB, C, D, nD, E, G, nG, nGG, H, I, J, nJ, K, L, M, N, O, P, mP, R, S, T, nT, U, V, Y.
Kehadiran aksara seperti mB, nD, nG, nGG, nJ, dan nT menunjukkan bahwa bahasa Kaili memiliki sistem fonetik khas berupa konsonan pranasal (nasal rangkap) yang membedakan bunyi dari bahasa lain.
Aksara yang Tidak Digunakan
Dalam bahasa Kaili tidak dikenal bunyi dengan aksara berikut: F, Q, W, X, Z.
Apabila huruf-huruf tersebut muncul dalam penulisan, maka dapat dipastikan bukan berasal dari kosakata asli bahasa Kaili. Misalnya, kata waktu itu yang sering digunakan masyarakat, seharusnya ditulis uatu hai. Begitu pula kata warung lebih tepat ditulis uaru, dan takdir ditulis uere.
Kekeliruan Umum
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah penggantian bunyi V dengan huruf W. Contoh: kata uve (air) sering ditulis uwe. Kekeliruan ini menyebabkan pergeseran makna fonetik serta mengurangi keaslian bahasa Kaili.
Kekeliruan tersebut muncul akibat pengaruh bahasa Belanda. Dalam sistem fonetik Belanda, huruf “W” sering kali dilafalkan mendekati bunyi “V”, sehingga terjadi pergeseran dalam penulisan bahasa Kaili. Akibatnya, masyarakat terbiasa menuliskan uve menjadi uwe, padahal secara fonetik hal itu tidak sesuai dengan bunyi asli.
Pemulihan Nomenklatur Tanah Kaili
Selain dalam kosakata sehari-hari, kekeliruan penulisan juga terjadi pada nomenklatur resmi di Tanah Kaili, khususnya dalam penamaan wilayah administratif seperti desa, kelurahan, kecamatan, maupun kabupaten/kota. Banyak nama tempat yang seharusnya menggunakan konsonan V, namun karena pengaruh penulisan kolonial Belanda berubah menjadi W.
Contoh kasus: Menurut salah seorang pemerhati bahasa Kaili yg mantan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Donggala, Drs. Sajaun, M.pd, perlu dipertimbangkan untuk mengembalikan nomenklatur ataupun nama-nama wilayah di daerah ini."Saya sangat setuju kalau nama-nama desa/tempat yg ada di Kota Palu, Kab. Donggala, Kab. Sigi, Kab. Parimo dan mungkin jg Kab. Tojo Una-unayg sekarang ini memakai huruf W dikembalikan ke V : Vatutela, Vatusampu, KaVatuna, Valaangguni, Vunta, Vani, Vatatu, Vombo, Vatunonju, Vera PeVunu, PombeVe!
Watunonju (Kabupaten Sigi) seharusnya ditulis Vatunonju. Watulemo (Kota Palu) seharusnya ditulis Vatulemo. Watusampu (Kota Palu) seharusnya ditulis Vatusampu.
Menurutnya Perubahan ini bukan sekadar teknis linguistik, melainkan menyangkut identitas dan pelestarian kearifan lokal. Nama-nama wilayah adalah simbol sejarah, budaya, dan keberadaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Urgensi Pemulihan Bunyi Asli
Ada beberapa alasan mengapa pemulihan nomenklatur ini penting:
Pelestarian Identitas Bahasa
Dengan mengembalikan nama wilayah pada bentuk fonetik aslinya, bahasa Kaili dipertahankan keasliannya sekaligus memperkuat identitas masyarakat penuturnya.
Konsistensi Ilmiah
Bahasa sebagai sistem ilmiah harus konsisten dengan kaidah bunyi yang berlaku. Penulisan nama yang tidak sesuai menyebabkan distorsi dalam kajian linguistik maupun dokumentasi sejarah.
Legitimasi Budaya
Nama wilayah merupakan warisan budaya yang bernilai historis. Pemulihan ejaan bunyi asli memberikan legitimasi dan penghormatan terhadap kearifan lokal masyarakat Kaili.
Pendidikan Bahasa Daerah
Generasi muda yang mempelajari bahasa Kaili akan lebih mudah memahami fonetik asli apabila nomenklatur di lingkungan mereka konsisten dengan sistem aksara yang benar.
Tabel di atas memperlihatkan bahwa hampir semua kata yang diawali dengan Watu- atau Wawo- merupakan hasil adaptasi kolonial Belanda yang keliru dalam merepresentasikan bunyi V.
Untuk melaksanakan pemulihan nomenklatur, beberapa langkah dapat dipertimbangkan:
Kajian Akademik: Universitas, lembaga bahasa, dan pemerhati budaya perlu melakukan penelitian sistematis mengenai fonetik nama-nama wilayah Kaili.
Kebijakan Pemerintah Daerah: Hasil kajian dapat dijadikan dasar bagi pemerintah daerah dalam penetapan revisi ejaan resmi pada dokumen dan papan nama wilayah.
Sosialisasi Masyarakat: Perlu dilakukan kampanye edukasi agar masyarakat memahami alasan perubahan dari W ke V, sehingga penerapan tidak menimbulkan kebingungan.
Dokumentasi Digital: Pemetaan digital dan arsip online mengenai nomenklatur asli dapat menjadi rujukan luas bagi generasi mendatang.
Aksara bahasa Kaili memiliki sistem fonetik yang khas dengan adanya konsonan pranasal (mB, nD, nG, nJ, nT). Adapun aksara tertentu seperti F, Q, W, X, dan Z tidak dikenal dalam bahasa ini, sehingga kemunculannya dapat menjadi indikator kata serapan atau pengaruh bahasa asing. Kekeliruan umum terjadi dalam penulisan bunyi V yang diganti menjadi W, dipengaruhi oleh fonetik bahasa Belanda.
Kekeliruan ini tidak hanya merusak keaslian bahasa, tetapi juga berpengaruh pada penamaan wilayah di Tanah Kaili. Oleh karena itu, perlu ada langkah akademis, kultural, dan kebijakan resmi untuk mengembalikan nomenklatur wilayah pada bunyi aslinya. Dengan demikian, bahasa Kaili dapat dilestarikan secara otentik, konsisten, dan ilmiah sebagai warisan budaya yang berharga bagi masyarakat Sulawesi Tengah.
*) Penulis adalah Pelaku Seni dan Pensiunan ASN
Apa Reaksimu?
