Kisah Fakel, Siswa SNT Donggala yang Rela Tempuh 18 KM Demi Kejar Mimpi Jadi Pengusaha
Memiliki impian besar menjadi seorang pengusaha sukses membuat Fakel, seorang siswa Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) Donggala, menunjukkan tekad yang kuat. Anak yatim dari pasangan almarhum Amsar dan Aspiati ini rela menempuh perjalanan pulang-pergi dari rumahnya di Desa Loli Pesua menuju Kelurahan Gunung Bale, Kecamatan Banawa, demi menuntut ilmu.
DONGGALA, METROSULAWESI.NET - Memiliki impian besar menjadi seorang pengusaha sukses membuat Fakel, seorang siswa Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) Donggala, menunjukkan tekad yang kuat. Anak yatim dari pasangan almarhum Amsar dan Aspiati ini rela menempuh perjalanan pulang-pergi dari rumahnya di Desa Loli Pesua menuju Kelurahan Gunung Bale, Kecamatan Banawa, demi menuntut ilmu.
Anak kedua dari empat bersaudara ini telah kehilangan sang ayah sejak dirinya masih berusia empat tahun. Meski tumbuh dalam keterbatasan, semangat belajarnya tidak surut.
Awalnya, Fakel terdaftar sebagai siswa di SMA Negeri 1 Banawa. Namun, di tengah jalan, ia memantapkan hatinya untuk pindah ke SNT, sebuah sekolah dengan sistem pembelajaran modern. Saat ini, gedung SNT masih menumpang di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Banawa sambil menunggu proses pembangunan gedung mandiri di Dusun Lapaloang, Kelurahan Ganti.
“Bapak saya meninggal sejak saya masih usia empat tahun. Sekarang saya tinggal bersama mama dan tiga saudara. Saya memilih pindah ke SNT kelas X atas kemauan sendiri, tanpa ada paksaan,” ujar Fakel saat ditemui di sekolah, Selasa (1/9/2026).
Fakel menceritakan bahwa metode pembelajaran di SNT sangat berbeda dengan sekolahnya yang lama. Pola belajar di sekolah baru ini dirasa jauh lebih interaktif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Kami masuk sekolah hari Senin sampai Jumat. Di SNT, siswa tidak dilarang membawa ponsel. Sistemnya lebih banyak praktik dan hampir tidak ada lagi metode mencatat pelajaran di buku. Selain itu, para pengajar juga menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar,” ungkapnya.
Jarak sekitar 18 kilometer dari kediamannya di Loli Pesua menuju sekolah tidak menjadi penghalang bagi Fakel. Meskipun pihak SNT sebenarnya menyediakan fasilitas bus antar-jemput gratis bagi para siswa, Fakel memilih untuk mengendarai sepeda motor sendiri. Hal itu ia lakukan demi membantu saudaranya.
“SNT sebenarnya menyediakan bus antar-jemput yang sangat membantu siswa agar tidak kesulitan ke sekolah. Namun, saya memilih bawa motor sendiri karena harus membonceng sepupu saya yang bersekolah di SMA Negeri 1 Banawa,” tuturnya secara polos.
Melalui pendidikan modern yang kini ditempuhnya di SNT, Fakel menaruh harapan besar agar cita-citanya menjadi seorang pebisnis dapat terwujud di masa depan. Di tingkat SMA, SNT saat ini memiliki dua kelas (kelas A dan B) dengan masing-masing kelas diisi oleh 20 siswa.
Reporter: Saiful Sulayapi
Editor: Udin Salim
Apa Reaksimu?

