Gubernur Jabar Imbau Pekerja Pindah Daerah, Sikapi PHK Garmen Cimahi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 178 buruh PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi dengan mengimbau para pekerja untuk mau berpindah daerah
BANDUNG, METROSULAWESI.NET- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 178 buruh PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi dengan mengimbau para pekerja untuk mau berpindah daerah menyusul pergeseran peta kawasan industri padat karya di Jawa Barat.
Mantan Bupati Purwakarta itu menilai industri garmen memiliki karakter unik yang bersifat tidak permanen layaknya industri padat modal lainnya, sehingga cenderung merelokasi pabriknya ketika biaya produksi dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di daerah lama tak lagi kompetitif.
"Garmen itu selalu problem. Sektornya biasanya padat karya. Perusahaan-perusahaan padat karya memang secara umum begitu (mudah berpindah)," ujar Dedi Mulyadi di Cimahi, Selasa.
Dedi memaparkan, pergerakan pabrik padat karya yang telah mencapai titik impas (break-even point/BEP) ke wilayah dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah merupakan siklus alami yang jamak terjadi di sektor industri garmen.
"Kalau dia sudah break-even point, kemudian ada tempat lain yang tenaga kerjanya lebih murah, biasanya pindah. Itu sudah terjadi di mana-mana. Jadi, mereka tidak membuat perusahaan ini permanen seperti industri padat modal. Kalau memang ada industri padat karya sektor garmen, ya harus berhati-hati bahwa dalam siklus sekian puluh tahun, dia pasti menutup," kata Dedi.
Meski demikian, Dedi menegaskan bahwa ketersediaan lapangan kerja di sektor garmen dan alas kaki di Jawa Barat sejatinya masih sangat melimpah, namun posisinya kini telah bergeser dari kawasan industri lama seperti Bandung, Karawang, Purwakarta, dan Bandung Barat menuju daerah pertumbuhan baru.
Guna menyiasati kondisi tersebut, ia mendorong para pekerja yang ingin bertahan di industri tekstil dan alas kaki agar fleksibel serta berani bergeser ke kabupaten penerima investasi baru seperti Indramayu, Garut, dan Majalengka.
"Lapangan kerja baru juga banyak hari ini. Banyak sekali lapangan kerja terbuka di Jawa Barat. Hari ini industri-industri mulai tumbuh, kawasan industri mulai tumbuh. Rekrutmen untuk sektor sepatu, seperti di Indramayu, itu sangat banyak. Di Garut banyak, di Majalengka banyak. Memang daerahnya bergeser," ujarnya.
Oleh karena itu, Dedi mengimbau para pekerja terdampak untuk memanfaatkan peluang kerja skala besar yang tengah dibuka di kawasan sentra anyar tersebut.
"Mau tidak mau, yang bekerja di sektor garmen, kalau mau tetap bekerja di sektor itu, harus bergeser tempat ke kabupaten lain. Banyak. Di Majalengka, Indramayu, itu banyak. Indramayu membutuhkan puluhan ribu tenaga kerja untuk sektor industri sepatu, alas kaki, dan garmen," ucap Dedi.
Pernyataan tersebut disampaikan Dedi Mulyadi merespons pertanyaan terkait unggahan viral di media sosial yang memperlihatkan duka serta tangis haru para pekerja usai menghentikan operasional pabrik. Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja Kota Cimahi, sebanyak 178 pekerja resmi terdampak penghentian produksi perusahaan garmen PT Namnam Fashion Industries tersebut. (ant)
Apa Reaksimu?

