Amarah Rakyat, Musibah dan Peringatan bagi Bangsa

Oleh: Mohsen Hasan A, Direktur Studi Islam & Ilmu Filsafat Jakarta-Pemerhati Sosial, Politik, Budaya & Isu Global- Pemersatu Keummatan.

Agustus 31, 2025 - 16:37
 0
Amarah Rakyat, Musibah dan Peringatan bagi Bangsa
Dr.Mohsen Hasan Alhinduan,Lc.MA

GELOMBANG demonstrasi yang terjadi berturut-turut belakangan ini memasuki fase yang mengkhawatirkan. Dari aksi turun ke jalan yang semula dimaksudkan untuk menyampaikan aspirasi, berubah menjadi perusakan fasilitas umum, pembakaran, bahkan penjarahan rumah sebagian anggota DPR. Peristiwa ini adalah musibah besar bagi bangsa, sebab ia bukan sekadar kerusakan material, melainkan tanda dari emosi rakyat yang meledak tanpa kendali.

Dalam demokrasi, protes adalah hak rakyat yang dijamin konstitusi. Namun ketika protes berubah menjadi anarki, itu pertanda ada yang salah dalam relasi antara rakyat dengan penguasa.

Ledakan Emosi: Tindakan anarkis lahir dari rasa frustrasi dan kekecewaan yang menumpuk. Rakyat merasa suara mereka tidak pernah didengar, sehingga jalanan menjadi ruang pelampiasan.

Titik Bahaya Demokrasi: Hilangnya kepercayaan terhadap mekanisme formal membuat rakyat memilih jalur destruktif. Ini adalah sinyal bahaya bagi DPR/MPR/DPD/DPRD, eksekutif, maupun yudikatif.


Musibah sebagai Alarm: Kehancuran fasilitas umum dan rumah pejabat adalah simbol bahwa legitimasi politik dan moral negara sedang diuji. Bila alarm ini diabaikan, kepercayaan publik bisa runtuh lebih dalam.

Kemarahan rakyat harus dipahami bukan sekadar sebagai ancaman, tetapi sebagai cermin peringatan:

Bagi legislatif (DPR/MPR/DPD/DPRD): berhenti menjadikan gedung rakyat sebagai panggung narsisme. Rakyat tidak butuh joget-joget di tengah penderitaan, mereka butuh suara mereka diperjuangkan.

Bagi yudikatif: hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Keadilan harus ditegakkan secara substantif.

Bagi eksekutif: rakyat menunggu kebijakan nyata, bukan sekadar retorika politik. Kehadiran negara harus dirasakan langsung.

Bagi tokoh agama: jangan terjebak dalam politik praktis. Kembali pada fungsi moral, menjadi penyejuk hati, penengah, dan pengarah etika publik.

Dalam psikologi Islam, amarah (ghadlab) adalah fitrah manusia. Tetapi bila dibiarkan lepas, ia akan melahirkan kerusakan. Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Bukanlah kuat itu dengan banyaknya bergulat. Akan tetapi kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari-Muslim).

Kemarahan rakyat yang tidak terkendali, yang berujung pada perusakan dan penjarahan, adalah bukti rapuhnya pengendalian diri. Di sisi lain, perilaku arogan dan ucapan yang menyakiti hati rakyat dari sebagian elite adalah bukti kelalaian dalam menjaga amanah.

Allah SWT berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah  memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30).

Ayat ini mengajarkan bahwa musibah kolektif adalah akibat kelalaian bersama: rakyat yang tak mampu menahan emosi, dan elite yang lalai menjaga hati rakyat.

Meski pahit, musibah ini menyimpan hikmah:

Bagi rakyat: Protes damai lebih kuat dan lebih berdaya guna daripada anarki. Fasilitas yang dibakar pada akhirnya merugikan rakyat sendiri.

Bagi pemimpin: Amarah rakyat adalah cermin kelalaian dalam komunikasi, empati, dan kebijakan.

Bagi bangsa: Kita perlu kembali menegakkan budaya musyawarah, bukan budaya provokasi. Demokrasi harus diselamatkan dengan ruang dialog yang sehat.

Musibah ini seharusnya menjadi titik balik, bukan sekadar catatan sejarah kelam. Ada langkah-langkah konkret yang perlu dijalankan:

Menata ucapan: elit harus sadar bahwa kata-kata mereka adalah cermin empati. Arogansi ucapan hanya menambah luka.

Menegakkan keadilan: yudikatif harus benar-benar berani menghukum tanpa pandang bulu.

Membumikan kebijakan: eksekutif perlu menghadirkan solusi nyata yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat.

Mendidik akhlak publik: tokoh agama dan masyarakat sipil harus mengingatkan pentingnya sabar, syukur, dan cara menyampaikan aspirasi yang damai.

Gelombang demonstrasi yang berujung anarki adalah musibah besar, tetapi juga peringatan Ilahi agar bangsa ini mengaca diri. Kita semua harus belajar: rakyat belajar menahan amarah, pemimpin belajar merendahkan diri, dan bangsa ini belajar menegakkan kembali akhlak dan keadilan.

Jika hikmah ini mampu ditangkap, maka musibah hari ini bisa menjadi momentum perubahan menuju bangsa yang lebih adil, empati, dan bermartabat. Namun jika diabaikan, maka kita hanya menunggu giliran krisis yang lebih besar di masa depan.

Jakarta : 31 Agustus 2025

Apa Reaksimu?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow