Sulteng Proyeksikan Pendapatan Perubahan KUA-PPAS Rp4,8 Triliun

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) memproyeksikan pendapatan daerah dalam Rancangan Perubahan Kebijakan Umum APBD (P-KUA) serta Perubahan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (P-PPAS) Tahun Anggaran 2026 senilai Rp4,88 triliun.

Agustus 4, 2026 - 22:10
Sulteng Proyeksikan Pendapatan Perubahan KUA-PPAS Rp4,8 Triliun
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A Lamadjido. ANTARA/HO-Humas Pemkot Palu

PALU, METROSULAWESI.NET - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) memproyeksikan pendapatan daerah dalam Rancangan Perubahan Kebijakan Umum APBD (P-KUA) serta Perubahan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (P-PPAS) Tahun Anggaran 2026 senilai Rp4,88 triliun.

"Penyusunan perubahan KUA dan PPAS juga mengacu pada hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Program 9 Berani, terutama pada sektor Berani Cerdas dan Berani Sehat, sehingga alokasi anggaran benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik," kata Wakil Gubernur Sulteng Reny A Lamadjido di Palu, Selasa.

Dia menjelaskan dalam rancangan perubahan KUA-PPAS Tahun Anggaran 2026, pendapatan daerah diproyeksikan meningkat menjadi Rp4,88 triliun atau bertambah sekitar Rp58,9 miliar dibandingkan proyeksi sebelumnya. Sementara itu, belanja daerah mengalami penyesuaian menjadi Rp4,9 triliun turun Rp21,2 miliar dari target awal.

Dengan kondisi tersebut lanjut dia, terdapat defisit anggaran sebesar Rp22,6 miliar yang akan ditutup melalui penerimaan pembiayaan dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya sebesar Rp72,6 miliar.

"Penyusunan dan pelaksanaan perubahan APBD hanya dapat berjalan dengan baik melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah dan DPRD," ujarnya.

Selain itu, wagub menyatakan perekonomian Sulteng pada triwulan I 2026 tumbuh 8,32 persen (year-on-year). Angka tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen, sekaligus menempatkan Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia.

Menurutnya, capaian tersebut didorong oleh kuatnya sektor industri pengolahan, terutama melalui program hilirisasi nikel di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara. Hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat aktivitas pertambangan, mendorong sektor konstruksi, serta menggerakkan perdagangan dan berbagai sektor pendukung lainnya.

"Sulawesi Tengah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional melalui pertumbuhan ekonomi yang impresif dan peningkatan ekspor. Capaian ini menjadi modal penting dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi daerah tahun 2026 yang ditetapkan pada kisaran 8,3 hingga 11 persen," jelasnya.

Lanjut dia, pertumbuhan ekonomi tersebut juga mulai memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah, tingkat kemiskinan pada September 2025 tercatat 10,52 persen atau sekitar 345,38 ribu jiwa, turun 0,40 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya, atau berkurang sekitar 12,95 ribu orang. (ant)

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow