Solusi dari Marginalisasi Tenaga Kerja di Daerah Tambang Nikel Sulteng

Oleh Moh Ahlis Djirimu*

Des 7, 2025 - 17:41
Des 10, 2025 - 20:52
 0
Solusi dari Marginalisasi Tenaga Kerja di Daerah Tambang Nikel Sulteng
Moh Ahlis Djirimu

Ada tiga kutukan sumberdaya di daerah pertambangan yakni kutukan sumberdaya alam (resource curse), kutukan tenaga kerja (labour curse) dan kutukan lingkungan (environmental curse). Satu dari kutukan tersebut adalah marginalisasi tenaga kerja di saat penanaman modal asing massif menguyur Sulteng. Satu dari berbagai Solusi Pembangunan di Sulteng adalah investasi. Pada periode 2022-2024, realisasi investasi meningkat dari Rp111,18,- triliun pada 2022 menjadi Rp139,88,- triliun pada 2024 atau meningkat 12,17 persen.

 Di Tahun 2025, Pemerintah Provinsi Sulteng menargetkan investasi sebesar Rp162,57,- triliun yang, sedangkan realisasinya hingga November 2025 mencapai Rp97,61,- triliun. Investasi tersebut berdampak pada penyerapan Tenaga Kerja. Penyerapan Tenaga Kerja meningkat dari 40.959 jiwa pada 2022 menjadi 50.773 jiwa pada 2024 atau meningkat 11,34 persen.

Di Tahun 2025, serapan Tenaga Kerja atas terbukanya lapangan kerja tersebut mencapai 22.329 jiwa. Namun demikian, terbukanya lapangan kerja tersebut patut dimaknai bahwa investasi berada pada sektor padat modal pada Kawasan Industri yakni PT. Indonesia Morowali Industrial Park (PT. IMIP), PT. Wanxian Nickle Industries, PT. Transon Bumindo Resource, serta terakhir pada PT. Indonesia Huabao Industrial Park (PT. IHIP). Tentu saja Kawasan Industri Padat Modal membutuhkan Tenaga Kerja berketrampilan tinggi, sehingga lulusan sarjana baru atau fresh graduate wajib mengikuti program ketrampilan di Balai Latihan Kerja (BLK) industri.

Di Morowali, serapan tenaga kerja lokal hanya mencapai 18 persen, sebaliknya 82 persen merupakan pekerja migran berasal dari luar daerah. Sulteng saat ini, masih menghadapi masalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yakni sebesar 49,70 ribu orang atau proporsinya 2,92 persen dari jumlah penduduk Sulteng dengan persentase pengangguran tertinggi berada di Kota Palu yakni 5,59 persen dan Kabupaten Banggai laut mencapai 3,69 persen di posisi kedua. Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka di Morowali mencapai 2.84 persen, 3,11 persen di Kabupaten Banggai, serta 2,38 persen di Morowali Utara. TPT di Morowali tidak berubah dari Tahun 2023. Sedangkan TPT di Banggai berkurang 0,01 persen, sebaliknya, TPT Morowali Utara justru mengalami kenaikan 2,23 persen pada Tahun 2023 menjadi 2,38 persen pada 2024 atau naik 0,15 persen. Tingkat pengangguran terbuka laki-laki mencapai 2,69 persen lebih sedikit dibandingkan tingkat pengangguran terbuka Perempuan mencapai 3,29 persen.

Pengangguran di Sulteng didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menjadi ironi karena SMK disiapkan sebagai lifeskill memasuki lapangan kerja mencapai 5,48 persen. Sedangkan Tingkat pengangguran terbuka tertinggi kedua adalah lulusan Diploma IV, lulusan S1, S2, S3 mencapai 4,11 persen.

Studi Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) menunjukkan bahwa distribusi kebutuhan tenaga kerja di wilayah pertambangan adalah sebanyak 57,7 persen lulusan sarjana, 14,9 persen adalah SMA, 14,60 persen merupakan lulusan diploma dan 127 persen tidak dijelaskan. Data lowongan pekerjaan menunjukkan bahwa Kawasan Industri berbasis logal dasar membutuhkan tenaga berketrampilan tinggi seperti Tehnik Pertambangan 20,93 persen, Tehnik Geologi 12,56 persen, Tehnik Sipil sebanyak 7,03 persen, Tehnik Kimia sebesar 6,44 persen, Tehnik Lingkungan sebanyak 6,37 persen, Tehnik Mesin sebanyak 5,10 persen, Tehnik Industri sebesar 4,48 persen, Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebanyak 3,17 persen, Tehnik Metalurgi sebanyak 2,66 persen, serta Tehnik Elektro sebanyak 2,33 persen.

Hingga periode Tahun 2022 sampai dengan September 2025, terdapat 5 besar sektor yang mempunyai realisasi akumulasi investasi dan penyerapan tenaga kerja. Pertama, industri Logam Dasar, Barang Logam Bukan Mesin dan Peralatan dengan realisasi invetasi mencapai Rp330,35,- triliun dan penyerapan tenaga kerja mencapai 90.408 orang yang satu di antaranya adalah PT. Fajar Metal Industry.

Kedua, Industri Kimia dan Farmasi dengan realisasi investasi mencapai Rp73,89,- triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 8.948 orang yang satu di antaranya adalah PT. Kinxiang New Energy Technologies Indonesia.

Ketiga, Sektor Pertambangan yang realisasi investasi mencapai Rp19,31,- triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 13.263 orang yang satu di antaranya adalah PT. Vale Indonesia.

Keempat, Sektor Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran yakni PT. IMIP yang realisasi investasi mencapai Rp11,22,- triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 5.017 orang, serta Kelima, Sektor Listrik, Gas dan Air Minum yang realisasi investasi mencapai Rp7,09,- triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 2.803 orang yang didominasi oleh PT. PLN (Persero). Namun, penyerapan tenaga kerja tersebut berbagi masing-masing separuh berasal dari Sulteng dan separuh dari luar Sulteng.

Data di atas memberikan implikasi kebijakan pada kita bahwa gaung hilirisasi tetap akan didominasi oleh pekerja migran hingga Tingkat Pendidikan pekerja lokal Morowali dan Morowali Utara dapat ditingkatkan secara cepat. Harmonisasi kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah patut dilakukan dengan cara:  Pertama, penyelarasan Pendidikan vokasi-industri yakni penyelarasan SMK-BLK dengan kompetensi di Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengalahan.

Kedua, melakukan pelatihan berbasis kompetensi dengan co-funding industri dan pemerintah. Ketiga, Penguatan Formalitas dan Standarisasi kerja dengan cara menjamin upah layak, K3, dan kontrak kerja jelas. Keempat, meluncurkan kebijakan afirmasi lokal dengan memprioritaskan penyerapan di smelter dan manufaktur hilir. Kelima, melakukan transfer teknologi dan skema penyerapan lulusan lokal dengan cara menfasilitasi SDM lokal menguasai teknologi dan mengisi posisi strategis. Keenam, melakukan Tata Kelola migrasi tenaga kerja untuk menghindari gesekan seperti yang pernah terjadi.

-- Guru Besar Bidang Ekonomi Internasional FEB-Untad

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow