Tekan Stunting, DP2KB Sulteng Gencar Salurkan Makanan Bergizi

Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Provinsi Sulawesi Tengah terus mempercepat upaya menekan persoalan stunting. Salah satu langkah krusial yang gencar dilakukan yaitu penyaluran bantuan bahan makanan bergizi dan bernutrisi tinggi, seperti telur dan susu, yang ditujukan langsung kepada sasaran intervensi di daerah ini.

Agustus 14, 2026 - 09:30
Tekan Stunting, DP2KB Sulteng Gencar Salurkan Makanan Bergizi
Sekretaris Dinas P2KB Sulteng Dr Budi Lamaka.(Foto: METROSULAWESI/ Michael Simanjuntak)

PALU, METROSULAWESI.NET - Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Provinsi Sulawesi Tengah terus mempercepat upaya menekan persoalan stunting. Salah satu langkah krusial yang gencar dilakukan yaitu penyaluran bantuan bahan makanan bergizi dan bernutrisi tinggi, seperti telur dan susu, yang ditujukan langsung kepada sasaran intervensi di daerah ini.

Sekretaris Dinas P2KB Sulteng, Budi Lamaka, menegaskan asupan asupan protein tinggi memegang peranan vital dalam pembentukan fisik dan perkembangan kecerdasan anak sejak dini.

"Ketika anak mengonsumsi makanan kaya nutrisi seperti telur, manfaatnya bekerja ganda (two in one). Nutrisi tersebut lari ke pembentukan sel-sel otak dan susunan tulang. Protein tinggi seperti albumin menjadi 'perekat' yang membentuk pertumbuhan tulang optimal sehingga anak tumbuh tinggi dan memiliki kecerdasan yang baik," ujar Budi di Palu, Rabu, 12 Agustus 2026.

Ia menekankan pentingnya pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dikenal sebagai periode emas (golden age). Periode ini dihitung sejak 280 hari masa kandungan (sekitar 9 bulan) ditambah 720 hari pada dua tahun pertama kehidupan anak.

"1.000 hari pertama ini adalah masa krusial. Jika masalah stunting tidak kita intervensi dan perhatikan serius dari sekarang, dampaknya baru terlihat 20 hingga 30 tahun ke depan. Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kita akan tertinggal dibanding daerah lain," tambahnya.

Dalam penanganan stunting, Budi menjelaskan terdapat dua bentuk pendekatan utama, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik berfokus langsung pada asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh sasaran. Sementara intervensi sensitif mencakup faktor pendukung lingkungan, seperti penyediaan air bersih, sanitasi, dan perbaikan jamban yang melibatkan dinas teknis seperti Dinas PU.

Budi juga menambahkan bahwa DP2KB Sulteng beroperasi sebagai sekretariat yang bertugas memfasilitasi dan mengoordinasikan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

"Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di tingkat provinsi dipegang langsung oleh Ibu Wakil Gubernur, sedangkan di tingkat pusat dipimpin oleh Wakil Presiden. Kami di sekretariat memfasilitasi seluruh OPD agar langkah intervensi berjalan padu," terangnya.

Meskipun dihadapkan pada keterbatasan anggaran, DP2KB Sulteng terus menyasar daerah-daerah prioritas dengan prevalensi stunting yang memerlukan penanganan, di antaranya Kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Sigi, Banggai Laut (Balut), hingga Kota Palu.

Reporter: Michael Simanjuntak 
Editor: Udin Salim

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow