Dishut Catat Karhutla Sulteng Tembus 3.138 Hektare
Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Sulawesi Tengah nemperketat kesiapsiagaan seluruh unit kerja dalam menangani ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian marak.
PALU, METROSULAWESI.NET - Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Sulawesi Tengah nemperketat kesiapsiagaan seluruh unit kerja dalam menangani ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian marak.
Kepala Dishut Provinsi Sulawesi Tengah, Susanto Wibowo, menginstruksikan seluruh Kesatuan Pengelolaan Hutan di wilayahnya agar berada pada status siaga penuh guna mengantisipasi potensi karhutla yang dinilai cukup tinggi pada tahun ini.
Berdasarkan data akumulasi aplikasi Sipongi milik Kementerian Kehutanan periode Januari hingga Agustus 2026, Dishut mencatat luas karhutlah di Sulawesi Tengah telah mencapai 3.138 hektare. Angka tersebut menempatkan Sulawesi Tengah di peringkat ke-13 secara nasional.
"Jumlah titik hotspot (titik api) yang terdeteksi di wilayah Sulawesi Tengah tercatat sebanyak 1.300 titik hotspot," ungkapnya, Selasa, 8 September 2026.
Meskipun posisi tersebut membaik dibandingkan sebelumnya yang sempat menembus sepuluh besar, pemerintah daerah menolak untuk berpuas diri karena faktor cuaca ekstrem masih menjadi ancaman utama.
Sebagai langkah penanganan di lapangan, Dishut Sulawesi Tengah bekerja sama dengan tim PPI Kementerian Kehutanan melalui Manggala Agni, Polhut, penyuluh, serta Masyarakat Peduli Api.
Pembentukan Masyarakat Peduli Api telah dilakukan di seluruh unit pelaksana teknis yang terdiri dari 13 KPH dan satu Taman Hutan Raya. Seluruh personel di lapangan juga telah dibekali perlengkapan pemadaman mandiri seperti semprotan tangan, pakaian anti-api, dan sepatu boot.
Selain pengerjaan pasukan, Dinas Kehutanan mengidentifikasi lima wilayah yang menjadi titik rawan karhutla tertinggi saat ini, yaitu KPH Damplas Tinombo, KPH Sipi 47 di Ampana, KPH Sintuwu Maroso di Kabupaten Poso, KPH TP Asa Arowa di Morowali Utara, serta KPH Balantak.
Di kawasan Damplas Tinombo dan Sipi 47, tim gabungan saat ini tengah aktif melakukan pemadaman langsung pada beberapa titik api yang membakar lahan perkebunan warga serta area tanaman pinus.
Susanto menegaskan karhutla tahun ini dipicu oleh musim kemarau panjang, aktivitas pembukaan kebun dengan cara membakar, serta kelalaian pembuangan puntung rokok di area vegetasi kering.
"Karhutla juga sebagian masuk ke lahan produktif perkebunan milik masyarakat," ujar dia.
Untuk mendukung operasional penanganan karhutla hingga berakhirnya fenomena el nino, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah siap menggelontorkan dana darurat yang disalurkan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) selaku ketua satuan tugas penanganan bencana.
"Pemprov siap menggelontorkan dana untuk kegiatan karhutla yang nantinya melalui BPBD sebagai ketua satgasnya," pungkas Susanto.
Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim
Apa Reaksimu?

