Biar Ayam Nggak Stres, Kementan Ajak Peternak Beralih ke Kandang Bebas Sangkar

Kementerian Pertanian (Kementan) lagi gencar-gencarnya mengajak para peternak ayam petelur untuk pindah haluan. Dari yang tadinya pakai kandang baterai (sempit), sekarang didorong pakai sistem bebas sangkar atau cage-free.

Sep 5, 2026 - 16:42
Biar Ayam Nggak Stres, Kementan Ajak Peternak Beralih ke Kandang Bebas Sangkar
(Kiri-kanan) Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si, Co-Founder & Direktur Program Advokasi Kesejahteraan Satwa Terternak Elly Mangunsong, Pemilik PT. Inti Prima Satwa Sejahtera Roby Gandawijaya, Ketua Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Niti Emilia, dan Direktur pelaksana AFFA Arie Utami dalam acara Beyond the Cage di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (5/9/2026)

JAKARTA, METROSULAWESI.NET - Kementerian Pertanian (Kementan) lagi gencar-gencarnya mengajak para peternak ayam petelur untuk pindah haluan. Dari yang tadinya pakai kandang baterai (sempit), sekarang didorong pakai sistem bebas sangkar atau cage-free. Tujuannya mulia banget: demi kesejahteraan si ayam dan keamanan pangan kita semua.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan, I Ketut Wirata, mewanti-wanti soal bahaya resistensi antimikroba alias kebal antibiotik. Masalah ini sering muncul kalau peternakan terlalu padat dan menggunakan antibiotik secara berlebihan.

"Resistensi antimikroba itu hal yang sangat ditakutkan. Bahkan ada kajian yang bilang kalau ini tidak diantisipasi dari sekarang, bisa jadi momok yang sangat menakutkan di tahun 2050 nanti," kata Ketut di acara Beyond the Cage yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu.

Kalau dibayangkan, ayam yang tinggal di kandang baterai konvensional itu kasihan banget. Ruang geraknya cuma sekitar 450 sentimeter persegi—alias lebih kecil dari selembar kertas A4! Efeknya, ayam nggak bisa mengepakkan sayap, bertengger, mandi debu, apalagi bersarang.

Nggak cuma bikin ayam stres, riset dari European Food Safety Authority (EFSA) tahun 2019 juga membuktikan kalau telur dari kandang baterai punya risiko 25 persen lebih tinggi terkena bakteri Salmonella dibanding sistem bebas sangkar.

Makanya, Kementan ingin prinsip "Lima Kebebasan Hewan" benar-benar diterapkan. Mulai dari bebas lapar, haus, sakit, stres, sampai bebas mengekspresikan perilaku alaminya.

Gerakan ini sebenarnya sudah mulai jalan di beberapa daerah seperti Jawa Barat dan Bali. Pemerintah bahkan sudah mengeluarkan payung hukum lewat Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025. Jadi buat peternak yang mau belajar, sekarang sudah ada training center-nya di Yogyakarta.

Salah satu peternak yang sudah menerapkan sistem ini adalah Roby Gandawijaya dari PT Inti Prima Satwa Sejahtera. Roby mengakui kalau harga telur cage-free memang sekitar 30 persen lebih mahal dibanding telur biasa.

Kenapa bisa lebih mahal? Soalnya sistem ini butuh lahan yang lebih luas dan produktivitas telurnya agak lebih rendah. Tapi, biaya produksi yang tinggi itu sebanding dengan kualitasnya. Peternak cage-free hampir sama sekali nggak pakai antibiotik kimia untuk menjaga kesehatan ayam.

"Hampir tidak ada (antibiotik). Kami menjauhkan penggunaan antibiotik dan memilih bahan alami seperti kunyit dan jamu-jamuan untuk menunjang kesehatan ayam," jelas Roby. Bagi konsumen, selisih harga ini tentu sepadan dengan pilihan gaya hidup yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

Kampanye kebaikan untuk ayam ini disuarakan lewat gerakan Beyond the Cage oleh Act For Farmed Animals (AFFA). Sejak 2019 lalu, mereka sudah berhasil meyakinkan 15 perusahaan besar untuk berkomitmen menggunakan telur bebas sangkar.

Buat kamu yang penasaran dan pengin tahu lebih banyak soal gerakan ini, datang saja ke pamerannya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Acara ini berlangsung dari tanggal 5 sampai 7 September 2026 dan masuknya gratis tis! (*)

 

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow